suluhnusa.com_Sarifah Fatimah Bere (56) wanita kelahiran Bajawa Ngada 01 September 1959 itu tidak menyangka kalau kini dirinya bisa dinyatakan sukses oleh warga sekitranya seperti sekarang ini.
Ditemui suluhnusa.com di kediamannya RT 31/ RW 13 Kelurahan Sikumana Kecamatan Maulafa Kota Kupang pekan lalu wanita empat anak itu mengatakan, saat ini dirinya bersama suami bisa kuliahkan empat anaknya serta membeli kebutuhan mewah lainya atas usaha bisnis emping jagung Timor.
Sejak 11 tahun yang lalu Fatimah bersama sang suami Solo Abdurahman menekuni usaha emping jagung ini awalnya hanya sekedar mencoba, karena banyak produk jagung petani NTT khususnya di Pulau Timor di beberapa tempat lebih banyak digunakan untuk pakan ternak dan sisanya untuk konsumsi petani itu sendiri. Hal ini secara praktik ekonomi tidak berdampak besar bagi kehidupan petani.
“Awalnya saya bersama suami memulai hanya sekedar mencoba karena banyak produksi jagung petani di daerah Pulau Tomor,” jelas Fatima.
Bisnis emping jagung “Kelimutu” olahan tangan Fatima kini merambah sebagian besar pasar di Kota Kupang. Ia mengawali bisnis ini dari modal awal Rp. 10 juta yang dipinjam dari Kopdit Harmoni Kupang pada tahun 2015 sebagai anggota. Dari awal modalnya tersebut kini aset “Emping Jagung Kelimutu” Kupang kini nilainya mencapai ratusan juta rupiah.
Fatimah menjelaskan, satu tahun terakhir produksinya mulai meningkat dari sebelumnya 10 -20 kg sekali produksi, kini menjadi 100kg jagung sekali produksi.
Hal ini setelah usahanya mendapat bantuan dari Fakultas Teknik Negeri Di Kupang NTT awal 2014 lalu, dengan bantuan satu unit ketel uap lengkap dengan jaringan atau pipa uap serta empat unit meja tempat penjemuran atau pengering emping hasil olahan.
Termasuk bantuan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTT tiga unit dandang masak ukuran 50kg sehingga membuatnya lebih cepat serta higenis dalam ushanya itu.
Ia juga menceritakan awal proses emping dimulai dari jagung yang telah dibeli dari pengecer (pedagang) jagung di cuci. Selanjutnya direbus dengan cara penguapan pada panci ukuran besar tidak dengan cara rebus langsung di panas api, tetapi menggunakan uap.
“Setelah jagung dikukus atau dilakukan penguapan proses selanjutnya digiling kemudian proses penjemuran selama satu hari dengan diberi bumbu sesuai selera ditambah irisan bawang. Setelah proses penjemuran didiamkan selama dua minggu kemudian digoreng pada minyak panas setelah itu barulah dilakukan pengepakan,”kata Fatimah.
Selain jagung dari Pulau Timor, Fatimah juga banyak mendatangkan atau membeli jagung dari Sulawesi Selatan, karena menurutnya jagung dari luar NTT tidak mengenal musim dan hasilnya tetap stabil dibandingkan dengan jagung lokal yang harganya berkisar Rp 5000 sampai 7000 per kilogram. Namun sampai saat ini Fatimah masih membeli jagung dari luar NTT dengan harga Rp 4500 per kilogram.
Dalam menjalankan bisnisnya ini Fatimah hanya dibantu oleh dua orang anak termasuk empat orang tenaga kerja yang diupah berdasarkan hasil pekerjaan.
Sehingga menurut wanita empat cucu tersebut, pentingnya berkoperasi banyak mendatangkan banyak manfaat tidak hanya diri, keluarga dan orang lain tetapi juga secara langsung telah membantu pemerintah turut menghidupkan perekonomian di daerah katanya.
“Menurut saya menjadi anggota koperasi itu sangat bermanfaat untuk ekonomi keluarga dan orang lain, karena terbukti hasil usaha saya ini bisa membuka lapangan kerja untuk orang lain,” tandas Fatimah.
Ia mengharapkan agar anggota rekan seanggota koperasi untuk memanfaatkan kesempatan pinjaman koperasi untuk kepentingan produktif dan bukan untuk konsumtif.
Dan bagi warga masyarakat yang belum mendaftar menjadi anggota koperasi, supaya segera bergabung menjadi anggota koperasi sesuai dengan pilihan.(goris Takene)
