Sapu itu Menyapu, Kumpulkan Rupiah

suluhnusa.com_Stanis Ola Hekin, lelaki separuh baya kelahiran Lamatou, desa Painapang, kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur (46 tahun), membawa warna baru bagi kaum muda masyarakat Flores Timur khususnya.

Stanis demikian Ia sering disapa, perna merantau di Pulau Kalimantan dan bekerja pada sebuah perusahaan kayu ternama di daerah pedalaman Kalimantan yang bergerak pada pembuatan tripleks.

Ketika kenyang dengan pengalaman kerjanya, Stanis lalu pulang ke tanah kelahirannya di Desa Painapang hanya karena ingin mengembangkan keahliannya dalam bidang yang ditekuninya selama 10 tahun.

Namun apa yang terjadi. Ketika berhadapan dengan situasi yang serba kekurangan, Stanis malah dalam kebingungan. Keahliannya sebagai seorang instruktur ketika masih bekerja di Kalimantan harus pupus bersama impiannya.

Awal Tahun 2008, Stanis mencoba keberuntungan, dengan berbekal Rp. 100.000, dan sumber alam yang terdapat di kampungnya seperti; daun kelapa (yang di ambil lidinya), kayu Kukung, sabut kelapa, Stanis membuat sapu dengan jumlah yang tidak banyak agar ia bisa menjual.

“Yah… Di pagi hari Memikul sapu, berjalan kaki, memasarkanya dari pasar ke pasar, dari kios ke kios, dari rumah kerumah, dan bahkan dari desa ke desa, pulang ketika matahari terbenam  dan melanjutkan rutinitasnya sebagai pengrajin sapu pada malam hari,” cerita Stanis.

Namun sekarang ini, Stanis telah bekerja sama dengan pemilik toko, kios, dan bahkan menjadikan langganannya untuk membantu menjual sapu. Tak ada yang mustahil, sapunya banyak yang terjual. Karena itu Stanis, harus bekerja lebih keras lagi untuk memenuhi kebutuhan pembeli, membuat jenis sapu sesuai dengan keinginan pesanan.

Lanjut Stanis, ada beberapa jenis sapu yang digemari oleh pembeli biasanya; sapu lidi biasa, digunakan untuk membersihkan halaman ( seharga Rp. 5.000 per sapu ) sapu lidi dengan tongkat yang sedang, juga digunakan untuk menyapu halaman ( Rp. 15.000/ sapu), sapu lidi dengan tongkat yang sangat panjang, digunakan untuk membersihkan langit langit rumah dan sapu ijuk yang terbuat dari sabut kelapa, digunakan untuk membersihkan lantai ( Rp. 30.000 per sapu).

Bahkan, lidi yang di potong ujungnya pun dapat digunakan untuk membuat sapu ijuk. Menurutnya, dari beberapa jenis sapu yang ia buat, sapu ijuk dari sabut kelapa lah yang memiliki tingkat kerumitan yang lebih tinggi, serta proses pembuatan yang memakan waktu yang cukup lama. Mulai dari, merendam sabut kelapa, menumbuk, dan mengambil seratnya untuk di jadikan sapu ijuk, sampai pada proses finishingnya.

Menurutnya, demi menjaga kualitas, harus membuatnya sendiri walau hanya mengandalkan peralatan manual. Karena membutuhkan jumlah yang banyak, maka Stanis rela menyewa beberapa tenaga membantunya untuk pengadaan, Seperti kayu kukung, lidi, dan sabut kelapa.

Lanjutnya, sapu yang biasa dibuatnya mampu bertahan paling lama tiga sampai empat tahun, jika di bandingkan sapu hasil dari buatan pabrik.

Karena kualitas sapunya, pengrajin sapu, yang memiliki seorang istri Yanti Tukan (45 tahun), dan empat orang anak, kini setiap hari kebanjiran pesanan, bahkan sampai di luar daerah yaitu Kota Kupang. Stanis bangga, karena sapunya mampu terjual hingga 100 buah sapu perharinya.

Keuletannya, pengrajin sapu ini mampu menafkahi keluarga, serta membiaya pendidikan anak anaknya. Stanis tak merasa tanggung, ketika anak pertamanya harus memasuki perguruan tinggi di kota Kupang tahun 2016 ini.

Idealisme Stanis, menjadi tuan atas dirinya sendiri, sambil melirik sebuah ayat dari kitab suci, Idealis ini muncul karena, ia mampu dan telah melewati tantangan, tantangan tak seperti seorang karyawan ketika masih berada di Kalimantan yakni harus memenuhi kemauan dan target perusahaan, dan tantangan malu.

“Malu dengan anak, malu dengan masyarakat,” tandasnya.

Sebuah pesan di lontarkannya kepada kaum muda, khususnya kaum muda Flores Timur, kaum muda hendaknya menjadi seorang yang kreatif, inovator, dan tegar ketika menghadapi tantangan. Jangan malu ketika menggeluti sebuah pekerjaan yang kotor. Karena sesungguhnya kita tidak ingin menjadi seorang budak. (Jemmy Paun)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *