Tinggalkan kemapanan, Mengabdi Pada Anak Alam

suluhnusa.com_Pria bernama lengkap Pande Putu Setiawan ini lahir di Ubud-Bali, 8 Maret 1977 dari seorang ayah yang berasal dari Ubud dan ibu dari Songan, Kintamani. Ketika ia berusia 4 tahun, orang tuanya mengirimnya tinggal bersama nenek di Ubud, Gianyar, karena tidak ada sekolah di desanya di Songan.

Pande tinggal di Ubud sampai ia lulus SMA. Bapaknya adalah seorang mantri kesehatan di Kintamani, Bali. Kemudian ia melanjutkan pendidikan S1 Teknik Industri di Sekolah Tinggi Teknologi Telkom, Bandung dan lanjut bekerja selama dua tahun di perusahaan telekomunikasi di Bali.

Pande melanjutkan pendidikannya ke tingkat S2 dan mengambil gelar Master dibidang Manajemen dengan jurusan International Bussiness di Universitas Gadjah Mada. Sambil kuliah, Pande bekerja dan mengajar.

Saat gempa di Jogja pada 27 Mei 2006, ia ikut seleksi dan terpilih sebagai perwakilan untuk PBB untuk membantu korban bencana gempa di Jogja waktu itu. Selain berhasil mendapat gelar Master, Pande juga berkesempatan melakukan pertukaran mahasiswa ke University of Victoria, British Columbia di Canada pada tahun 2004, selama satu semester.

Ia juga pernah menjadi kandidat penerima beasiswa Ph.D di bidang pariwisata dari World Tourism Organization di Hong Kong Polytechnique Institut. Ia sempat kembali bekerja sebagai Staf Field Monitor – Program Pangan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN-WFP) dalam upaya recovery gempa di Yogyakarta selama 6 bulan.

Pada Februari 2008, Pande berkesempatan pergi ke Vientiane, Laos mendampingi Awit Radiani, salah satu pemenang penghargaan Indonesia Young Entrepreneur. Pengalaman tersebut membuka mata dan hati Pande. Ia tergerak untuk melakukan ‘sesuatu’ di kampungnya, untuk Bali dan untuk Indonesia. Sepulang dari Laos, lelaki 36 tahun ini terlecut. Ternyata, di Bali ada ribuan anak yang tidak bisa sekolah, sekitar 1.315 anak Bali yang putus sekolah.

”Ini memalukan. Saya pun komit untuk meninggalkan seluruh kemapanan yang saya miliki saat itu,” ungkap Pande.

Belajar dari apa yang dilakukan sang Ayah yang turut mengabdi untuk melayani kesehatan masyarakat, Pande pun menirunya. Ia pergi di sekitar desa tempat tinggal orangtuanya untuk mencari anak-anak putus sekolah kerena kemiskinan.

Pande mulai melakukan pendekatan dengan masyarakat di Desa Blandingan dengan cara berbaur dengan kehidupan keseharian mereka. Meski ia harus menjadi dekil untuk mendekati mereka yang phobia dengan pendatang. Secara tidak langsung, Pande pun ikut bermain dan belajar selama 3 bulan.

Upaya Pande untuk melaksanakan komitmen mengabdikan diri untuk anak-anak miskin Bali melalui pendidikan bukan tanpa kendala. Banyak orang yang tidak suka, bahkan ia sempat dianggap gila untuk memulai program di Belandingan. Lantaran dianggap ‘gila’ Pande pun diruwat.

Bahkan upacara ruwat itu dilakukan sampai 3 kali. “Apa yang saya lakukan ini juga pernah dimuat di koran, jadi mungkin dianggap memalukan,” ucap Pande.

Masalah finansial pun dialaminya. Saat itu statusnya pengangguran, hingga makan pun dibantu warga kampung. Ia pun pernah tertular penyakit paru-paru. Itu semua tak membuatnya kapok. “Di Bali pendidikan tidak dianggap, sedangkan pariwisata jadi nomor satu. Itulah yang membuat saya jengah,” paparnya.

Mimpi besar Pande adalah melihat anak-anak miskin di seluruh Bali bisa mengenyam pendidikan. Tahun 2009 ia mendirikan Komunitas Anak Alam sebuah komunitas berbasis sukarela. Target awal dari kegiatan Komunitas Anak Alam ini adalah anak-anak Bali yang kehilangan hak-hak mereka.

Misi utama dari komunitas ini adalah memberikan kesempatan kepada anak-anak dari kampung-kampung terpencil Bali agar mendapatkan kehidupan yang lebih layak, pengalaman hidup yang lebih baik, dan akses pengetahuan.

Untuk bisa mencapai misi tersebut, Pande dan Komunitas Anak Alam membuat banyak kegiatan yang ditujukan untuk memberikan pengetahuan dan pengalaman yang membangun pada anak-anak, salah satunya dengan fotografi dengan kamera sumbangan.

Kegiatan lainnya adalah 1000 seragam sekolah untuk anak Indonesia, school feeding, mengirim baju bekas layak pakai, alat-alat tulis dan mengadakan layanan kesehatan bersama teman-teman di Fakultas Kedokteran Udayana, Bali.

Meski Komunitas Anak Alam tidak memfasilitasi gedung sekolah sendiri, mereka memfasilitasi seperti beasiswa, buku, tas, alat tulis, dan dibuatkan rumah baca. Pencapaian terbesar yang sudah diraih anak-anak di komunitas ini adalah dua anak yang pernah ikut serta dalam pameran foto ke luar negeri, yaitu I Made Keliwon ke Melbourne, Australia dan Ni Wayan Septi Mertiyani ke Belanda.

Ada dua anak dari Desa Blandingan yang di sekolahkan sampai lulus SMK di Denpasar dengan dana gotong royong, tanpa melibatkan pemerintah dan bantuan asing lainnya.

Setelah 3 tahun sukses mengubah pardigma masyarakat di desa Blandingan, dan Pande dan Komunitas Anak Alam mengadopsi dan diaplikasikan konsep tersebut ke 15 desa lainnya di Bali. “Selama lima tahun kami sudah mendampingi lima belas desa yang ada di Bali,” kata Pande. Ada lebih dari 3000 anak di 15 desa yang didampingi tersebut. (sumber kickandyheroes2014)

Vote Pande Putu Setiawan menjadi Kick Andy Heroes 2014 klik tautan ini : http://www.kickandy.com/heroes/site/profil/01

GALLERY

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *