Hadapi New Normal, RSUD Lewoleba Segera Miliki Laboratorium Swab PCR

MEDIA WLNSaat ini fasilitas kesehatan di RSUD Lewoleba, akan segera dilengkapi dengan Laboratorium Swab PCR dan Ventilator. Hal ini menjadi penting dan dibutuhkan untuk meengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi saat semua jalur transportasi dibuka.

Keputusan Bupati Lembata, Eliazer Yentji Sunur, menutup Pulau Lembata dari akses transportasi selama pandemi Covid 19, membuahkan hasil. Lembata sejak ditutup tiga bulan yang lalu, masih berstatus zona hijau. Belum terkonfirmasi positip corona.

Puluhan sample yang dikirim ke Kupang untuk Swab test hasilnya negative. Pelaku perjalanan sampai dengan awal Juni nihil. Pasien di ruangan isolasi sudah tidak ada. Pelaku perjalanan di Rumah Karantina juga sudah berkurang drastis.

Akibatnya, Lembata siap masuk era kenormalan baru-New Normal. Umat dizinkan untuk beribadah di masing masing rumah ibadat, dengan syarat taati protokol kesehatan.

Seperti yang terlihat pada misa Hari Tri Tunggal Maha Kudus, Minggu, 7 Juni 2020. Pastor Paroki Waipukang, Kecamatan Ile Ape, merayakan misa bersama umat di Stasi Wilhelmus Kimakamak.

Ratusan umat yang sudah rindu gereja berbondong bonding bertemu Tuhan. mereka tetap memakai masker. Pada pintu utama dan samping gereja disiapkan tempat cuci tangan sebanyak empat buah lengkap dengan sabun cair dan tisu.  Bahkan kursi untuk duduk pun dibawah sendiri oleh umat dari rumah masing masing.

Umat memenuhi ruangan gereja dengan jarak satu setengah meter. Sebelum memulai perayaan, RD. Arnoldus Guna Koten, kepada umat menyampaikan agar semua umat wajib masker, wajib cuci tangan dan wajib membawa kursi dari rumah masing masing.

“Duduk jaga jarak. Paling minimal satu setengah meter. Kita semua menjaga. Kita semua bersyukur dan berterimakasih kepada pemerintah dan semua umat di Lembata yang sudah menjaga Lembata tetap hijau sampai denga hari ini,” ungkapnya.

Sehari sebelumnya, Sabtu, 6 Juni 2020, Bupati Lembata memantau pembukaan pasar Hadakewa di Kecamatan Lebatukan. Semua pembeli dan penjual wajib memakai masker. wajib mencuci tangan. Yentji Sunur sebagai bupati Lembata pun tidak segan segan kalau ada pasar yang tidak mengindahkan protocol kesehatan maka dirinya tidak segan segan untuk menutup kembali pasar. Kesehatan adala segala galanya.

Senin, 8 Juni 2020, Bupati Lembata kembali memantau Pasar Walangsawa, Kecamatan Omesuri yang baru pertama kali dibuka sejak ditutup tiga bulan yang lalu. Bupati Lembata hendak memastikan, pergerakan ekonomi di pasar Tradisional dijalankan dengan protap kesehatan. Sekali lagi, bagi Bupati Lembata, Kesehatan lebih penting dari pergerkan ekonomi. Ekonomi masyarkat akan pulih dengan sendirinya secara alamia disaat ada jaminan kesehatan.

Dan untuk memastikan Lembata tetap sehat. Lembata tetap hijau. Lembata yang bebas Covid 19, Bupati Sunur pun memerintahkan Direktur RSUD Lewoleba, dr. Bernard Yosep Beda, untuk melengkapI berbagai fasilitas kesehatan pada rumah sakit tersebut.

Kepada wartawan, Jumad,  5 Juni 2020 di RSUD Lewoleba, Bernad Beda menjelaskan pihak rumah sakit sudah siap menghadapi New Normal yang segera diberlakukan di Lembata.

“Sumber daya manusia. Tenaga dokter dan perawat kita siap. Kita sudah teken MoU bersama semua dokter dan perawat yang brkompeten untuk sebagai tenaga medis yang siap menghadapi New Normal. Kita sudah antisipasi,” ungkap Bernad Beda.

Lebih jauh Bernad menjelaskan, saat ini fasilitas kesehatan di RSUD Lewoleba, akan segera dilengkapi dengan Laboratorium Swab PCR dan Ventilator. Hal ini menjadi penting dan dibutuhkan untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi saat semua jalur transportasi dibuka.

Empat rumah sakit lainnya di NTT

Laboratorium SWAB PCR juga akan dilengkapi di beberapa Rumah sakit di di NTT. Terhitung sekitar empat rumah sakit, RSUD TC Hillers di Kabupaten Sikka, RSUD Komodo di Kabupaten Manggarai Barat, RSUD Umbu Rara Meha di Kabupaten Sumba Timur, dan RSUD Prof. Dr. W.Z Johannes Kupang.

Kepala Dinas Kesehatan Nusa Tenggara Timur (NTT) Dominikus Minggu Mere mengatakan, empat rumah sakit rujukan di provinsi itu bakal langsung melakukan pemeriksaan sampel Swab Covid-19.

“Dalam waktu dekat, kita akan distribusi alat tes cepat untuk pemeriksaan Swab di empat kabupaten. Empat rumah sakit diprioritaskan terlebih dahulu. Dan jika sudah berjalan, maka pemeriksaan Swab, tidak hanya dilakukan di RSUD W.Z Johannes Kupang,” kata Domi kepada wartawan di Kantor Dinas Kesehatan Provinsi NTT, Minggu (07/06/2020) sore.

Selain empat kabupaten tersebut, nanti alat tes cepat Swab akan disiapkan juga di beberapa rumah sakit lainnya.

Itu seperti di RS Gabriel Manek untuk Kabupaten Belu, Malaka dan TTU dan RS Ende untuk Kabupaten Nagekeo dan Ngada.

“Yang akan segera didistribusi empat rumah sakit di empat kabupaten. Sedangkan untuk RS Ende dan RS Gabriel Manek, alat tes cepat Biomolekuler harus diinstal terdahulu karena belum diinstal,” ujarnya.

Mereka Mahasiswa, menyebut dirinya Taan Tou, bantu APD untuk RSUD Lewoleba

 Lima Mahasiswa Taan Tou Bantu APD untuk Lembata

Sebanyak lima mahasiswa yang menyebut diri Ta’an Tou, asal Lembata yang sedang mengenyam pendidikan di berbagai kota di Indonesia, Jumad (5/6/2020), menyumbangkan APD untuk tim medis di RSUD Lewoleba.

Alat Pelindung Diri itu berupa 35 Cover all Jumpsuit, Face Shield 35 unit, dan Hazmat suit 15 buah. Sumbangan APD tersebut di galang mahasiswa melalui donasi secara daring.

Sumbangan tersebut di terima Direktur RSUD Lewoleba, Bernard Yosep Beda, serta sejumlah pejabat di lingkup RSUD Lewoleba.

Ana Renya Elisabet Wahon, mahasiswi yang sedang mengenyam Pendidikan di Kota Solo, Jawa tengah, koordinator Lima mahasiswa Ta’an Tou, Jumad (5/6/2020) mengatakan, ada gerakan teman teman mahasiswanya di Jawa, namanya gerakan Nyalakan Cahaya. Gerakan tersebut memproduksi alat pelindung diri (APD) berupa Cover all Jumpsuit, Face Shield, dan Hazmat suit untuk para medis.

“Awalnya saya minta kalau bisa di kirim ke Lembata, tapi kalau kirim ke Lembata ongkos kirimnya terlalu mahal dan donasi untuk orang luar takut kurang. Dan mereka minta untuk coba buka cabang donasi di Lembata. Terus setelah kami buka, target kami untuk terkumpul donasi 2 juta. Sampai dua minggu ternyata, terkumpul donasi sebanyak 6 juta lebih,” ujar Ana Renya Elisabet Wahon.

Disebutkan, teman-temanya yang terlibat antara lain, Murni Lelang Rian di Jogja, Rivan Sableku di Kupang, Mila Lolong di Ende, Lia Dazion kuliah di Jakarta dan Ana Renya Elisabet Wahon Kualiah di Solo. Tiga nama terakhir itu saat ini berada di Lewoleba.

“Dari hasil donasi sekitar 6 Juta rupiah lebih, kami bisa dapat 35 buah Cover all Jumpsuit, dan Face Shield 35 buah, dan Hazmat suit 15 buah. Hazmat suit ini bisa dipakai 5 kali. Jadi kami alokasikan itu, ternyata saat kami kirim uang ke sana Ongkirnya itu lebih, Uang itu di kirim Kembali dan kami alokasikan untuk beli sabun cici tangan, kepada 16 Rumah ibadah, dengan sembako untuk dua panti asuhan di Lewoleba yaitu Panti Eugene Scmith dan Abdi Kasih,” ujar Ana Renya Elisabet Wahon.

Semenatara itu, Direktur RSUD Lewoleba, Bernard Yosep Beda, dalam kesempatan itu menyampaikan terimakasih atas perhatin adik-adik mahasiswa yang sudah peduli terhadap tim medis.

“Kami mengucapkan limpah terimakasih, hanya dengan bantuan bantuan ini, kekurangan kekurangan bisa dipenuhi. Kami apresiasi luar biasa. Banyak uluran tangan dari orang secara pribadi, dari partai, kelompok masyarakat. Ini bantuan yang kemudian akan didedikasikan untuk rakyat melalui pelayanan kami di RS ini,” ujar Direktur RSUD Lewoleba, Bernard Yosep Beda.

Menurut Direktur RSUD Lewoleba, pihaknya tidak melihat jumlah barang tetapi perhatian untuk tim medis sangat luar biasa. Sejauh ini dengan bantuan berbagai pihak, APD untuk Tim medis sudah mencukupi. ***

 sandro wangak

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *