Lembata Batal Jadi Tuan Rumah Suratin Cup 2021, Ini Penjelasan Lamber Tukan

MEDIA WLN – Penyelenggaraan Suratin Cup 2020, di Kabupaten Lembata terancam dibatalkan. Pembatalan ini bukan karena Pemerintah Kabupaten Lembata tidak siap menjadi tuan rumah atau Askab Lembata yang belum mampu, tetapi karena kondisi covid 19 yang belum berakhir sampai dengan saat ini.

Karena kondisi covid 19 belum berakhir, penyelenggaraan Suratin Cup 2020, dibatalkan dan akan kembali diselenggarakan ditahun 2021. Kondisi ini mengakibatkan Lembata yang sudah siap menjadi tuan rumah harus rela. Sebab, penyelenggaraan Suratin Cup 2021, digeser ke Atambua, Kabupaten Belu.

Hal ini disampaikan Sekretsris Asprov PSSI NTT, Lamber Tukan melalui Sekretaris PSSI Askab Lembata, Gucek Making, saat dihubungi media ini, 10 Juni 2020 di Lewoleba.

Gucek menyampaikan, berdasarkan informasi dari Sekretaris Asprov NTT, Lambertus Tukan, bahwa oleh karena penyelenggaraan Suratin Cup 2020 dibatalkan sehingga otomatis Lembata tidak bisa menjadi tuan rumah. Pasalnya, ketika turnamen Suratin Cup 2021 digelar kembali, tuan rumah digeser ke Atambua, Kabupaten Belu.

“Informasi dari sekjen asprov bahwa berhubung tahun ini tdk ada pelaksanaan Soeratin Cup karena covid 19, maka soeratin cup tahun ini Kabupaten Belu sebgai tuan rumah di geser ke tahun 2021. maka lembata belum bisa jdi tuan rumah di 2021,” ungkap Gucek menirukan Lamber Tukan.

Untuk itu Lamber Tukan menyarankan agar Askab Lembata yang sudah siap menjadi tuan rumah dapat berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Lembata untuk bersama Flores Timur menjadi tuan rumah pada penyelenggaraan El Tari Memorial Cup 2021.

“Sementara menunggu persiapan flotim sebgai tuan rumah ETMC 2021 jika tdk benar2 siap maka lembata jdi tuan ruma ETMC 2021,” tandas Gucek.

Permintaan Lamber Tukan agar Lembata dapat mengambil bagian sebagai tuan rumah ETMC 2021 bersama Flores Timur, karena Lembata dalam penilaian Asprov sudah melakukan berbagai persiapan. Termasuk pembangunan stadion di Desa Pada dan beberapa tempat lainnya.

“Sekjen Asrov menyampaikan melalui Askab Lembata minta tolong berkordinasi dengan Bupati untuk percepatan pembangunan stadion paling cepat Januari 2021, ETMC 2021 Lembata siap tuan rumah. Beliau sudah tekankan ke Askab Flotim untuk jangan paksakan diri untuk tuan rumah karena belum ada persiapan sejauh ini, di tambah lgi dengan fokus pemerintah urus covid 19,” ungkap Gucek.

Memang benar, Lembata sampai dengan saat ini sudah siap menjadi tuan rumah. Persiapan itu ditandai dengan upaya pemerintah Kabupaten Lembata membangun empat stadion di Nubatukan, Omesuri, Lebatukan dan Ile Ape.

Bupati Lembata Eliazer Yentji Sunur menegaskan, dirinya tidak ingin pertandingan sepak bola tidak hanya berkonsentrasi di Kota Lewoleba tetapi dibagi ke seluruh Lembata.

Dia menjelaskan, pihak pemerintah kabupaten Lemnata menyiapkan empat stadion sebagai venue pertandingan sepak bola.

Terbukti, Stadion Pada di Kecamatan Nubatukan saat ini sedang dalam pengerjaan fisik dengan menelan dana 3 milyar lebih dari sumber dana APBD II Kabupaten Lembata.

Sejarah Suratin Cup

Sejarah Soeratin Cup diawali pada tahun 1965, atau setelah 35 tahun Organisasi Sepak Bola Nasional – PSSI resmi dibentuk. Piala Soeratin atau Soeratin Cup adalah kompetisi sepak bola Indonesia usia 18 tahun kebawah. Piala Suratin Cup digulirkan untuk mengenang jasa pelopor , pendiri sekaligus ketua umum pertama PSSI Soeratin Soesrosoegondo.  Ajang perdana kompetisi sepak bola ini secara langsung diresmikan oleh Presiden Ir. Soekarno di Istana Bogor – Jawa Barat. Ketua Umum PSSI tahun 1965 adalah Maulwi Saelan.

Maulwi Saelan adalah mantan pemain TIMNAS Indonesia tahun 1954 – 1958. Ia diangkat menjadi Ketua Umum PSSI yang ke 5 menggantikan ketua umum PSSI sebelumnya Abdul Wahab Djojohadikoesoemo. Ia memimpin Timnas Indonesia selama 3 tahun yakni dari tahun 1964 – 1967.

Selain sebagai Ketua PSSI, Maulwi Saelan juga pernah menjabat sebagai Ajudan Pribadi Presiden Soekarno. Tanggal 17 November 1958 Maulwi Saelan masuk dalam skuad Timnas Indonesia saat melawan Uni Soviet di ajang Olimpiade Melbourne  – Australia. Sebagai Kiper ia harus berjuang keras menahan serangan bertubi-tubi dari penyerang tangguh Uni Soviet seperti Igor Netto, Boris Tatushin dan Sergei Salnikov. Saat itu Timnas Indonesia mampu menahan Uni Soviet (0 – 0) yang nota bene merupakan Tim Raksasa Eropa dan Dunia. Sayang, hanya berselang 2 hari dan masih diajang yang sama Indonesia takluk dari Uni Soviet (4 – 0), dan Uni Soviet keluar sebagai Juara Olimpiade Melbourne 1958.

Juara Piala Soeratin 1965 – 2012

Dikutip dari pssi.id, setelah digulirkan, Piala Soeratin atau Soeratin Cup berjalan tidak regular setiap tahun, bahkan sempat vakum di tahun 2012 silam. Berikut adalah Daftar Juara Piala Soeratin dari tahun 1965 sampai tahun 2012.

1965: Persema Malang, 1967: Persija Jakarta, 1970: Persija Jakarta, 1972: Persija Jakarta, 1974: Persija Jakarta, 1976: Persebaya Surabaya, 1978: Persiter Ternate, 1980: PSMS Medan, 1982: Persijap Jepara, 1984: Persikasi Bekasi, 1985: Persikasi Bekasi, 1987: Persis Sorong, 1991: Persikasi Bekasi, 1992: PSB Bogor, 1995: PSB Bogor, 1996: Persema Malang, 1998: Persijap Jepara, 2000: Persijatim Jakarta Timur, 2001: Persebaya Surabaya, 2002: Persijap Jepara, 2003: Persip Bandung, 2004: PSIS Semarang, 2005: Mojokerto Putera, 2006: Persib Bandung, 2007: Arema Malang, 2008: Persekap Kota Pasuruan, 2009: Perseba Bangkalan, 2010: Villa 2000, 2012: PSDS Deli Serdang

Bintang Sepak Bola Piala Soeratin 1965 – 2012

Gagasan membuat sebuah kompetisi untuk menemukan bakat – bakat muda sepak bola melalui Piala Soeratin atau Soeratin Cup di era Maulwi Saelan memang cukup ampuh.

Terbukti dengan banyaknya bintang sepak bola yang bermunculan setelah ajang Piala Soeratin. Saat pertama bergulir saja sudah ada bintang sepak bola yang patut kita ingat seperti Adjat Sudrajat – PERSIB bandung, Ronny Pasla – PSMS Medan dan Sutan Harhara dari Persija Jakarta.

Ronny Pasla adalah Kiper Timnas Indonesia saat menjuarai Piala Agakhan – Bangladesh 1967 dia juga membawa Timnas Indonesia sebagai juara Piala Pesta Sukan 1972.

Di era tahun 70an sampai tahun 80an, bintang sepak bola Piala Soeratin semakin bertambah banyak, sebut saja Riono Asnan (Persebaya Surabaya), Rae Bawa (Persebaya Surabaya), Rudy William Keltjes (Persebaya Surabaya), Hamid Asnan (Persebaya Surabaya), Joko Malis (Persebaya Surabaya), Hadi Ismanto (Persebaya Surabaya), Ricky Yacobi (PSMS Medan), Bennyamin van Breukelen (PSMS Medan), Jaya Hartono (PSMS Medan), Eddy Harto (PSMS Medan), Robby Darwis (Persib Bandung), Iwan Sunarya (Persib Bandung), Dede Iskandar (Persib Bandung), Warta Kusuma (Persikasi Bekasi).

Di era tahun 80an sampai tahun 90an ada nama Azhari Rangkuti (PSMS Medan), Patar Tambunan (PSMS Medan), Asep Sumantri (Persib Bandung), Salahudin (Persipal Pangkal Pinang), Aji Santoso (Persema Malang), Nyoman Triana (Perseden Denpasar), Marzuky Nyak Mad (PSMS Medan), Kadek Irawan (Perseden Denpasar), I Ketut Swardana Putra (Perseden Denpasar). Azhari Rangkuti bersama dua kawan satu klubnya yakni Patar Tambunan dan Marzuky Nyak Mad pernah mempersembahkan Medali Emas untuk Indonesia di cabang olah raga Sepak bola Sea Games XIV – Jakarta 1987. Sedangkan Aji Santoso adalah mantan Kapten Timnas Indonesia.

Dari tahun 1995 sampai 2004 ada nama Zaenal Arif (Persib Bandung), Bertha Yuwana (Persema Malang), Budi Sudarsono (Persebaya Surabaya), Ahmad Bustomi (Persema Malang), Arif Suyono (Persema Malang), Atep Rizal (Persib Bandung), Setyo Agung Nugroho (PSIS Semarang), Thoriq Alkatiri (PS Kabupaten Purwakarta).

Tahun 2005 – 2012 ada nama Ferdinand Alfred Sinaga (Persib Bandung), Dendi Santoso (Arema Malang), Aji Saka (Arema Malang), Arif Suyono (Arema Malang), Fandi Eko Utomo (Persekap Pasuruan), Bayu Gatra Sanggiawan (Persekap Pasuruan), Johan Ahmad Alfarizi (Arema Malang), Yericho Cristiantoko (Arema Malang),Andik Vermansyah (Persebaya Surabaya), Syamsir Alam (PSJS Jakarta Selatan), Adixi Lenzio (Persija Jakarta), Imam Bayhaqi (Perseba Bangkalan), Maldini Pali (PS Sinjai), Dimas Sumantri (PSDS Deli Serdang), Reza Pahlevi Maldini Sitorus (PSDS Deli Serdang).

Ir. Soeratin, Ketua umum PSSI pertama adalah tokoh yang paling berjasa atas berdirinya PSSI, sudah sewajarnya nama beliau dikenang melalui ajang kompetisi sepak bola Soeratin Cup.

Namun akibat kisruh dibadan internal kepengurusan PSSI, Piala Soeratin sempat berhenti alias mati di tahun 2012. Menyadari pentingnya pembibitan bakat muda melalui kompetisi usia muda seperti Piala Soeratin, PSSI akhirnya meresmikan kembali Soeratin Cup 2014 sampai saat ini.***

sandro wangak

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *