Suara Orang Kampung Pun Diperhitungkan

“Yaaa… sekarang kita mau bagaimana lagi, jika dia jadi dihukum mati?”

“Itulah yang sedang kita pikirkan.” Ajak Mauk kepada temannya, Berek yang sedang gelisah. Semenjak kabar itu menyeruak ke mana-mana, Mauk bersama Berek hampir setiap hari tidak bersemangat dalam bekerja.

Malam hari pun tidak beristirahat dengan baik. Bahkan sebagai aksi protesnya, keduanya nekad dihisap nyamuk.

Tubuhnya yang sudah kering keriput disusul wajah bopeng beraspal, keduanya masih mau menyiksa diri. Aneh! Hanya orang aneh sajalah yang sempat berpikir dan nekad bertingkah bodoh.

Bukan hanya bodoh, tetapi telah melampauai kebodohan itu sendiri. Itulah sebaris kepedulian yang ditunjukkan keduanya kepada saudarinya yang dalam hitungan denyut nadi, akan divonis mati. Baginya, dengan cara seperti itu dapat menarik simpati yang lebih luas lagi bahkan melampauai kawat internasional.

                                                             ******

“Berek, apa yang akan kita lakukan untuk dapat membebaskannya dari jeratan hukuman mati di sana?”

“Tak tahu. Kalau kamu?”

“Aku sedang berpikir keras.”

“Berpikir keras bagaimana.”

“Yaaaa…mudah-mudahan saja ada campur tangan dari pihak asing. Dalam hal ini dunia barat.”

“Maksudnya?”

“Ya, artinya dunia barat mendesak PBB agar dapat menghentikan vonis hukuman itu. Mungkin dengan cara seperti itu, pasti ada solusinya.”

“Baik juga usulanmu itu. Tapi…,”

“Tapi apa Berek?”

“Syukurlah kalau suara orang kampung dapat didengar dan bahkan sampai terdengar ke dunia barat sana. Dan juga sampai ke telinga PBB.”

“Yaaaaaaaaaaa. Kita lihat saja. Terkadang suara orang kampung itu dianggap kampungan. Sehingga tidak perlu didengar. Kalau pun didengar, itu hanya taktik saja bahwa mereka dapat mendengar dengan sangat baik.”

“Tidak boleh kita berdua berpikiran negatif. Karena dengan berpikiran negatif, kita berdua malah menyudutkannya di sana. Dia di sana sedang berharap pertolongan dari kita.”

“Iya, benar juga. Lalu, sebagai orang kampung apa yang akan kita lakukan?”

“Ada ide.”

“Ide apa itu?”

                                                           ******

Sambil mendengar suara penyiar lewat radio, keduanya didatangi tamu. Dalam sejarah hidupnya, baru kali ini keduanya didatangi tamu. Tamu ini juga merupakan orang baru. Orang asing menurut pandangannya. Keduanya terbingung-bingung, ketika tamu itu semakin mendekatinya.

“Malam.”

“Iya, malam juga.”

“Apa yang bisa kami bantu?” buka Berek lewat bibirnya yang sedang mengunyah sirih pinang sebelum menjulurkan tangannya untuk bersalaman dengan tamu. Sementara Mauk tetap ditempat sambil terus mendengar suara penyiar menyapa pendengar. Mauk belum mau bersalaman dengan tamunya. Berek asyik dalam bertukar pikiran. Dengan menggunakan bahasa Indonesia yang setengah-setengah, Berek pun tetap percaya diri. Baginya, itu bukan masalah. Dan menariknya, tamu yang berdiri di depannya itu terbawa dalam suasananya. Mauk kelihatan bahagia dengan siraman lagu lewat radio kesayangannya.

“Mauk!  Da…tan dulu kah.” teriak Berek dengan logat Bunak-nya yang sangat kental.

“Hai…sabar dulu kah.”

“Kau da…tan dulu. Ini orang mau bicara.”

“Ho. Kau bicara dengan dia kah.”

“Mauk! Da…tan dulu. Da…tan dulu kah.” Teriaknya dengan tensi amarah yang perlahan mulai naik. Kambing domba dan babi pun ikut terbangun. Kebetulan, posisi mereka tidak terlalu jauh dari kandang. Sehingga wajarlah jika kambing domba dan babi ikut dibangunkan oleh teriakannya yang telah memecah dan menembus ke angkasa.

“Huuu! Kau dengan dia mau bicara apa. Bicara sudah.” Ucap Mauk sambil bersalaman dengan tamunya itu.

“Begini. Berek dan Mauk. Aku datang ke mari, untuk menyampaikan sesuatu.”

“Sampaikan saja. Apa itu!”

“Mau tidak, kita lakukan aksi demo.”

“Kami mau. Tapi demo yang bagaimana.” Tanya keduanya serempak.

“Kita akan menggalang demo. Kita minta semua orang kampung di sini untuk turun ke kota.” Ajaknya bersemangat.

                                               ******

Menjelang subuh, semua orang kampung telah berkumpul. Rumah-rumah mereka terkunci. Tekad orang kampung cuman satu, yakni saudarinya, anaknya, temannya, cucunya, ponaannya harus dibebaskan. Jika tidak, terjadi pertumpahan darah.

“Baik. Kita semua telah berkumpul di sini. Di sana sudah ada truck dump terbuka, yang akan membawa kita ke lokasi demo. Anak-anak dibawa serta.” Ucap Mauk.

“Siap! Kami siap berdemo. Kami siap membuka semua pakaian demi membebaskan dia yang sedang dihukum mati.” Ancam mereka serempak.

“Ingat!  Dalam berdemo nanti, tidak boleh ada yang telanjang. Tidak boleh ada yang membuka pakaiannya.” Tegas Mauk, sambil menyuruh mereka menaiki truck dump. Perlahan senja menyinari perjalanan mereka.

                                                  ******

“Heiiiiiii, kami orang kampung menuntut pembebasan saudari kami yang mau dihukum mati. Bebaskan dia.” Teriak orator lapangan dengan pengeras suaranya, ketika tiba di lokasi.

“Bebaskan dia. Bebaskan dia.” Teriak pendemo serempak.

“Heiiiiiiiiiii, kalian bandit-bandit yang tengah berdiri di situ, bebaskan dia. Kalian jangan berpura-pura diam. Itu kesalahan kalian. Bukan kesalahan dia. Apa yang mau kalian perbuat sekarang?” Tanya pendemo serempak.

“Jika kalian tidak mengindahkan aspirasi kami, kami akan…” potong orator.

“Kami akan apa?” Tanya seorang bandit di antara mereka, yang tengah melihat, mendengar dan menonton pendemo.

“Kami akan telanjang di sini. Dan kami akan mengejar kalian dalam keadaan telanjang.” Teriak pendemo dengan amarah. Panas mentari semakin mengunyah ubun-ubun pendemo. Anak-anak mulai kepanasan. Perempuan-perempuan kampung saling membisikan kode, agar bersiap membuka pakaian sebagai aksi protes. Orator terus berteriak. Bandit-bandit tak menggubrisnya. Pendemo semakin naik pitam. Persis mentari melewati sedikit ubun-ubun pendemo, berarti aksi telanjang pun dilakukan. Itu sudah harga mati. Semua mata tertuju ke atas, melihat mentari. Orator kembali membakar pendemo.

“Lakukan apa yang akan kalian lakukan.” Ajak orator lewat pengeras suara. Dalam hitungan detik, semua pendemo telah melucuti pakaiannya. Semua telah telanjang. Sebagian bandit-bandit itu telah kabur. Yang lainnya masih berdiri. Pendemo yang sudah dalam keadaan telanjang dan sudah dinaiki setan, berhamburan menuju bandit-bandit. Mereka pecah dalam kejar-mengejar. Toko-toko yang sedang padat dengan pembelinya, tiba-tiba mendadak ditutup. Kendaraan roda dua dan empat pun terparkir di bibir aspal.

                                                ******

 “Karena kalian telah mempermalukan negeri ini dengan aksi telanjang, maka vonis hukuman mati tetap dijatuhkan.” Tegas pengambil keputusan yang ditayangkan lewat layar kaca. Semua mata pendemo tertuju pada layar kaca yang diapit kaca bening tersebut.

“Lihatlah! Dia sudah dihukum mati. Dia sudah mati.” Ucap pengambil keputusan dengan nada ketegasan. Pendemo yang merasa tidak dihargai aspirasinya, kembali membuat anarkis dengan membakar semua rumah yang berada di kota itu. Seketika, kota itu berubah menjadi lautan api. Tubuh-tubuh telanjang telah diliputi tensi amarah tingkat tinggi. Biar pun berton-ton psikiater diturunkan, tetap tidak bisa dikendalikan.

“Haiiiiiii…, saudari, anak, ponaan, cucu, teman kalian tidak dihukum mati. Tadi itu hanya gertakan saja. Tadi itu hanya ancaman saja. Aku hanya bermain gila saja.” Buka penyesalan dari bibir pengambil keputusan.

“Kau salah orang. Kau salah ancam kami. Siapa suruh kau mau bermain gila dengan kami. Kau tahu kan, kami kumpulan orang-orang gila. Jika kami diganggu kegilaannya, maka kami tetap berbuat. Apa yang sudah kami ucapkan, tidak bisa ditarik pulang. Supaya kau tahu, marahnya kami orang kampung seperti ini. Kau sudah lihat???” Teriak pendemo lewat tayangan layar kaca. *****

 

Atambua,  Januari 2014.

Felixianus Ali.

Menukis aktif di suluhnusa.com.

Kontributor Mingguan HIDUP. Koordinator Pelayanan Advokasi  untuk Keadilan dan Perdamaian (PADMA) Indonesia Provinsi NTT.

Keterwakilan Komnas HAM RI  Provinsi NTT (Belu). Bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora. 

Penulis buku 1.700 Kata-Kata Bijak dari A sampai Z (Agustus, 2012). Penulis buku Antologi Puisi Sastrawan NTT (Agustus, 2013). 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *