Keluarga Yang Kontak Erat dengan Pasien MYSL Mengaku Belum Ditracking

Suluh Nusa, Lembata – Keluarga yang kontak erat dengan pasien MYSL yang meninggal terkonfirmasi Covid 19, Minggu, 10 Januari 2021, masih belum ditracking oleh Satgas Covid 19 Kabupaten Lembata.

Bahkan keluarga baru disampaikan kepada keluarga saat pasien MYSL meninggal dunia. Padahal mereka sudah berusaha kooperatif dalam mendapatkan informasi terkait penyakit yang diserita MYSL tetapi pihaj managemen RSUD terkesan lamban bahkan menutup-nutupi infomasinya.

Hal ini disampaikan oleh RL, kaka kandung almarhum MYSL kepada wartawan di RSUD Lewoleba menanggapi kematian saudaranya, yang terkonfirmadi Covid 19.

“Mereka (pihak RSUD) bilang kita ikuti pengebumian sesuai protokol kesehatan karena. Kami kaget. Hasilnya pemeriksaan sejak semalam (pemeriksaan Swab), tapi kenapa mereka tidak jemput kami anak cucu yang kontak langsung untuk dikarantina atau diperiksa. Ini kita dibiarkan saja sampai sekarang,” ungkap RL.

Dia menuturkan, semestinya pihak managemen RSUD Lewoleba dan Satgas Covid 19 ketika mengetahui MYSL terkonfirmasi Covid 19 berdasarkan hasil swab maka keluarga yang kontak erat dengan MYSL segera ditracking dan diambil tindakan agar tidak menimbulkan masalah baru. Dirinya mengakui kematian MYSL yang terkonfimasi Covid mengganggu keluarga secara psikologi dan secara sosial mereka merasa dihukum.

“Sakit ini kan berpengaruh terhadap psikologis keluarga. Panggil keluarga untuk sampaikan prosedurnya seperti apa, tapi inikan tidak. Kita keluarga menyesali saja, kemudian pihak manajemen rumah sakit hanya menyampaikan begitu saja. Tadi pagi juga hanya menyampaikan begitu”.” ujarnya kesal.

RL mengatakan, pihaknya bahkan sudah siap mengambil langkah langkah antisipatif dengan mengamankan diri agar tidak terjadi persoalan dikemudian hari.

“Kita kaget datang informasinya meninggal karena Covid. Sebagai manusia tentu kami kecewa dengan Satgas. Harapan kami dalam penanganan oleh pemerintah agar kedepannya tolong diperhatikan dampak ikutan faktor kemanusiaan karena kita (keluarga) hidup ditengah masyarakat sehingga tidak divonis berlebihan” ujarnya.

MYSL (wanita, 51 Thn) ASN dinas dukcapil Lembata yang terkonfirmasi positif Covid-19 meninggal dunia, Minggu (10/01/2021) dan telah dikebumikan sesuai protokol penanganan jenazah Covid-19, bertempat di TPU bluwa-Lewoleba Barat.

Informasi yang dihimpun media ini dari keluarga korban yang ditemui di RSUD Lewoleba, Mingu, 10 Januari 2021 menyampaikan kronologis riwayat perawatan almarhuma sebelum akhirnya meninggal dunia dan divonis terkonfirmasi Covid-19.


BACA JUGA :

Sudah Dua Pasien Covid 19 di Lembata Meninggal dikuburkan di Pekuburan Umum


“Tanggal 5 s/d 8 Januari mama sempat dirawat di RS Bukit akibat sakit komplikasi yang dideritanya sejak lama, kemudian pulang kerumah. Selanjutnya Tanggal 9 masuk lagi ke RS. Damian sekitar Pukul 13.00 WITA, bahkan diminta oleh pihak rumah sakit untuk rujuk ke Maumere karena dokter yang tangani sampaikan kalau ginjal mama bermasalah. Karena ada gejala sesak nafas sehingga siangnya langsung di Swab di Damian, kemudian dirujuk ke sini (RSUD Lewoleba)” ujar anak perempuan korban.

Sementara itu pihak Satgas Covid-19 Lembata yang ditemui di lokasi pekuburan TPU Bluwa pasca pengebumian jenazah MYSL menjelaskan riwayat sakit serta harapkan seluruh warga Lembata tetap patuhi protokol kesehatan ditengah maraknya kasus terkonfirmasi positif Covid-19.

Menurut Satgas Covid-19 Lembata, Pasien MYSL dirujuk dari RS Damian ke RSUD Lewoleba pada 9 Januari sekitar Pukul 18.45 WITA dan meninggal dunia 10 Januari Pukul 11.00 WITA di RSUD Lewoleba.

Pasien terkonfirmasi positif Covid-19 berdasarkan hasil pemeriksaan TCM pada 9 Januari, dimana pasien punya komorbid (penyakit penyerta) Diabetes Melitus tipe 2 dan ARDS (Acute Respiratory Distress Syndrome).

dr. Lucia S. G. Anggrijatno, selaku jubir satgas Covid-19 menjelaskan jika pasien mempunyai komorbid (penyakit penyerta) maka akan lebih berat, dimana pasien ini punya penyakit diabetes.

Perihal cepatnya hasil pemeriksaan sampel Swab almarhumah, dr. Lucia menjelaskan RSUD Lewoleba memiliki alat TCM (Tes Cepat Molekuler) yang biasa digunakan untuk pemeriksaan pasien TB dan HIV, namun dengan mengganti Catridge maka bisa digunakan untuk pemeriksaan pasien Covid-19, namun yang diperiksa menggunakan TCM harus pasien yang ada gejala dimana hasilnya bisa segera diketahui. Sedangkan bagi Suspect tanpa gejala dilakukan Swab untuk pemeriksaan PCR (Polymerase Chain Reaction) di Kupang.

Langkah lanjutan penanganan terhadap keluarga kontak erat, Lucia Sandra menyampaikan keluarga yang kontak erat sebagian sedang di tracing dan akan dilakukan Rapid Test antigen.

“Hasil Rapid testnya jika Reaktif maka akan diisolasi mandiri dan akan dilanjutkan dengan Swab PCR untuk dikirim ke Kupang” ujar Lucia Sandra. (ama.kewaman/SN/weeklyMediaGroup)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *