Belis

Pesawat yang kutumpangi mendarat mulus di bandar udara El Tari, Kupang, NTT. Terik matahari yang menaungi bandara, bagai sinar lampu neon dengan ribuan watt. Suasana riuh pengunjung yang menjemput saudara, rekan kerja atau kekasih, bergaung memenuhi hampir tiap sudut ruang di bandara. Para lelaki dengan wajah khas NTT, perempuan yang berambut lurus dan keriting, anak-anak berkulit hitam, coklat dan kuning langsat, semuanya berbicara dengan logat yang sama, cepat, terpotong-potong, intonasi meninggi dan ekspresif. Di luar sana, dominasi pohon-pohon lontar mulai terlihat. Nyiurnya yang kaku berusaha sekuat tenaga meliuk ke kiri dan ke kanan sesuai tiupan angin di siang itu.

“Maaf, apakah Ibu yang bernama Julia?” tegur seorang laki-laki bertubuh sedang dengan rambut keriting dan kulit sawo matang.

“Yulius Boeki?”

“Iya betul Ibu. Beta utusan Pak Jara. Beta yang disuruh menjemput Ibu.” 

Yulius segera mengambil barang bawaanku. “Berapa lama ko Ibu di Kupang?” tanyanya.

“Tiga hari.”

“Eeee…karnapa begitu cepat? Ibu kan asli Rote, so pernah injak Rote?” 

Aku menggeleng.

“Alam Rote sangat indah, terutama pantai Nembrala. Di sana turis-turis dari mancanegara berdatangan untuk melakukan surfing. Konon, pantai Nembrala memiliki ombak yang cocok untuk para surfer. Ibu Rote apa, ko?” 

“Mama Rote Bilba, Papa Rote Ti.”

“Ibu harus ke Rote. Nanti kalau mau beta antar.”

Kubiarkan Yulius terus ‘berkicau’. Sepanjang jalan perhatianku terpaku pada jejeran pohon lontar dan batu-batu karang yang hampir menyita sebagian tanah yang ada. Batu-batu karang itu penuh dengan alang-alang, tumbuhan-tumbuhan lain memang ada, namun keberadaannya tergeser oleh pohon-pohon lontar yang berdiri kokoh di atas tanah berkarang itu.

“Apakah di Rote ada sawah?” tanyaku.

“Ada, tapi tidak seluas di Jawa.”

Aku manggut-manggut, mencoba menyimak dengan baik ucapan lelaki bertubuh gempal ini. Ia terus berceloteh tentang Rote. Namun aku belum tergugah untuk berkunjung ke sana. Pikiranku kini tertuju pada Fay. Hm…lelaki bernama lengkap Frederik Messakh itu, apakah masih mengingatku? Hampir dua puluh tahun lebih aku tidak melihatnya, seperti apa sosoknya kini? Aku mengerjapkan mata, mencoba mengulas balik kenangan lama yang terus membuntutiku.
***

“Aku harus pulang Julia, Ayahku telah mendaftarkanku menjadi CPNS di kota Kupang.” ujar Fay, usai ia diwisuda.

“Kau tidak akan kembali kesini lagi?”

“Mungkin tidak. Andai pun kembali itu hanya bersifat jalan-jalan saja.”

“Kau tidak rindu padaku?” kerongkonganku tercekat. Aku hampir menitikkan air mata. Kenangan saat aku dan Fay menikmati bulan purnama di tepi Pantai Sanur, Bali, terlintas sekejap dan sempat membuat debar di dadaku. Namun selebihnya kenangan itu berwarna pekat, ya sepekat awan mendung di cakrawala.

“Tentu aku rindu padamu. Tapi sudahlah…aku harus memulai sesuatu yang baru. Tenagaku sangat dibutuhkan di sana.” Fay mencium bibirku lebih lembut. Malam itu, di temani temaramnya sinar bulan purnama, kami mengisi perpisahan dengan lonjakkan energi kasmaran yang melebihi ambang batas. Aku tertegun, aku tercekat, Fay mengusap wajahku penuh cinta. Ya aku tahu itu. Meski dia akan meninggalkanku, aku tak merasa ada yang hilang dalam diriku. Semuanya berlalu tanpa penyesalan. Aku sungguh menyintai lelaki itu.

“Terimakasih Julia…” Fay memelukku erat. Itulah pelukan sendu yang terus membayangi kemana pun aku pergi. Aku tak pernah menduga kalau kenangan itu menyisakan ‘sesuatu’ yang tak pernah diketahui Fay. Hingga kedatanganku ke Kupang, lelaki itu tak pernah mengetahuinya.
***

Pengadilan keluarga itu sangat menyakitkan. Ayah tampak berang memandang perutku yang membuncit. Ibu duduk di sudut ruang tamu dengan wajah muram. Usiaku baru menginjak sembilan belas tahun. Aku baru duduk di semester dua di sebuah universitas negeri di Denpasar. Di dalam ruangan itu ada juga Om Eben adik ayahku, dan Om Tom kakak ibuku. Sebuah eksekusi akan berlangsung dan aku duduk diam menyimpan segala sesal dan kesalahan yang kuperbuat tanpa tahu bahwa itu akan menjadi prahara besar di keluargaku. Ayah sangat malu, ibu apalagi. Keluarga telah tercoreng namanya karena ulahku.

“Kita pi cari itu laki-laki di Kupang, kita bunuh dia!” Om Eben tampak berang. “Ini penghinaan, laki-laki itu telah mencoreng martabat kita, martabat Bilba dan Ti. Dia rote apa?”

“Ti…” sahutku perlahan.

“Hah, beking malu saa…” Om Tom menimpali. “Bu, kita ke Kupang ko sonde?”

Ayah termenung. Wajahnya yang tadinya garang, kini melembut. Ia memandangku bagai melihat anak kucing yang menggigil kedinginan. Pipi dan kantung mataku yang membiru bekas tamparannya seolah menatap dirinya untuk minta dikasihani. Tubuhku memang babak belur dan sakit. Tapi lebih sakit lagi, aku merasa telah menistai martabat ayahku. Kisah cinta menggebu semalam yang membutakan mata hatiku, berdampak luas. Keluarga sepakat ke Kupang meminta pertanggungjawaban Fay. Selain itu belis lima puluh ekor kerbau, sehektar mamar dan upacara adat Rote yang lengkap juga menjadi syarat yang diajukan keluargaku.

“Kalo dong sonde mau, kita perang, ini harga diri!” Om Tom berapi-api.

Aku terperangah. Sedemikian dahsyatnyakah kisah cinta semalam yang kujalin yang tanpa kusadari akan membuahkan petaka seperti ini?

“Jangan, kita omong dulu baik-baik. Minggu depan kita ke Kupang, bertemu dengan keluarganya. Kalo dong sonde ada respon, terpaksa…”

“Perang, begitu ko, Bu?” Sinar mata Om Eben penuh nafsu perkelahian.

“Kita menerima aib ini. Biarkan anak itu tumbuh dan memakai marga kita.”

Aku terlongong, Ibu juga. Om Tom dan Om Eben mengernyitkan dahi. Mengapa ayah melemah? Itu pasti pertanyaan yang ada di benak mereka. 

“Eee…bagaimana ini Bu? Kita Bilba dan Ti yang berasal dari keturunan raja-raja, mereka so berani menghina kita na…” Om Eben gemas.

Kutahu jawabannya, setelah bayi laki-lakiku lahir, setelah keluarga Fay tak mampu memenuhi tuntutan belis yang diajukan ayahku. Ayah mengadopsi anak itu menjadi anak angkatnya, bukan cucunya. Alasan yang paling mendasar dari semua itu, anakku akan bermarga sama denganku, anak itu akan terus membawa nama marga ayahku, sebab ayah tidak mempunyai anak laki-laki. Tiga anaknya perempuan semua. Otomatis garis darah marga ayah tidak akan putus. Ini dugaanku. Dan aku merasa hampa dengan keadaan ini, karena sesungguhnya bukan ini yang kuinginkan, aku ingin Fay datang meminangku secara baik-baik, belis tokh bisa dibayar nanti setelah dia mampu. Andai pun tidak, kami bisa menikah di gereja saja, tidak melalui pernikahan adat dengan ritual yang panjang dan melelahkan, juga dengan biaya yang sangat besar. 

“Itu laki-laki hampir saja beta pelungku sampai mati. Beta masih memandang dia pung Bapa. Untuk bapa tua itu mengaku dia pung anak so buat salah. Kalau dia menantang, bisa perang kita!” Ujar Om Tom dengan nada tinggi, khas pria Kupang.

“Bagaimana sikap ayahnya?” ibu ingin tahu.

“Dia pasrah dan minta maaf atas semua perbuatan puteranya. Jangankan belis seekor kerbau, satu ekor babi atau kambing pun mereka tak punya. Mamar apa lagi, ia hanya menjadi petani penggarap dari mamar milik orang-orang kaya di kampungnya. Fay anaknya hanya pengecualiaan. Ia bisa kuliah karena anak itu benar-benar berotak cerdas. Sejak SD, SMP, SMA hingga kuliah semuanya diperoleh melalui beasiswa.” Ujar ayah.

“Beta sonde pung apa-apa, kalau Bu sekalian mau bakar ini rumah, kitong mau tinggal di mana lai?” ujar ayah Fay pasrah. “Beta pung anak memang so buat salah. Tapi beta mohon Bu jangan kasi mati dia. Dia harapan beta satu-satunya, ada tiga adiknya yang menjadi tanggungan dia nanti. Beta janji akan suruh dia bertanggungjawab atas semua yang sudah dia buat. Beta janji untuk mengabulkan belis yang Bu dan keluarga minta. Beta mohon ampun atas semua kesalahan anak Beta…”

Ayah membisu.

Perang memang tidak terjadi. Namun sejak itu aku dan Fay benar-benar terpisahkan oleh segalanya. Semua nomor Hp yang berkaitan dengannya di hapus. Ayah memintaku berjanji untuk tidak lagi mengingat atau mengubungi dalam bentuk apapun ke laki-laki yang dianggapnya pecundang itu. Dan sebagai balasan akan kesalahanku, kupatuhi semua itu tanpa paksaan atau pun tekanan. Aku diungsikan ke rumah tanteku di Negara, sekitar enam puluh kilo meter dari Denpasar. Setelah bayiku lahir, aku kembali ke rumah. Dan anak laki-lakiku diberi marga ayahku, entah apa alasannya, ayah memberinya nama sama seperti nama Fay. Beberapa tahun setelah ayahku meninggal, baru kuketahui alasan itu, ternyata ayah masih ingin agar kelak anakku tahu siapa ayahnya yang sejati. Dia ingin anak itu juga tahu garis darahnya. “Dia bukan datang begitu saja dari langit Julia, kelak bila dewasa, dia tidak dilecehkan oleh masyarakat.” Aku menitikkan air mata. 

Satu lagi yang membuatku tak hentinya berterimakasih pada ayahku, dia tidak memutuskan ikatan tali kasih antara aku dan Frederik anakku yang akrab kupanggil Fei, dia diberi kebebasan memanggilku Mama. Aku menangis tatkala kata itu diucapkan pertamakalinya dari bibirnya.

Dan aku? 

Kupatuhi segala perintah ayah. Kututup semua rongga cinta yang diulurkan beragam lelaki padaku. Kulalui perjalanan penuh liku dengan belajar dan belajar. Kuraih gelar master hingga doktor dengan keseriusan yang ngotot, aku mematikan semua pikiran duniawi yang menghantui masa mudaku. Aku bagai hidup selibat, bagai biarawati yang melupakan semua kesenangan itu. Aku menebus semua kesalahan cinta sesaat itu dengan tak mau memutar balik kenangan yang abu-abu mendekati hitam itu lagi. Kuikuti permintaan ayah untuk menjadi PNS, apapun yang ia inginkan kuturuti. Hingga akhirnya, aku tersentak, usiaku memasuki hampir memasuki kepala lima. Dan ketika ayah meninggal dunia, aku tetap menjadi anaknya yang patuh. Tak ada siapa pun yang memasuki relung hatiku. Karena, sesungguhnya di sana, di dasar hatiku yang paling curam, Fay masih mengukir kenangan. Nama itu tak pernah hilang dari ingatanku.

***

“Ibu, sudah mau sampai. Ibu menginap di mana?”

“Hotel Pantai Timor.”

“Habis ini Ibu mau pi mana ko?” 

“Saya akan ke Dinas Pendidikan, mau menyerahkan Surat Perjalanan Dinas.”

“Ibu tugas apa di sini?”

“Saya memonitor beberapa sekolah yang menerima blockgrant. “

“Blockgrant? Apa itu?”

“Program bantuan pendidikan dari pemerintah. Bantuan ini bisa digunakan untuk membuat laboratorium sekolah, pengadaan komputer, pengadaan laboratorium, sampai pengadaan jaringan internet.”

“Aiiii…Ibu bicara terlalu tinggi, beta sonde mangarti apa itu.”

Beberapa saat, Yulius berhenti berceloteh, aku gembira, rasa lelahku perlahan-lahan sirna. Sebelum meninggalkanku, dia kembali memberi saran, “Ibu, jangan lupa habis tugas, Ibu harus ke Rote. Kalau tidak, nanti Ibu manyasal…”

Aku tersenyum tipis. Rote? Dia tidak tahu nama itu menyimpan kenangan pekat buatku. Pria berbadan gempal itu, esok pukul setengah delapan pagi akan datang ke hotel untuk mengantarku ke kantor Dinas Provinsi. 

***

Melalui percakapan dengan Kepala Dinas, aku tahu Fay masih berada di kota ini. Ia belum dipindahtugaskan dan memegang jabatan penting di Dinas Pekerjaan Umum. Ingin kutanyakan bagaimana khabarnya saat ini, namun bayangan ayah menari-nari di benakku. Tidak, tidak boleh. Aku tidak boleh mencari tahu tentangnya lagi. 

“Ibu kenal Pak Frederik?” tanya Pak Jara.

Aku tergagap. “Hm…mungkin kenal. Ada apa, Pak? Apakah dia orang terkenal di sini?” 

“Ya, dia salah satu kandidat calon walikota Kupang. Namanya sedang berkibar sekarang. Saya salah seorang tim suksesnya. Nanti sore, kami akan ketemu untuk membicarakan strategi kampanye pilkada Kota Kupang. Ibu mau ikut? Jika tidak ada kegiatan, ikut saya saja sekalian jalan-jalan mengenal Kota Kupang!” ujar Kadis serius.

“Oh tidak, tidak, saya di hotel saja. Saya hendak menikmati indahnya pantai Tode Kisar dari halaman belakang hotel.”

“Aii Ibu…bagaimana bisa Ibu sendirian di hotel. Tolonglah Bu, ikut dengan kami. Lagi pula, nanti kami tidak enak dengan kantor pusat, kami disangka tidak melayani Ibu dengan baik. Tolong sekali lagi Ibu, ikutlah dengan kami, kami ingin mengenalkan Kota Kupang pada Ibu…” Pak Kadis memandangku penuh harap.

Aku bimbang, aku ragu. Dadaku berebur kencang. Antara keinginan untuk bertemu dan tidak. Ya, ada rasa takut menyelimuti diriku. Aku ingat ayah, aku ingat ibu, aku tak mau semua kenangan terungkit kembali. Aku ingin mengubur semuanya. Tapi…apakah mungkin? Ah, aku takut pada diriku sendiri.

“Ibu mau, kan? Oke nanti pukul tujuh malam kami jemput. Ibu siap-siap ya!” Pak Kadis meninggalkanku. Ketika Yulius menjemputku, hatiku masih bimbang.

***
Kota Kupang memberi warna tersendiri bagiku. Ketika kususuri pertokoan tua yang terletak di tepi pantai Tode Kisar, bayangan Fay kembali menari-nari di mataku. Aku berusaha menghapus semua bayangan itu, tapi tidak bisa. Ini pertamakalinya kudatangi kota ini, kejadian hampir dua puluh tahun yang lalu, memberikan kenangan antara pahit dan bahagia. Cinta tokh tak harus memiliki, batinku. Dan aku telah punya Fei, dia bagai pinang dibelah dua dengan ayahnya. Cukuplah dia menjadi pengganti cintaku yang hilang.

“Julia…” sebuah suara dengan nada serak dan berat memanggilku. Aku tertegun. Di antara deburan ombak, kutata irama detak jantungku yang tak beraturan. Sesosok laki-laki, tinggi, berahang kuat, berambut ikal dengan postur tubuh proposional memandangku tanpa berkedip. 

“Eee…maaf Ibu, tadi saat saya hendak menjemput Ibu, Pak Fay ada di rumah saya. Saat saya katakan bahwa saya akan menjemput tamu dari Jakarta dan saya sebutkan nama Ibu, beliau ingin ikut.” Pak Jara tampak merasa bersalah. Namun ia tidak mempertanyakan mengapa Fay memanggil namaku dengan nada suara penuh keakraban.

“Oh, tidak apa-apa. Baiklah, saya ikut jalan-jalan dengan Bapak malam ini.” Ujarku tanpa memedulikan Fay.

“Di sini banyak restoran hidangan laut yang lezat-lezat.”

“Kita makan malam di hotel Sesandu saja. Ikan bakarnya juga enak.” Fay memberi usul, suaranya yang berat bernada perintah.

Kulirik sekilas pria yang memutar balik kehidupan masa remajaku ini. Hm…ia masih seperti dulu, tampan meski ada beberepa kerutan di sudut matanya. Debur di dadaku agak sedikit reda. Aku berharap tak ada kejadian istimewa dari pertemuan ini. Ya, meski letupan cinta itu masih tersisa, aku tak mau nalar atau logikaku terhapus oleh hebatnya gelombang di laut Tode Kisar. 

Makan malam yang hambar berjalan lebih cepat dari yang kuduga. Kami lebih banyak membisu. Fay sibuk dengan deringan Hp-nya, dan pak Kadis juga berbuat hal yang sama. Mereka tampaknya sibuk mengatur strategi untuk kampanye minggu depan. Fay sangat birokrat, sikapnya berbeda jauh saat kukenal dua puluh tahun yang lalu. Ucapan demi ucapan yang keluar dari bibirnya tertata baik dan sangat sopan. Ketika kukatakan ingin segera ke hotel, Fay langsung mengajukan diri untuk mengantarku.

“Sonde apa-apa Bapa, biar beta sa yang antar Ibu Julia kembali ke hotel.” Ujarnya pada Pak Jara. 

Aku tertegun, jantungku kembali berdetak cepat, ingin menolak namun Fay telah memandu langkahku ke luar dari restoran Hotel Sesandu. Malam itu, ia mengantarku dengan mobilnya, sebuah Toyota Fortuner keluaran terbaru yang lumayan mewah untuk ukuran Kota Kupang.

“Aku senang bisa bertemu denganmu.” Katanya sopan dengan tarikan nafas teratur. “Bagaimana khabarmu?”

“Baik. Kau?”

“Yah, kau lihat, seperti inilah aku.”

Fay tidak menanyakan anaknya. Hm, aku yakin ia memang tidak tahu keberadaan anaknya sekarang. Mungkin, orangtuanya menutupi semua masalah yang dulu pernah terjadi. Mungkin juga mereka tidak mau mengganggu konsentrasi Fay dari studinya. Semua memang serba mungkin. Dan aku sesungguhnya tidak berharap banyak agar ia tahu tentangku.

“Kau hebat sekarang, anakmu sudah berapa? Isterimu asli mana?” kulirik jari jemari lelaki di sampingku ini, aku mencari sebuah ikatan berbentuk cincin di jari itu. Tapi kosong, tak ada platina atau emas yang melingkar di sana.

Fay terkekeh. “Untuk apa menanyakan itu. Kau sendiri bagaimana? Orang mana suamimu? Dan sudah berapa anakmu?”

Kerongkonganku tercekat. Dua butir air mata mengambang di pelupuk mata. Malam telah menyamarkan kesedihanku. Tidak kujawab pertanyaannya.

“Kau hebat, kudengar kau sudah jadi pejabat di Jakarta. Selain keliling Indonesia, kau juga keliling dunia, ya?”

“Siapa yang bilang?”

“Pak Jara. Dia cerita banyak tentangmu.”

“Aku biasa-biasa saja Fay. Setelah masa pensiun nanti, aku bukan siapa-siapa.”

“Oh ya, bagaimana khabar Ayahmu?”

“Dia sudah meninggal…”

“Oh, aku turut berdukacita. Dia Ayah yang hebat. Aku kagum padanya.”

“Kagum kenapa?”

“Dia melindungimu dengan baik.”

Aku terdiam. Fay mengagetkan aku tatkala ia mengajakku ke pantai Lasiana malam itu. Ketakutan menyeruak perlahan di dalam benakku. “Untuk apa malam-malam ke pantai? Aku ingin kau antar kembali ke hotel. Besok aku harus memberikan seminar sehari.”

“Aku ingin mengatakan sesuatu.”

“Katakan saja di sini!”

“Kau mau ikut denganku ke Rote lusa?”

“Dalam rangka apa?”

“Banyak hal yang harus kukenalkan padamu. Mau, kan?”

“Maaf, aku tidak bisa. Ada beberapa pekerjaan yang harus kuselesaikan. Lagi pula waktuku tinggal sehari lagi, lusa aku kembali ke Jakarta.”

“Baiklah, kutunggu jawabanmu besok, boleh kutahu no Hp-mu?”

Sejenak ada keraguan di hatiku untuk memberikannya. Aku ingat pesan ayah untuk tidak berkomunikasi melalui apa pun dengannya. 

“Boleh, kan Julia Adolfina?” tanyanya menyebut nama lengkapku.

Aku mengangguk perlahan. Kuberikan nomer Hpku padanya. Fay tersenyum, entah apa makna di balik senyumnya itu, aku tak tahu.

***

Esoknya, sore pukul enam, Fay sudah muncul di lobby hotel tempatku menginap. Tanpa menunggu persetujuanku, ia langsung mengamit lenganku. Mengajak aku makan malam di sebuah restoran di tepi pantai Lasiana. Malam itu, selain ikan bakar, ia mengajakku makan daging se’i dicampur bunga pepaya yang lezat. Percakapan yang tercipta sepanjang makan malam itu, tak ada yang istimewa. Fay tidak menanyakan Fei, aku semakin yakin ia tidak tahu dengan keberadaan putranya.

“Bagaimana, kau mau kan ikut denganku ke Rote, besok?”

Aku menggeleng. Fay yang tadinya ceria, mengantarkan aku ke hotel dengan sikap yang berbeda. Aku pun demikian, aku tak mau memperkeruh suasana dengan beragam pertanyaan. Keesokkan harinya, kuselesaikan semua pekerjaanku. Aku tidak mau memikirkan lelaki yang pernah kucinta dengan dahsyat itu. malamnya, kuhabisi kesendirianku di kamar hotel sambil mengulas balik semua kisah yang pernah terjadi. Di usiaku yang keempat puluh lima, kurasa aku telah meraih segalanya. Tapi tidak dengan kisah cintaku, kisah itu masih tetap muram.
***

“Julia!” Fay memanggilku dengan kuat saat aku turun dari taxi yang membawaku ke bandara. 

“Mengapa kau tidak menelponku kalau kau akan pulang ke Jakarta?”

“Tugasku telah selesai, Fay.”

“Paling tidak kau SMS aku, nomor Hpku kan kau tahu?” Fay membentakku. Ia tampak kesal sekali. 

“Bisa kau batalkan keberangkatanmu hari ini ? Aku ingin mengajakmu ke Rote.” Ujarnya dengan nada suara menurun namun bernada memaksa.

Aku terpana. Namun kesadaranku segera pulih. “Sepertinya tidak bisa Fay…aku…”

“Sepertinya? Itu berarti bisa. Ayo Julia, ikutlah denganku ke Rote. Ada yang ingin keperkenalkan padamu, please, aku memohon…” mata Fay yang indah menatapku penuh harap. 

Tampaknya aku tak bisa menolak. Inilah yang kutakutkan dengan diriku. Inilah yang membuatku tercerabut dari kehidupan masa remajaku. Aku tersentak ketika fery yang kunaiki telah bersandar di dermaga Pantai Baru,I kami membisu.

“Nanti kita akan dijemput Salmon, adikku. Aku sudah mengabarkan keluargaku kalau kita akan datang.”

“Kita? apa maksudmu Fay?” 

Fay memandangku. Kemudian ia memegang tanganku, mengajakku ke luar dari pintu fery. Sepanjang jalan kulihat beberapa orang Rote menggunakan topi Ti’I Langga. Para pria paruh baya itu juga mengenakan kain tenun ikat dengan corak beragam. Perempuan-perempuan memamah sirih sambil mengusung tempat minum yang terbuat dari daun lontar di atas kepala. Di sebuah warung cindera mata, mataku terpaku pada alat musik gesek yang mirip harpa kecil. Aku langsung teringat pada sebuah pentas mencari bakat yang ada di sebuah stasiun TV.

“Itu sesandu.” Ujar Fay seakan menjawab apa yang kupikirkan.

“Ya, aku pernah melihatnya di sebuah acara mencari bakat pada salah satu stasiun TV swasta.”

“Sebentar lagi kita tiba di kampungku. Kita akan mampir dulu ke saudara-saudaramu di Rote Ti dan Bilba. Aku tahu ibumu keturunan Raja Bilba. Ayahmu pun kaum terpandang di Rote Ti. Jika dulu aku melamarmu, aku tak sanggup, karena aku harus memberikan belis yang sangat besar. Sekarang, setelah 25 tahun bekerja, belis itu baru bisa kuberikan pada keluargamu.”

“Maksudmu?”

“Julia, apakah Ayahmu pernah bercerita tentang adat perkawinan suku kita?”

Aku diam. Ya, aku tahu semuanya.

“Belis itu emas kawin. Dulu aku tak punya keberanian untuk membawamu kesini. Keluargaku tidak berdarah biru, ayahku hanya buruh tani dan mamar milik orang kaya di sini. Aku tak bisa memberimu habas, langga duik, 50 ekor kerbau dan mamar. Semua itu merupakan belis yang harus kuberikan pada keluargamu jika aku meminangmu.”

“Ya, aku tahu.”

“Ya, itulah yang harus kuberikan kepadamu. Jadi, selama tiga puluh puluh tahun lebih kukumpulkan semua harta itu untuk meminangmu. Aku tahu kau belum menikah hingga sekarang, aku tahu tempatmu bekerja, aku tahu rumahmu di Jakarta, aku tahu semua aktivitasmu. Aku memantau perkembanganmu selama lebih dari dua puluh tahun. Kau adalah isteri platonikku, kau tetap kupelihara dalam angan dan mimpiku. Aku tak pernah bisa melupakanku. Itu sebabnya tak akan pernah ada perempuan lain yang bisa menggantikan posisimu. Sekarang dengan mas kawin yang telah kusiapkan, maukah kau menjadi isteriku?” Fay melamarku saat kami berada di dalam kendaraan yang membawa kami ke kampung para kerabatku. Air mataku menetes, betapa bodohnya lelaki ini, pikirku geram.

“Jadi kau tahu saat Ayahku, Om Tom dan Om Eben datang ke rumahmu?”

“Ya, tapi hanya sekilas. Ayahku tidak bercerita banyak tentang kedatangan orangtuamu. Aku di Kupang, bekerja.”

Jadi, Fay benar tak tahu tentang anaknya. 

“Kenapa? Kau tak mau menjadi isteriku?” Fay menatapku cemas.

Aku tak tahan, akhirnya tangisku meledak. “Kau…kau…hanya demi belis ini kau membuatku gamang selama tiga puluh tahun lebih Fay. Kurasa kau belum tahu semua yang terjadi padaku. Aku membuang usiaku demi sebuah harapan yang tak pasti. Kau begitu mudah meninggalkanku hanya demi alasan yang tak rasional, tak masuk akal. Kau…kau benar-benar membuatku kecewa.” Aku terus menangis.

Fay merengkuh bahuku sambil berkata, “Maafkan aku Julia. Tapi aku berusaha menjalankan apa yang sudah ditentukan dalam adat istiadat kita. aku harus mematuhi permintaan Ayahmu, melamarmu dengan semua ketentuan yang sudah disepakatinya dengan Ayahku. Aku tak bisa menentangnya. Akar kita di sana, meski perkembangan teknologi terus merambah ke depan, kita tetap tak bisa meninggalkan adat. Kau mau kan memaafkanku? Di usia tua kita ini, aku ingin mengubur semua kenangan tentang kita dulu, aku hendak membangun kenangan baru bersamamu sampai akhir hayat kita. Jadilah isteriku Julia…” Fay menggenggam jemariku.

“Kau mau, kan?”

Aku belum memberi jawaban. Hingga kendaraan yang kami tumpangi menyusuri jalan raya di tepian pantai Nembrala, aku masih membisu. Tiba di kampung Ti dan Bilba, di tengah keluarga ayah dan ibuku, kami disambut dengan kabalai; tarian berkeliling yang diramaikan dengan nyanyian dan pantun. Topi Ti’i langga yang mirip topi orang-orang Meksiko terbuat dari daun lontar dikenakan ke kepala Fay, ia terlihat kian maskulin. Selain topi, seorang pria mengenakan tenun ikat Rote di pinggang Fay. Seorang perempuan Rote juga mengenakan kain tenun ikat khas Rote Ti itu padaku. Selembar selendang bermotif sama di sampirkan ke bahuku. Mereka mengajakku menari bersama, bergabung bersama Fay dan beberapa pria serta wanita lainnya. Tifa dibunyikan, sesandu dipetik oleh muda-mudi setempat, tangan mereka yang lentik memainkan beat-beat berirama cepat yang sangat memacu adrenalin. Beberapa lelaki dan perempuan sambil menyanyi dan menari mereka berpantun dalam bahasa Rote. Fay terlihat sangat gembira. Ia terus memegang tanganku. Beberapa waktu kemudian aku tahu kalau semua kemeriahan yang terjadi sudah diatur sebelumnya oleh Fay. Dengan kerja marathon, dia memerintahkan ayahnya untuk menyiapkan acara pinangan sekaligus pernikahan kilat ini secara adat. 

Pernikahan adat diselenggarakan satu hari di rumah keluarga ayahku. Hari kedua keluarga ibuku meminta kami menginap di rumah mereka. Mereka juga membuat pesta untuk kami, beberapa ekor babi dan sapi di potong. Hampir seluruh penduduk kampung datang untuk menikmati hidangan. Hari ketiga, keluarga Fay memintaku menginap di rumahnya. Di sana aku mengenal lebih dekat seperti apa sesungguhnya kehidupan keluarga lelaki yang kini telah menjadi suamiku itu. Ayah Fay masih tetap sosok pria Rote yang sederhana dan lugu. Meski kini ia tidak lagi mengerjakan mamar orang lain, karena Fay telah membelikannya beberapa hektar mamar, ia masih suka menangkap ikan di laut, memanjat pohon nira, membuat gula merah lempeng khas Rote, membuat minuman sofi (minuman yang terbuat dari nira dan kadar alkohol hampir 60 %), juga beternak sapi dan kerbau yang semuanya telah menjadi milik sendiri. Satu hal yang masih kupertanyakan, ia tetap tidak bicara mengenai anak kami. Entah, ada perjanjian apa dia dengan ayahku sehingga selama aku di rumahnya, ia sama sekalin tidak menyinggung-nyinggung tentang anak kami.

Aku dianggap perantau yang baru pulang ke kampung halaman di desa ayahku. Sebelum upacara pernikahan diselenggarakan, aku dimandikan di mata air yang ada di tengah mamar. Mamar merupakan kebun kelapa, nangka, sukun dan tanaman lainnya yang luasnya berhektar-hektar. Keluarga ayah dan ibuku memiliki mamar yang luas hingga ke pinggiran pantai Nembrala. Fay juga memberiku mamar dan beberapa puluh ekor sapi sebagai belis (mas kawin). Di samping itu ia memberiku langga duik (tulang kepala kerbau), kerbau dan habas (kalung yang beratnya mencapai 50 gram). 

“Aku sudah memenuhi semua yang disyaratkan adat untuk melamarmu. Meski untuk itu semua aku harus mengumpulkannya selama dua puluh tahun lebih. Janjiku pada Ayahmu kutepati, Julia.” Katanya ketika seluruh mas kawin itu diserahkan ke keluarga ayahku untuk dikelola. 

“Sebenarnya bukan seperti itu mauku. Segalanya bisa disederhanakan. Maksudku, adat bisa diperluwes dengan mengikuti perkembangan jaman dan kondisi perekonomian masing-masing individu. Ayahku sebenarnya tidak menuntut harus seperti yang disyaratkan adat. Jika dulu kau datang ke keluargaku dengan menjelaskan seperti apa keadaanmu, kurasa Ayahku akan menerimamu.”

“Iya, tapi Om-Ommu itu galak-galak sekali. Menurut cerita Ayahku, mereka hampir membakar dan membunuh keluargaku. Itu sebabnya aku harus menepati janjiku. Selain itu, aku cinta padamu Julia, disuruh menunggu seabad pun aku mau…” Fay menggenggam jemariku. Ia mencium pipiku lembut.

“Kita sudah tua Fay, banyak waktu yang telah kita buang hanya karena ini semua. Melihat upacara perkawinan kita, aku jadi malu sendiri.”

“Kenapa?”

“Pengantinnya sudah tua, tidak menarik lagi.”

“Siapa bilang? Kau tetap menarik dan semakin menarik.” Fay mempererat pelukannya. 

***

Fay mengantar aku ke Bandara El Tari sore itu. 

“Jangan lupa telpon aku jika sudah tiba di bandara. Minggu depan aku datang. Kita akan selalu berdua.” 

“Tidak, kita bertiga.”

“Maksudmu?”

“Kau ingat malam purnama di tepian Pantai Sanur dulu?” 

Fay menatapku tajam. 

“Itulah yang terlepas dari pantauanmu Fay. Aku menutup kisah itu rapat-rapat. Yang tahu hanya keluargaku. Mungkin Ayahmu tahu, dia tidak mau memberitahukannya padamu. Mungkin dia telah membuat perjanjian dengan ayahku. Karena…”

“Karena apa?”

“Karena anak itu telah diadopsi Ayahku, dia diberi marga Ayahku. Dan dia tidak mau kau menuntutnya kelak.”

Air di sudut mata Fay merebak. Rahangnya menguat, emosinya tertahan. Ia mengepalkan kedua tangannya. Diraihnya kepalaku. Kami menangis bersama-sama. Fay mencium kepalaku. “Maafkan aku Julia, maafkan…”

“Tiga puluh tahun lebih aku menanggungnya. Tapi aku bahagia. Dia memberi banyak sinar terang dalam kehidupanku. Dia segalanya bagiku.”

“Dia laki-laki atau perempuan?”

“Laki-laki.”

“Di mana dia sekarang? Apakah dia bersamamu?”

“Tidak. Dia tinggal di Singapura. Anak itu sangat jenius, sejak SD dia selalu menjadi juara kelas. SMP dan SMA kerap menang di olimpiade sains. Sekarang, dia memperoleh beasiswa hingga S3 dari Nanyang Technology University. Aku bangga padanya. Kau mau tahu siapa namanya?”

Sebelum Fay menjawab, aku berkata, “Ayahku menamakan dia Frederik, kau tak marah Ayahku memberi marganya?”

Fay menggelengkan kepalanya. “Aku merasa berdosa telah menyia-nyiakanmu Julia. Aku berteirmakasih pada Ayahmu. Biarkan ia tetap memakai marga itu, karena itu haknya. Oh, aku ingin sekali melihatnya.”

“Dia tampan sepertimu, dia lembut hati dan sangat santun, aku bangga padanya.” Fay mendekapku kian erat. Jika saja tidak ada Pilkada, ia sudah ikut denganku ke Jakarta.

“Segera setelah urusan ini selesai, aku menyusulmu. Kita menengok anak kita di Singapura. Aku ingin seluruh waktuku di sisi kalian.”

“Lalu karirmu?”

“Aku tak peduli lagi. Mau terpilih atau tidak aku tidak peduli. Kalau bisa aku ingin minta pensiun dini, aku ingin di sisimu, di sisi anak kita…” Kami bertangisan bersama. “Mengapa tidak kau ceritakan sejak awal Julia, mengapa?” Fay terus menangis.

Kupeluk suamiku dengan cinta yang kian tebal di sanubariku. Noktah hitam itu telah terhapus oleh linangan air mata kami berdua. Dia bukan lagi sebuah titik hitam yang membuatku selalu merenungi masa laluku, dia adalah pancaran kebahagiaan yang kujaga dengan baik selama tiga puluh tahun lebih lamanya. “Terimakasih Fay, kau telah memberi kebahagiaan padaku. Kutunggu kedatanganmu di Jakarta.” Bisikku padanya, pada suami yang lama kutunggu kehadirannya. (Fanny J. Poyk)

Dimuat dalam antologi cerpen Kematian Sasando (Antologi Cerita Pendek Sastrawan Nusa Tenggara Timur)

Catatan Istilah :

Beta : Saya
Ko : Kah
So : Sudah
Injak : Datang
Pi : Pergi
Sonde : Tidak
Manyasal : Menyesal
Belis : Mas Kawin
Mamar : Kebun yang Luasnya Hektaran
Habas : Kalung Emas
Surfer : Peselancar
Karnapa : Mengapa
Mangarti : Mengerti
Lai : Lagi
Bu : Bung (Kakak)
Beking : Buat, bikin
Dong : Mereka
Kalo : Kalau, jika
Eee : Astaga
Na : sih, nih
Pelungku : Tinju
Pung : Punya, milik
Kitong : Kita semua
Kasi : Untuk
Bapa : Pak, Bapak
Ti, Bilba : Nama suku atau kampung di Pulau Rote
Ti’Ilangga : Topi khas Rote
Sesandu : Alat musik khas Rote mirip harpa

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *