suluhnusa.com – Corona, sangat menakutkan. Berbagai negara didunia terkonfirmasi corona dan mengambil kebijakan lockdown. Indonesia pun sudah terkonfirmasi sebagai negara terpapar virus corona. Imbasnya, tiga daerah di Indonesia ditetapkan KLB-Kejadian Luar Biasa. Solo, Banten, Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan dan Kabupaten Tangerang sudah menjadi daerah KLB Corona.
Kementrian Kesehatan Per 15 Maret 2020, jumlah kasus positif COVID-19 di Indonesia mencapai 117 orang. Dari jumlah itu, lima kasus di antaranya meninggal dan 8 lainnya dinyatakan negatif atau sembuh.
Jika dihitung tingkat kematiannya (death rate) maka Indonesia berada di angka 4,27 persen atau berada di atas tingkat kematian global sebesar 3,72 persen per 15 Maret 2020. Sementara tingkat kesembuhan berada di angka 6,83 persen. Cukup jauh di bawah tingkat kesembuhan global yang berada di angka 46,48 persen.
Secara statistik, Indonesia menempati urutan ketiga dengan tingkat kematian tertinggi. Di peringkat pertama ada Italia dengan 6,81 persen, lalu disusul Iran sebesar 5,19 persen. Cina menempati urutan keempat yakni 3,8 persen. Kendati demikian, jumlah kasus positif di ketiga negara adalah yang tertinggi.
Sejak kasus pertama Italia pada 31 Januari 2020, jumlahnya meningkat pesat menjadi 15.113 kasus di 13 Maret 2020.
Lalu sejak kasus pertama Iran di 12 Februari 2020, jumlahnya sudah meningkat menjadi 11.364 kasus di 13 Maret 2020.
Provinsi Nusa Tenggara Timur, beberapa hari lalu sudah menutup beberapa jalur perbatasan negara dengan Timor Leste. Ini adalah langkah antisipasi untuk membendung laju penularan virus corona.
“Keterlambatan pembendungan ini bisa membuat kondisi epideminya menyerupai Italia dan Iran atau bahkan lebih,” ungkap Direktur Yayasan Kesehatan untuk Semua (YKS) Lembata, Saverrapall Sakeng Korvandus yang ditemui di Lewoleba, 16 Maret 2020.
Dia menyoroti, berbagai informasi tentang akibat dari Corona yang disebarkan secara massif akan membuat masyarakat menjadi panik sehingga lupa melakukan tindakan pencegahan.
Sebab informasi soal akibat dari corona lebih menakutkan ketimbang edukasi terkait pencegahan corona, penanganan pra positip termasuk soal bagaimana mengedukasi warga ketika ada anggota keluarganya mengalami gejala gejala corona.
Lebih jauh Kor Sakeng menegaskan, ketakukan berlebihan terhadap corona akan membuat psikologi warga menjadi lembah dan berimbah juga pada ketahanan secara fisik. Bahkan relasi komunikasi kekeluargaan menjadi tergusur, terdegradasi akibat informasi corona yang seram dan menakutkan.
“Ketakutan berlebihan akan menumbuhakan energy negative. Dan jika energy negarif sudah muncul secara psikologi maka energy positip untuk mempertahankan diri, rasa kewaspadaan menurun bahkan mampu mempengaruhi ketahanan tubuh. Jika ketahanan fisik atau tubuh sudah menurun maka gampang terpapar corona,” ungkap Sakeng.
Untuk itu, Kor Sakeng mendukung pemerintah Kabupaten Lembata, melalui pernyataan Bupati Lembata terkait informasi tentang corona harus melalui satu pintu, yakni Dinas Kesehatan Lembata, menghindari kepanikan warga akan informasi yang salah.
Selanjutnya, Sakeng menyarankan agar, semua fasilitas kesehatan di Lembata disiapkan, shop corona, tempat atau pojok informasi terkait corona agar masyarakat dapat teredukasi.
Shop corona yang maksud oleh Sakeng, menyediakan informasi terkait Standar procedural penanganan corona, standar procedural penyebran informasi, rekonsiliasi untuk keluarga yang oleh publik terlanjur terkonsumsi sebagai corona, perilaku dan pola hidup agar terhindar dari corona dan berbagai informasi edukatif lainnya.
“Dan shop corona ini disiapkan di semua fasilitas umum kesehatan baik rumah sakit, pustu, puskesmas, dan berbagai fasilitas kesehatan lainnya. Tenaga kesehatan pun mesti diberi pengetahuan dan bekal tentang informasi corona agar tidak salah dalam memberikan informasi,” ungkap Sakeng.
TERKAIT : Pasangan Suami Istri Dari Inggris Diisolasi di RSU Lewoleba
Hal ini disampaikan Sakeng sebagai bentuk tanggungjawab moral menjaga Lembata, agar jangan sampai ada kepanikan massal.
“Yang harus kita jaga bersama adalah jangan sampai 1 orang warga Lembata terpapar corona mengakibatkan 1000 orang mati karena ketakutan. Ini yang kita jaga. Mari kiat semua dukung pemerintah menjaga Lembata agar tetap bersih dari corona,” ungkap Sakeng.
Sebelumnya diberitakan Terkait penyebaran informasi di media sosial Facebook dan WAG,Bupati Lembata, Eliazer Yentji Sunur langsung menegur Oknum ASN yang dengan terang terangan menyebarkan informasi salah terkait suami istri yang menjadi Pasien Dalam Pengawasan.
Sunur langsung meminta Kepala Dinas Kesehatan sebagai atasan menegur keras oknum ASN yang menyebar informasi secara detail termasuk alamat tempat tinggal dan asal desa Pasangan Suami Istri, Pasien Dalam Perawatan itu.
“Itu tidak boleh, apalagi informasi itu simpang siur, tidak melihat langsung dari sumber yang lain, saya sudah minta atasan untuk tegur secara keras, tidak boleh diulangi lagi, semua postingan dihapus,” ungkap Bupati Sunur usai mengikuti acara peletakan batu pertama pembangunan Gedung Perpustakaan di Lewoleba, Sabtu (14/3/2020).
BACA JUGA : Isu Corona Merebak, Keluarga Pasien Kecewa, Bupati Lembata Langsung Tegur ASN Itu
Sandro Wangak
