Gerson Poyk Sakit, Siapa Yang Peduli ?

suluhnusa.com – Mungkin saja wajahnya telah menua, sama seperti waktu yang memagut usia, jika sampai demikian, jangan palingkan wajah lalu mengejek, sebab nista abadi akan menjadi bumerang di tiap tapak jejak, dia membalas dengan gelegar terpanjang yang pernah ada, camkan itu…

Catatan kalimat ini adalah gambaran hati seorang Fanny Jonathan Poyk, anak sastrawan Kawaka nasal NTT, Gerson Poyk. betapa tidak melihat kondisi ayahnya yang sedang berjuang melawan kebocoran Jantung, Fanny merasa semua mereka yang pernah bersama sama dengan Gerson Poyk mengejek. Lalu berpaling muka. Bahkan soal royalty dari beberapa karya Sang Maestro pun hilang. Menguap. Hingga Fanny harus rela menjual rumahnya demi membiayai pengobatan ayahnya, Gerson Poyk. Aaahhh..Siapa Peduli ?

Trenyu memang. Seorang Gerson Poyk tergolek tanpa daya. Tidak ada orang yang peduli. Gerson berjuang sendiri tanpa lawatan teman sejawat dan sahabat karib apalagi pejabat. Pun demikian dengan pejabat NTT. Tidak pernah mau tau. Cuek. Siapa itu Gerson Poyk ?

Berikut tulisan Fanny Jonathan yang dengan Judul Tentang Bapak,:

Sekarang Bapak saya Gerson Poyk sakit, tapi ia masih menanyakan teman-temannya yang sakit, termasuk Bang Hamzad, meminta jika honornya dibayar diberikan ke padanya.

Kadang saya heran, sejak kecil saya tahu Bapak begitu, saat ia masih menjadi redaktur budaya di koran Sinar Harapan (1965-70), ia memiliki gaji cukup besar dan menjadi donatur tetap untuk kawan-kawannya yang bergabung di Seniman Senen, ia memberikan sebagian gajinya pada mereka, lalu membawa sebagian gajinya pulang, dengan enteng ia bilang pada ibu saya, “Gampang, nanti cari lagi, nanti malam saya nulis!” dan seperti biasa terjadi perang di antara mereka, ibu saya tidak terima karena ia sudah mengkalkulasikan dengan anak empat, gaji Bapak cukup untuk makan sampai akhir bulan. dan begitulah yang selalu terjadi, setiap akhir bulan mereka berkelahi.

Tapi Bapak saya tetap saja begitu, ia kadang memberikan jatah beras bulanannya ke teman seniman yang belum makan. Bahkan televisi hitam putih satu-satunya milik kami diberikan ke temannya, hadeh…

Suatu hari, cerita Bapak, ada seorang sastrawan terkenal yang sekarang sudah kaya dan memiliki komunitas terkenal serta koran, datang ke rumah, menurut Bapak ia seharian belum makan, lalu Bapak mengajaknya ke asrama putri yang terletak di Menteng, jakarta Pusat.

Di situ Bapak mengeluarkan daya pikatnya, setelah ngobrol, sang gadis mengajak Bapak dan temannya itu makan di dapur umum, kata Bapak, “Kami berdua terselamatkan dari rasa lapar dan harga diri kami pulih kembali” Sang teman dijak ke rumah, tidur di ruang tamu kontrakan kami, ketika pagi, Ibu saya kesal, lalu memberinya seliter beras dan menyuruhnya pergi. Kenangan itu menurut Bapak mungkin membuatnya kesal dan dendam. Tapi Ibu memang sudah menumpuk kesalnya pada Bapak saya yang selalu membawa ‘seniman pengangguran’ ke rumah dan memberinya makan juga uang.

Ibu saya yang realistis, sesungguhnya tak suka ayah saya menjadi seniman, yang menurutnya selalu ‘kere’ aha…

sekarang Bapak sakit, sebulan lalu saya masih ingat ia memperoleh uang royalti buku dari sebuah penerbit yang lumayan besarnya, ia tak mau menceritakan hal itu pada saya, sebab saya yang memposisikan diri sebagai managernya harus menyimpan uang-uang itu untuk masa depannya, termasuk makannya sehari-hari, agar kalau ia sakit dan tak ada makanan, maka kami tak perlu ‘mengemis-ngemis’ atau minta bantuan sana-ke mari, terlebih lagi ia tak punya pensiun sama sekali. Di usianya yang ke 85 memang sudah seharusnya ia berhati-hati dengan hal itu.

Ketika penyakit jantung dan paru2nya kembali kambuh, semua dana royalti buku sudah menguap entah kemana.Saat saya tanya, Bapak Bilang, “Ada Nak, sisa dua puluh ribu!” hayaaa….kepala saya langsung tuing-tuing, saya mencari jalan agar mendapat uang untuk berobat ke RS swasta, sebab BPJSnya sudah sekitar 8 bulan dibayar.

Saya tak mau mengorek dan mencari tahu ke mana uang royalti buku itu menguap, yang pasti sifat Bapak yang dulu, menjadi dermawan tanpa pikir panjang, masih tetap ada. Dan situasi kembali seperti semula, setiap hari sampai lima kali ia menelpon saya, menyatakan dirinya lapar dll, padahal anak Bapak ada lima, saya hanya berpikir ke mana yang lainnya?

Begitulah mungkin yang menjadi kisah dari anak-anak seniman di negara ini. Sang ayah yang punya nama besar, dipuja sana-sini, punya karya-karya monumental, memeroleh penghargaan hebat, kerap membantu teman-temannya yang kesulitan, kala sakit dan terpuruk ia kembali sendiri. Semua teman yang tahu ia sakit, menunjukkan rasa simpati dan doa-doa yang mereka larungkan untuk sang sastrawan. Tapi apakah hanya itu yang ia butuhkan? Kita, bahkan negara tak pernah tahu di kala mereka sakit, teronggok di rumah sakit, tak bisa menulis lagi, mereka hanya bisa diam dan pasrah, mereka hanya berharap pada anak, keluarga yang lintang-pukang mencari dana agar nyawa mereka tetap bercokol di raga.

Dan memang begitulah yang kerap terjadi. Absurditas di kehidupan seniman di negara ini bagai drama satu babak yang tak ada kelanjutannya, setelah mereka tiada, hanya upacara seremonial semu yang dilakukan. Saat mereka tiada, baru koran2 memberitakan, pemerintah terkejut, lalu diadakan beragam acara untuk mengenang dan membacakan puisi atau monolog di beragam pentas sastra.

Apakah ada gunanya bagi sang sastrawan? Ia sudah mati dan tidak tahu semua itu. Euforia untuk mengenangnya tak ada guna, sebab kala mereka sakit, mereka hanya mengeluh dalam diam, bantuan yang sesekali datang memang ada gunanya, namun tak selamanya bantuan itu akan diberikan, sebab orang-orang yang membantunya memiliki urusan pribadi dan kebutuhan hidup masing-masing.

Maka, untuk seniman Indonesia, mungkin yang terbaik adalah mati dalam tidur, sebab ia tidak merasakan ketika sakit melanda, dan tak perlu mengeluarkan dana yang besar untuk berobat. Saya pun ingin demikian, jadi tidak menyusahkan orang lain, termasuk keluarga. Tinggal Ia saja yang maha menentukan segalanya, mau mati model apa…salam kreatif.

(disadur ulang oleh Sandro Wangak dari catatan Fanny Jonathan Poyk)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *