Komodo, Hanya Dalam Status

suluhnusa.com_Taman Nasional Komodo dan binatang penghuninya sudah ditetapkan sebagai new7wonder. Penetapan ini disambut bangga oleh semua lapisan masyarakat. Sayangnya, ini hanya sebuah status yang tidak berdampak apapun. Termasuk kegiatan Sail Komodo yang baru saja berlangsung.

Lantunan lagu Meriam belina, ‘Aku Masih Seperti yang Dulu’ cocok untuk menggambarkan persoalan ini.

Tersontak kita semua merasa bangga, dengan  kegiatan yang bersifat monumental dan fenomenal itu. Sail Komodo. Akan tetapi untuk apa dengan kegiatan yang bersifat sementara dan menghambur-hamburkan uang rakyat yang begitu banyak. Alangkah baiknya digunakan untuk pembangunan yang lebih besifat mendasar seperti pembagunan infrasutrukur, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain yang lebih di bermanfaat buat rakyat Labuan Bajo-Manggarai Barat dan sekitarnya dan provinsi NTT.

Adanya kepercayaan yang berlebihan baik pemerintah daerah kabupaten pulau morotai maupun pemerintah provinsi  maluku utara seperti apa yang kemukakan di atas bahwa dengan di laksanakan Sail Komodo akan mendatangkan infestasi daerah berupa pemasukan daerah lewat penjualan jasa parawisata, namun ironi klaim yang sungguh berlebihan tersebut tidak di rencanakan secara matang dan terkesan tidak serius.  

Percaya atau tidak fakta memberitahukan bahwa dengan masuknya Komodo sebagai salah satu keajaiban dunia, banyak orang berpikir bahwa Manggarai Barat sudah siap menerima gelar internasional itu dari binatang varanus komodo. Dan Sail Komodo 2014 yang baru lewat membawa dampak panjang bagi Labuan Bajoi dan NTT. Ternyata tidak Padahal anggapan tersebut sangatlah jauh dengan kondisi ril di Manggarai Barat.

Masalah kebersihan, Air minum dan kesehatan dan infrastruktur menjadi factor sesungguhnya Manggarai Barat belum siap menerima gelar itu. Tidak hanya masyarakat yang mengeluh soal beberapa persoalan diatas. Bupati dan jajaranya pun  mengeluh hal yang sama.

 Namun Pemda setempat tetap optimis dan tetap berjuang untuk menyukseskan program mereka, yakni Pariwisata sebagai leading sector pembangunan di Manggarai Barat. Apa bisa.?

 Sebab, penyelenggaraan Sail Komodo 2013 yang berlangsung dua pekan di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, pada akhir Agustus hingga pertengahan September lalu, sungguh tidak berdampak pada kemajuan daerah itu. Naifnya, berbagai proyek pembangunan yang dilakukan, tetapi belum selesai, bakal telantar sejalan dengan berakhirnya Sail Komodo. Sementara seluruh kegiatan tersebut sudah menghabiskan Rp 3,6.

Simpang siur dan menjadi tidak jelas. Abdul Ipur, Lurah Labuan Bajo, mengaku kecewa karena, program bedah rumah untuk rakyat tidak pernah dilakukan walau sudah digemba-gemborkan. ”Saya tidak pernah menerima pemberitahuan terkait program tersebut, dan saya belum melihat adanya rumah rakyat yang sudah dibedah sebagaimana dilaporkan. Warga juga tidak tahu,” ujarnya. Informasi saat itu, Lokasi bedah rumah disebutkan antara lain berada di Kampung Ujung, Kelurahan Labuan Bajo.

”Realisasinya di lapangan mengecewakan karena tidak sesuai atau jauh dari standar yang ditetapkan, seperti harus membuat lantai rumah yang dibedah, ada jendelanya, dan memiliki WC. Pelaksanaannya terbengkalai,” katanya.

Terkait pembangunan sarana air bersih, oun bernasib sama. Apes memang. Selepas peserta sail kembali berlayar, airpun ikut berlayar pergi. Sesaat setelah selesainya Sail Komodo, air tidak lagi mengalir ke hotel dan perkantoran itu. Sepertinya air pun ikut berlayar bersama berlalunya Sail Komodo. Dan Labuan Bajo kembali krisis air bersih. Sungguh terlalu.

Sorotan juga tertuju pada kelanjutan proyek pembangunan yang belum selesai setelah Sail Komodo berakhir. Misalnya, pembangunan Bandara Komodo, sarana air bersih, dan pembangunan rumah sakit bertaraf internasional.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Nusa Tenggara Timur Andre Koreh, di Kupang, justru menilai berbeda. Selesainya acara Sail Komodo dinilai memberikan dampak cukup signifikan bagi masyarakat Manggarai Barat.

Andre menyebutkan, sebanyak 1.200 unit rumah yang dibedah juga pembangunan ruas jalan sepanjang 21 kilometer serta perbaikan dermaga, pembersihan got, trotoar, dan perluasan Bandara Komodo. Sayangnya, Andre tidak merinci di dilokasi mana saja 1.200 unit rumah warga yang sudah dibedah tersebut.

Sementara itu, Sipri Rambu pelaku Pariwisata dan Produser Pink Beach Group kepada suluhnusa.com di Labuan Bajo, Selasa, 4 Desember 2013 mengungkapkan, pembangunan pariwisata di Manggarai Barat haruslah bermuara pada pengembangan ekonomi rakyat.

Ekonomi rakyat dalam konsep ekonomi kraetif yang dicanangkan pada tahun 2009 itu adalah sebuah konsep yang lahir setelah kita mengalami kegagalan ekonomi. Kita menolak ekonomi kapitalistik karena model ekonomi kapitalistik hanya memberikan kemamkuran kepada segelintir orang atau anggota masyarakat saja yakni para kapitalis (konglomerat) dan melantarkan rakyat banyak.

Sipri A Rambu
Sipri A Rambu

“Hal ini sepertinya sudah ada di Manggarai Barat. Pemerintah semestinya hati-hati dalam mengambil tindakan, terutama proses penerbitan izin,” Ungkap Sipri.

Karena industri pariwisata sebagai industri kreatif yang mesti melibatkan rakyat, maka pembangunannya haruslah memerhatikan beberapa aspek. Sebut saja, pertama pariwisata Manggarai Barat tidak hanya bertumpuh pada Komodo. Kedua, Pariwisata berbasis budaya. Banyak tarian adapt yang bisa dipromosikan, misalnya Caci, Tarian Ndundu Ndake dan Congka Sae.

Soal pariwisata budaya menurut Sipri, kebudayaan bukanlah sekedar pakaian yang setiap kali diganti dan berubah. Dan pemerintah jangan hanya bangga dengan Komodo tetapi bagaimana kegiatan pariwisata lain juga mesti dipromosikan, bila ingin masyarakat Labuan Bajo menjadi lebih baik. Sebab, komodo adalah bagian kecil jutaan potensi pariwisata yang ada di Manggarai Barat.

Sebagai benrtuk kepeduliannya terhadap pariwisata Manggarai Barat Sipri Rambu melalui lagu berjudul Congka Sae, mampu merubah pola pikir masyarakat tentang dunia pariwisata.

Dalam beberapa syair lagu, Rambu mengajak seluruh masyarakat di tanah Varanus Komodo itu untuk sama-sama menjaga kelestarian alam. Selain itu beliau juga mengajak lewat syairnya agar masyarakat tidak boleh terprovokasi dengan masalah politik untuk membangun sector pariwisata di Mabar. Dirinya berpesan agar rakyat Mabar sehati sesuara membangun pariwisata di Mabar sebagai aset yang unik dan termahal ketimbang daerah lainnya.

Dia menuturkan bahwa arti lagu tersebut menggambarkan suasana persahabatan dan persaudaraan dalam semangat yang berkobar untuk membangun Manggarai Raya. Yang paling unik dari video klip lagu-lagu tersebut yakni mempromosikan tempat-tempat wisata di Manggarai Barat, baik yang sudah dikenal maupun yang belum. Dia berjanji bahwa lagu lagu tersebut akan berpengaruh besar terhadap kemajuan pariwisata di Mabar.

Untuk membangun pariwisata yang baik adalah pariwisata yang melibatkan masyarakat sebagai subyek pariwisata, bukan sebagai obyek pariwisata. Pariwisata tidak akan kreatif bila tidak berdampak langsung kepada masyarakat. Bukan pariwisata seperti Sail Komodo yang datang dan pergi sama saja. Komodo hanyalah sebuah status new7wonder dan sail komodo, tidak membawa perubahan apapun bagi rakyat. (Richard Kandy)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *