Perempuan Penjual Donat Jadi Pengacara

suluhnusa.com – Nurhayati Kasman, S.H, sosok perempuan kelahiran Aliuroba, 14 Januari 1987, pernah menjajakan kue donat ketika menjalani masa kuliahnya di Universitas Bosowa-Makasar.

Namun sebelum itu, perempuan ini juga pernah menjadi pekerja rumah tangga ketika merantau ke Makasar pada tahun 2010. Menjadi pembantu rumah tangga di rumah seorang hakim. Perempuan tangguh inipun pernah melakoni pekerjaan mencuci motor dan mobil.

Dalam kesehariannya, perempuan ini menyuarakan kesetaran Gender dan persoalan-persoalan perempuan lainnya, setelah bergabung dalam Gerakan Solidaritas Perempuan pada tahun 2015. Dia mendirikan Solidaritas Pekerja Asal Kedang (SPAK) yang beranggotakan pekerja rumah tangga dan buruh bangunan asal Kedang di Makasar pada tahun 2008.

Pada tahun yang sama juga, mendirikan LSM Peduli Perempuan Lembata (PERMATA), bersama rekannya Maria Loka (Ketua sekarang) di Kabupaten Lembata dan menempati posisi Devisi Hukum dan Advokasi.

 Menjadi Pengacara

Moment 18 Januari 2020, menjadi sebuah kebahagiaan bagi perempuan ini, juga keluarganya. Sebab, dia diangkat sumpah menjadi seorang pengacara di Aula Pengadilan Tinggi Nusa Tenggara Timur. Dia adalah salah seorang perempuan Lembata, selain Elfiera E. Memen Kewa Sableku, S.H. Keduanya berasal dari organisasi yang sama yaitu dari organisasi PERADI . Aura perjuangan untuk kaum perempuan yang ia lakoni sebelum memutuskan menjadi pengacara akan tetap menjadi roh perjuangan dalam beracara. Ia tetap bertekad membela perempuan. perempuan adalah roh perjuangan dan gerakan.

“Sebelum menjadi pengacara, ruang gerak sangat dibatasi, sebab kita berhadapan dengan mekanisme penyelesaian hukum. Seperti minimnya regulasi yang melindungi hak-hak perempuan. Sekarang, memang saya harus tunduk pada kode etik sebagai seorang Advokat, tetapi saya mendapatkan sedikit ruang untuk lebih banyak berbicara dan menjalankan perjuangan tentang kemanusiaan”, ungkapnya.

Ada sekian banyak persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak yang terjadi, khususnya di Lembata dan hal inilah kemudian menjadi motivasi bagi dia untuk menjadi seorang pengacara. Kerap kali ia terlibat bersama LBH SIKAP Lembata dan Kantor Advokat Juprians Lamabelawa, SH & Partner dalam melakukan advokasi terhadap berbagai persoalan hukum yang melibatkan anak dan perempuan d Lembata.

“Saya bersyukur, niat saya ini direstui oleh Tuhan dan Leu Auq, bagi saya pengambilan sumpah hari ini adalah sebuah amanah untuk menjalankan pengabdian bagi banyak orang, soal perjuangan bagi orang lain. Fokus saya setelah ini adalah penguatan hukum dari akar rumput”, tambahnya.

 Harapan

Ada sekian banyak peroalan yang tentang perempuan yang terjadi. Kekerasan, human traifiking, pelecehan seksual. Tentu ini menjadi perhatian kita bersama. Saya mau menyelamatkan perempuan dari sekian banyak kasus, namun hal ini tentunya tidak dapat dilakukan secara individual.

Kita harus membangun basis. Kita harus kolektif kolegial memerangi hal ini. Terkadang sudah ada persoalan baru kita melakukan upaya pencegahan, namun kita harus mulai untuk menyelesaikannya dari akar rumput. Perempuan jarang dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan, namun ketika perempuan berhenti berarti duniapun ikut berhenti.

Sangat dibutuhkan kehadiran perempuan yang mempunyai kesadaran tentang perempuan, tentu hal ini harus lahir dari gerakan perempuan. Nilai kemanusiaan harus menjadi dasar kita untuk perjuangan.

Kita harus mampu melihat kebijakan dan mengusahakan agar kebijakan yang berprespektif perempuan. Kalau kita tidak memperbaiki, bagaimana dengan generasi kita nanti. Kita harus meninggalkan tapak untuk generasi berikutnya. Kedepan, harus ada perempuan yang berbicara lantang tentang hak-hak perempuan dan itu diharapkan muncul dari NTT dan Lembata pada khususnya. Jejak perjuangan perempuan harus semakin jelas berkiblat.

Perempuan membutuhkan perlindungan khusus secara budaya, agama dan negara. Sebab dari perempuan akan lahir generasi yang kita harapkan. Untuk apa berbicara tentang keadilan, kalau keadilan tidak memuat tentang keadilan tentang perempuan. Mengurus kemanusiaan adalah investasi akhirat.

Yohan Edangwala

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *