Makam Pahlawan Ama Kopong

MEDIA WLN – Aku baru saja mendaraskan doa Bapa Kami di dalam salah satu gereja paroki nan megah di kota kelahiranku. Kota berwarna pelangi menurut pandangan mata hatiku. Selain itu, dalam doa tengah hari ini, aku tidak lupa mendoakan keselamatan roh para arwah yang masih hidup di kepalaku baik yang sudah ke surga maupun yang masih singgah di api penyucian. Di luar gedung gereja, hari kian panas menyengat damai di tengah dada ini. Suasana kota terdengar bising dan kacau-balau oleh lalu-lalang kendaraan. Mau bilang apa, inilah realitas kota yang ramai akan segala macam persoalan, mulai dari rumah tangga, bisnis, hukum, politik, bahkan pembunuhan. Ah,,semua persoalan ini sudah diyakini bahkan dibanggakan sebagai drama rutin di kota ini. Kota kecil titipan leluhur.

Dan kejadian yang mutakhir ialah, semacam drama pembunuhan berencana yang mengambil lokasi di halaman depan gereja paroki. Anehnya, pastor parokinya tidak mengetahui kejadian itu. Tuan pastor malah mengatakan bahwa kejadian itu hanyalah kabar burung gagak yang suka mengganggu kenyamanan di pastoran yang teramat sunyi dan damai. Korban dijahit bibirnya dan kemudian dibunuh secara sadis dari mulut menembus jantung. Para pelaku tidak lain ialah, rekan umat Allah yang baru saja bersenda gurau dengan Tuhan di dalam gereja itu. Menurut informasi, alasan pembunuhan amat spele yaitu perihal penolakannya atas tawaran murah untuk menikahi putri tunggal dari saudara kembarnya sendiri yang saban hari bertugas sebagai dosen luar biasa pada salah satu Universitas terkenal dan termahal di kota ini. Namun, entahlah alasan ini belum dipastikan kebenarannya. Para pelaku pembunuhan adalah mahasiswa hukum pada Universitas tersebut yang berusaha membeli gelar sarjana dengan cara membunuh. Ya membunuh.  Mereka bersatu untuk menghabisinya kemudian menyembunyikan jenazahnya tepat di belakang kantor polisi terdekat. Jenazahnya digantung pada sebatang pohon Natu untuk mengelabui kebenaran seolah-olah ia mati bunuh diri. Informasi ini baru aku ketahui lewat tuturan polos dari seorang temanku yang bernama pendek Boli. Ia mengajakku untuk bekerja sama membongkar-bangkir kasus ini. Aku setuju tujuh kali. Namun, aku sendiri belum mamahami betul identitas jenazah itu. “Namanya kopong, lebih tepat ama kopong; ia lahir di kota ini puluhan tahun silam.” Ungkap Boli.

***

“Demonstrasi adalah jalan akhir untuk membongkar otak dibalik kasus ini.” Ujar orator ulung kami; Ama Frans namanya. Kami mengadakan demonstrasi tepat di depan gedung gereja bersama ribuan manusia yang ingin mati bersama Ama kopong. Alasannya, kami tidak merasa puas dengan kotbah pastor yang bertele-tele tentang kebenaran dan hakikat keadilan. Namun usaha kami percuma belaka lantaran pastor tidak berada di tempat. Beliau dikabarkan sedang mengikuti pesta pemberkatan kapela baru di batas kota. Kendati demikian, kami tidak habis akal sehat. Menurut kami, kantor polisi adalah jawaban atas seluruh rahasia pembunuhan ini sebab jenazah ditemukan di belakang kantor itu. Dengan gagah berani kami menyusun barisan; mobil pick up berwarna merah ditempatkan paling depan untuk memuat sang orator dan beberapa tokoh utama demonstran serta para pengusung jenazah. Bendera ungu kami kibarkan untuk menyatakan keberpihakan kami pada Ama Kopong. Laksana parade militer, kami pun siap tempur demi kebenaran.

Setibanya di kantor polisi, kami mendelegasikan beberapa orang untuk menemui pak polisi yang berdiri kokoh laksana menara babel dalam cerita kitab suci. Namun ia malah menertawai kami sembari menyodorkan telapak tangannya untuk memohon sebatang rokok surya, sebab katanya, jika tanpa rokok bibirnya tak mampu berkata-kata dan tenaga dalamnya lunglai. Ah…aku sendiri bukan seorang perokok. Aku mencoba bertanya pada para demonstran apakah mereka membawa sebatang saja rokok?  Namun, tidak seorang pun yang memberi kode; semuanya diam dan menggelengkan kepala. Artinya, tanpa rokok usaha kami pun mandek.

***

Sinar mentari mulai menyusup dibalik bukit hijau yang molek dihiasi panorama menawan. Tenaga kami seperti kehabisan darah, apalagi jeritan suara kami dalam rangka membela hak hidup Ama kopong tidak dihiraukan. Mulai dari yang berjubah paling putih bersih, polisi bahkan mungkin mereka yang menurut undang-undang harus disapa ‘pak yang terhormat.’ Semuanya memberi alasan yang sama, sibuk. Pastor sibuk dengan meditasi dan polisi sibuk mengurus tilang di persimpangan jalan, sedangkan mereka yang lain sibuk mengurus arisan bulanan. Akhirnya, tanpa basa-basi kami memutuskan untuk menguburkan jenazahnya di taman makam pahlawan yang terletak di tengah kota. Di atas kuburnya, kami tancapkan sebatang lilin kecil dengan nyala api yang tak kunjung padam. Sinarnya masih terang di tengah dada kami yang subur; lidah apinya terus bergelora melukis harapan dan perjuangan hingga suatu saat air mata mengering pertanda ada kebenaran mengalahkan kepalsuan. Dan pada nisannya kami bersajak:

Kopong, nyawamu menjelma debu/ lidahmu tajam pada setiap kata di bibir perjuangan/ kepergianmu adalah keterpaksaan/ kirimkan kepada kami seekor gagak/ yang setia bersiul pada nisan ini.

***

Keesokan harinya, Ama Frans, sang orator itu dijebloskan ke dalam penjara karena dituduh terlalu cerewet hingga hari ini.

***

Seorang wartawan yang sedari tadi mendengar penjelasanku menganggukan kepala berulang kali. Dan kami pun menghabiskan sepiring jagung titi dan tuak kelapa hingga pada akhirnya kami bubar. Dan kejadian ini masih mendesak nuraniku untuk bertanya, siapa pembunuh itu? Apakah dia adalah saudara sedarahku? Ahhh….ahhh….ahhhh….ahhhhhh…***

 

Penulis: Rian Odel, lahir di Lembata-Wa: 081337652194  

Sekarang mahasiswa aktif pada STFK Ledalero, Flores NTT.

Cerpen ini pernah dimuat pada Flores pos versi cetak.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *