Kisah Nyata Tenggelamnya Kapal JM. Ferry- Bagian VII

Saya terhanyut bersama drum itu ke arah pantai didorong oleh ombak dan angin. Semakin lama semakin dekat ke pantai dan bibir pantaipun semakin jelas saya lihat. Pada jarak kira kira 75 meter ke bibir pantai, saya sangat kaget melihat bibir pantai yang ternyata bukan pasir melainkan tebing karang yang sangat curam hampir tegak lurus 90 derajat dengan ketinggian kira kira 20 sampai 30 meter.

Saya berteriak ke Arah orang itu. “Huuuu……iiiiii….. Hooooo…. Toloooong….”, tetapi orang itu tidak bergeming mungkin tidak mendengar suara saya karena terhalang oleh suara ombak yang bising. Saya berenang lebih dekat lagi dan kemudian saya melihat pantai berpasir yang hanya memiliki lebar sekitar 15 meter tetapi saat ombak menghempas pantai, bibir pantai berpasir itu tidak kelihatan karena pada bagian atasnya terdapat batu karang tua yang hitam.

Pasamboan Pangloli

 

BACA KISAH SEBELUMNYA : Kisah Nyata Tenggelamnya Kapal JM. Ferry- Bagian VI


suluhnusa.com – Setelah tahu bahwa saya ternyata terdampar di Pulau Semau, rencana saya untuk membuat kejutan sudah batal karena pada saat saya berenang di sepanjang pantai mencari tempat untuk mendarat yang saat itu saya kira bahwa pantai itu adalah pantai Air Cina di Pulau Timor ternyata saya terdampar di Pantai Liman di Desa Uitiuh Tuan Kecamatan Semau. Semau adalah satu pulau yg berada terpisah dari pulau Timor dlm wilayah kabupaten kupang.

Saat sy sudah berada di dekat pantai, saya membuat skenario bahwa saat sampai ke Pantai Air Cina, saya akan mencari kendaraan menuju ke Hotel Pantai Timor kemudian bersembunyi di sana selama dua minggu dan memantau berita. Kalau keadaan sudah tenang maka saya akan tiba-tiba muncul hadir di depan umum untuk membuat kejutan tetapi rencana ini sudah gagal setelah terdampar di Pulau Semau.

Sambil mengisap rokok Dji Sam Soe pemberian dari warga, saya mulai berfikir bagaimana cara bisa memberi khabar ke anak dan istri saya bahwa sy sudah selamat dan bagaimana sampai di Kupang secepatnya tiba2 saya teringat kepada seorang sahabat bernama Pak Udin yang dulu pernah menjadi Camat Semau Tahun 2001.

Saya bertanya ke Bapak2 yg ada mengelilingi saya di bawah pohon duri : “Bapa dong, siapa yang Camat di Semau sekarang?”.

Bapatua: “Dia pung nama Pak Udin orang Alor”.
Saya: “Dia beta pung kawan”.
Bapatua: “Jadi anak dong kenal ko?”.
Saya: “Dia beta pung kawan baik seperti saudara. Dulu katong pernah sama-sama di kepegawaian kantor bupati Kupang. Jadi kalau bisa, Bapadong bisa kasi tau Bapa Camat bahwa Om Pang ada di sini su selamat”.
Bapatua: “Dia pung kantor dari sini jauh Bapa tapi nanti katong usaha tapi sekarang katong pi di Rumah Pak Desa dulu”.
Saya: “Oke Bapa”.

Saya berdiri mengejak mereka berjalan tapi ternyata mereka tidak mengijinkan saya berjalan. Salah seorang di antara mereka mengeluarkan sarung yang lusuh dari badannya kemudian memasangkan sarung itu ke tubuh saya kemudian menyuruh saya menanggalkan semua pakaian yang saya gunakan. Saya menolak tetapi Orangtua yang berjanggut itu berkata: “Anak dong, katong pung kebiasaan di sini kalau ada orang yang selamat dari laut, dia seperti dilahirkan kembali kayak anak mea. Jadi seperti anak yang baru lahir maka harus telanjang jadi tolong Bapa kasi keluar semua pakaian”.

Penjelasan itu saya percakapkan dengan mereka bahwa ternyata orang yg selamat dari kecelakaan laut dianggap dilahirkan kembali sehingga perlakukannyapun harus diperlakukan seperti org yg baru lahir. Orang yg lahir tidak menggunakan pakaian maka begitupun saya.

Saya menanggalkan baju dan celana. Celana saya berikan ke mereka supaya dijaga baik-baik karena di dalamnya ada cincin dan dompet. Mereka berjanji akan menjaganya.

Seorang diantara mereka datang membawa kayu yang cukup kuat dengan panjang sekitar 3 meter. Dari cara mereka, saya melihat bahwa mereka akan memikul saya sehingga saya berkata: “Bapadong, beta masih kuat berjalan Bapa. Jadi beta sonde mau dipikul”.
Bapatua: “Sonde bisa. Anak dong harus dipikul”.
Saya tetap menolak dengan berbagai alasan, tiba-tiba Orangtua yang berjanggut itu duduk berjongkok di depan saya sambil meraba-raba lutut saya dengan mulut komat-kamit seakan-akan mengatakan sesuatu mungkin dalam bahasa mereka dan sy tidak tahu arti kata kata itu.

Saat itu, keempat yang lain hanya berdiri memandang melihat Orangtua ini menguasap-usap lutut saya. Saya heran, tubuh saya seakan tidak bisa bergerak dan saya tidak bisa berbicara. Saya seperti antara tertidur dan tidak.

Saat itu, saya melihat mereka memasukkan saya ke dalam 2 buah sarung kemudian menidurkan saya di dalam sarung itu. Setelah itu mereka memasukkan kayu itu ke dalam sarung dan dua orang mengangkat saya sambil berjalan.

Saya rasakan mereka berjalan memikul saya sambil bercerita dalam bahasa mereka tetpi saya tidak bisa bergerak dan semakin lama saya semakin mengantuk. Sesaat kemudian sayapun tertidur.

Samar-samar saya mendengar orang berbicara, pelan-pelan saya membuka mata dan melihat atap seng. Oh, ternyata saya sudah ada di rumah penduduk. Saya dibaringkan di atas teras tanpa tikar tetapi masih ada di dalam sarung. Saya saat itu merasa sangat lemas, kemudian Bapatua yang berjanggut itu datang duduk bersila di dekat kepala saya dan berkata: “anak dong su sadar jadi anak dong su dilahirkan kembali di kampung ini. Anak dong jangan marah karena katong kasi tidur sonde pake tikar karena seperti itu kebiasaan katong di sini”.

Saya: “Bapa, su ada yang pi panggil Pak Camat ko?”.
Bapatua: “Bapa Desa su pi pake motor”. Perasaan saya legah semoga Pak Udin cepat datang.

Saya saat itu sudah merasakan lapar sehingga saya minta gula air tetapi mereka tidak mengindahkannya. Beberapa kali saya minta gula air tetapi mereka diam saja. Tidak lama kemudian seorang ibu datang membawa sepiring bubur saring dengan air putih.

Gula air adalah salah satu minuman tradisionil masyarakat Timor & Rote yang dibuat dari air sadapan lontar yang dimasak sampai berbentuk jelly yang kenal seperti madu. Gula air ini biasanya disimpan di dalam periuk tanah kemudian ditutup rapat dan di simpan di atas perapian dapur. Gula air dapat disimpan berbulan-bulan bahkan tahun. Manakala dibutuhkan, gula air ini diambil untuk dikonsumsi. Di masyarakat suku Rote, gula air ini malahan dijadikan sebagai pengganti makanan karena seperempat gelas dicampur dengan air dan diminum maka kita akan merasa kenyang.

Ibu itu duduk di samping kepala saya kemudian berkata: “Bapa, katong mohon maaf e. Katong pung kebiasaan di sini, kalau ada orang yang selamat dari laut katong harus kasi dia bubur sarung seperti kasi makan bayi jadi beta harus suap sama Bapak. Son apa-apa to Bapak?”.

Saya: “Terimakasih Mama (sapaan akrab untuk ibu-ibu di NTT)”.
Saya disuapi bubur saring sampai habis sepiring tetapi saya merasa belum kenyang jadi saya minta supaya ditembakkan tetapi ibu itu berkata bahwa: “Bapa, apa yang katong buat ini semuanya kebiasaan di sini. Orang yang selamat dari laut hanya boleh makan sepiring kalau pertama makan”.

Sayapun terdiam.

Setelah itu saya bangun dan duduk di lantai. Orangtua berjanggut itu berkata: “Kalau anak dong su kuat berdiri, berdiri su supaya katong tidur di dalam Kamar su”. Saya bersusaha berdiri. Badan saya sangat lemas seperti ingin jatuh kemudian berjalan dituntun ke dalam rumah dan masuk ke dalam kamar.

Di kamar itu cukup sempit dengan ranjang berkasur kapuk. Saya berbaring di atas tempat tidur itu tetapi saat orangtua berjanggut itu akan keluar, saya menahan beliau supaya menjaga saya di dalam Kamar dan orangtua itu setuju dan duduk di dekat kaki saya.

Orangtua itu berkata: “anak dong tidak usah takut. Bosong su selamat. Yang ada di Kampung ini semua katong pung keluarga”. Kemudian saya tertidur lagi.

Samar-samar saya dengar suara seseorang yang saya cukup kenal, “Om Pang…. Om Pang…. Bangun su ko?”. Suara itu berulang-ulang saya dengar kemudian saya bangun dan membuka mata, ternyata Pak Camat Udin berdiri di samping tempat tidur sambil menatap saya. Saya bangun dan Pak Udin memeluk saya. Saya sangat terharu dan senang sampai-sampai saya meneteskan air mata yang terasa panas.

Saya berdiri dan berkata ke Pak Udin: “Kakak su telpon be pung mai tua ko?” (Kakak sudah telpon istri saya kah).

Udin: “Iya, beta su telpon. Su kasi tau bahwa Om Pang su selamat di Pulau Semau. Beta ju kasi tau supaya ibu son usah kuatir karena ada beta di sini”.

Saya: “Terimakasih banyak Kakak. Kakak ke sini naik apa?”.
Udin: “Beta naik oto, na katong keluar su ko anak-anak antar Om Pang pi di Hansisi karena su asa perahu di sana siap antar Om Pang pi Kupang”.
Saya: “Baik Kakak”.
Saya berjalan ke luar sambil berjabat tangan ke semua orang, mengucapkan terimakasih.

Di depan rumah saya melihat mobil Suzuki Katana, saya berjalan ke arah mobil bersama Pak Udin, Pak Udin membuka pintu kemudian saya naik dan pintu ditutup.

Saya teringat dengan pakaian saya utamanya celana saya dan meminta ke Orangtua berjanggut yang berdiri di pintu supir tetapi Pak Camat menyatakan akan membawa pakaian saya itu mengusul. Kemudian saya meminta ke orangtua itu supaya mengambil pelampung yang saya pake berenang untuk saya bawa maksud saya akan saya pakai sebagai kenang-kenangan, tetapi Pak Camat mengatakan bahwa kebiasaan masyarakat di sini tidak membolehkan membawa barang-barang yang kita pakai di laut ke rumah. Akhirnya saya diam dan mobil pun berjalan.

Di Pulau Semau hanya ada dua buah mobil, yaitu mobil Suzuki Katana sebagai kendaraan Dinas Camat dan satu buah Ambulance tetapi mobil Ambulance katanya dalam keadaan rusak.

Saya sudah dua kali menggunakan mobil Katana ini. Pertama pada saat kami di jemput di Hansisi bersama Bapak Tian Dillak Tahun 2001 saat melaksanakan Tugas Dinas ke Pulau Semau.

Cara membawa mobil Katana ini dulu ke Pulau Semau yaitu dengan membongkar semua bagian-bagian mobil kemudian dimuat ke atas perahu dan dirakit kembali setelah sampai di Pulau Semau.

Jalan raya yang ada di Pulau Semau hanya kira-kira sekitar 5 Km saja jadi sebagian besar yang dilalui mobil adalah tanah yang berbatu-batu.

Kami berjalan menuju ke Hansisi yang menurut Pak Supir, jaraknya sekitar 40 Km dari rumah Pak Desa yang biasanya dilalui selama 2 jam. Saya sudah sangat bersemangat dan pulih saat itu.

Setelah sampai di Pelabuhan Hansisi, di sana sangat ramai oleh penduduk Pulau Semau karena ternyata di sana banyak mayat korban kapal JM.Ferry yang terdampar di seputar Pantai Pulau Semau akan diseberangkan ke Pelabuhan Tenau di Kupang.

Di situlah saya mulai merasa sadar bahwa ternyata perjalanan yang saya lalu itu sangat berbahaya apalagi dari pembicaraan mereka saya dengar bahwa sudah ratusan mayat yang diambil dari laut.

Tiba-tiba ada seorang ibu mendekati saya di dalam mobil sambil menyodorkan headphone sambil berkata: “Bapak, kalau mau menelpon, Bapak pake HP ini su”. Saya memang pingin sekali menelpon istri saya saat itu tetapi saya tidak mau menggunakan kartu ibu ini takutnya merugikan dia dalam pemakaian pulsa. Jadi saya jawab ke ibu itu: “ibu, beta punya kartu, ibu kasi keluar ibu pung kartu supaya beta masukkan beta pung kartu untuk menelpon”.

Ibu: “pake saja Bapak, beta pung pulsa banyak”.
Saya mengambil hp itu, memencet tombolnya dengan angka-angka nomor hp istri saya yang saya hafal dan menyampaikan bahwa saya sudah selamat.

Istri saya berkata bahwa Pak Udin tadi sudah menelpon tetapi masih kurang yakin tetapi sekarang sudah yakin.

Dua orang tentara dengan pakaian lengkap datang ke arah saya kemudian membuka pintu kemudian salah seorang di antaranya berkata: “Bapak, perahu sudah siap jadi mari kita ke perahu”.
Saya turun dari mobil menuju ke dermaga. Di sana saya lihat perahu karet yang bertuliskan TNI-AL yang di atasnya masih ada 5 orang tentara.

Saya menuju ke perahu itu, naik dan dipersilahkan duduk di bagian tengah. Perahu itu menggunakan dua buah mesin mereka Jhonson.

Di sebelah kanan saya melihat perahu yang di atasnya terdapat beberapa peti mati dari papan yang dibuat seadanya. Ada beberapa perahu nelayan yang ada saat itu di sana yang katanya ada juga perahu yang membawa penumpang dari Kupang dengan maksud datang ke Pulau Semau mencari keluarga mereka yang menjadi Korban.

Perahu karet milik TNI-AL ini berangkat dari pelabuhan Hansisi melanju sangat cepat. Pelabuhan Tenau Kupang semakin nampak, tidak lama kemudian perahu sudah bersandar di ujung dermaga bagian Timur.

Dari darat, ada 6 orang tentara menuju ke perahu karet membawa tandu. Tandu itu dijukurkan ke atas perahu kemudian saya disuruh berbaring di atas. Tandu ditarik kemudian saya ditandu ke atas daratan dan dimasukkan ke Ambulance TNI.

Setelah pintu ditutup, Ambulance pun berjalan sementara di atas Ambulance saya masih ditemani oleh 6 orang tentara.

Perjalanan dari pelabuhan ke Kota paling cepat 30 menit dan saya sempat tertidur. Saya bangun saat pintu Ambulance dibuka, saya ditirunkan kemudian didorong melalui selasar yang tidak seperti biasanya yang ternyata bahwa saya dievakuasi ke Rumah Sakit Tentara di Kupang.

Saya ditempatkan di ruang perawatan VIP. Saya dibaringkan di atas tempat tidur tetapi saya bangun dan duduk di sisi tempat tidur karena rupanya di Kamar itu ada Bapak Thomas Bangke bersama istri yang mana bahwa beliau ini adalah masyarakat suku Toraja yang memiliki Jabatan eselon II di Kabupaten Kupang. Selain Pak Thomas dan Ibu, adapula orangtua lain dari suku Toraja yang juga di Kamar saya.

Setiap kali ada yang mau bertanya kepada saya maka Pak Thomas selalu melarangnya maksudnya supaya saya bisa istirahat.

Ibu Thomas mengambil makanan bubur dengan lauk kepada saya dan sayapun makan. Setelah itu saya tidur sangat pulas sampai pagi.

Saya bangun sekitar Jam 08.00 Wita. Tetapi tubuh saya selama sangat lemas sehingga saya selalu merasa mengantuk. Di dalam Kamar sudah ada beberapa keluarga istri saya yang berdomisili di Kupang yang selalu memberi setiap apa yang saya butuhkan.

Sekitar Jam 11 siang seorang ibu bersalaman rapi masuk ke dalam kamar kemudian menyodorkan kepada saya searah amplop besar dan berkata: “Bapak Pang, beta disuruh Om Jhon mengantar uang ini katanya ini uang milik Bapak. Saya terima uang itu dan menaruh uang itu di dekat bantal kemudian saya tertidur.

Saya terbangun sekitar Jam 13.00 Wita karena ada seseorang mengusap-usap kepala saya sambil memanggil-manggil nama saya. Saya hafal benar suara itu, saya membuka mata ternyata sahabat saya Insan Saudale yang akrab saya panggil Om Be’a. Om Be’a menangis memeluk saya, saya pun menangis terharu.

Sebagaimana saya ceritakan di Seri I, Om Be’a berencana akan ikut bersama saya ke Rote di hari naas itu tetapi batal karena ada urusan keluarga yang mendadak.

Insan Saudale ini sudah saya anggap sebagai adik atau keluarga sendiri karena di Rote kami selalu bersama bahkan sering mengantar jemput anak saya ke dan dari sekolah.

Saya pindah tugas dari Rote ke Sulawesi Tahun 2008 dan saat pemilihan Caleg 2013, Om Be’a sukses terpilih menjadi Ketua DPRD Kabupaten Rote Ndao.

Kami berbincang-bincang kemudian Om Be’a pamit akan menjemput saudarinya Thesa Saudale di Maal lalu menanyakan nomor ukuran celana yang saya pakai yang katanya akan membeli pakaian dalam, celana, dan baju untuk saya saat menjemput Esa.

Sekitar dua Jam kemudian, Om Be’a datang membawa dua celana jeans, dua buah baju kaos, baju dalam, beberapa celana dalam, sikat gigi, handuk dan lain lainnya.

Saya merasa gerah sekali kemudian saya mandi dan memakai pakaian yang dibeli oleh Om Be’a, kemudian berbaring lagi di atas tempat tidur. Serelah itu Om Be’a pamit keluar dan berjanji akan datang lagi sebentar malam.

Sekitar Jam 16.30 Wita, ada sekitar 6 orang masuk ke kamar saya berpakaian rapi kemudian mereka berdiri sekitar 1 meter dari tempat tidur. Di antara mereka ada seorang perempuan yang berdiri paling kanan.

Seorang di antara mereka memperkenalkan nama (saya sudah lupa) yang bermarga Pah. Beliau ini berumur kira-kira 50an Tahun tetapi rambutnya semua berwarna putih.

Om Pah mulai berbicara dengan bahasa indonesia baku: “Bapak Pang, kami ini datang mengucapkan selamat kepada Bapak karena sudah selamat dalam kecelakaan itu tetapi ada yang saya mau tanyakan kepada Bapak Pang. Kalau Bapak Pang merasa terganggu maka kami tidak akan bertanya tetapi kalau Bapak Pang boleh membentu kami maka dengan selama hormat mohon Bapak Pang menerima pertanyaan kami”.

Saya: “Kakak, beta su fit jadi kalau Kakak mau bertanya atau minta Bantuan maka saya siap menjawab”.
Pah: “Kami ini keluarga Pak Derek Pah. Saya dia punya Kakak dan ini di kiri saya adalah istri Pak Derek. Bapak Pang pernah melihat atau bertemu adik saya Pak Derek di Kapal kah?”.

Saya mengeluarkan Jam tangan yang ada di lengan kiri dan menyerahkan ke Nyonya Derek. Ibu itu mengambil Jam tangan dan menciumnya kemudian berlari ke luar dan saat di depan pintu, ibu ini menangis histeris sambil memanggil-manggil nama suaminya. Semua orang yang ada di dalam Kamar tertusuk keluarga saya yang menunggui saya menangis sedih kecuali Bapak Pah yang masih tegar berdiri di tempatnya.

Suara tangisan Ibu Derek semakin menjauh sampai tidak terdengar lagi. Kemudian saat suasana sudah tenang bahkan hening, Bapak Pah bertanya lagi: “Bapak Pang, beta minta maaf karena katong su ganggu ni”.

Saya ; “Sonde apa-apa Kakak”.
Pah: “Jadi Bapak Pang pernah melihat Pak Derek ko?”.

Saya menceritakan sekilas tentang bagaimana kami bertahan hidup bersama Pak Derek dan Rio tetapi sayang Pak Derek dan Rio tidak mampu menghadapi gelombang yang dahsyat.

Selama saya bercerita, Bapak Pah sangat tegar kemudian beliau menyampaikan terimakasih kepada saya karena sudah berusaha membantu Pak Derek tetapi itu semua adalah Rencana Tuhan kata Pak Pah.

Pak Pah masih bertanya: “Menurut Pak Pang, kira-kira di mana kami bisa mencari mayat Pak Derek”.
Saya: “Bapak coba cari di tempat di mana saya terdampar di Pulau Semau”.
Pah: “Siapa yang tahu tempat itu Pak”.
Saya: “Bapak tanyakan ke Pak Camat saja. Dia tahu tempatnya. Dan kalau ketemu Pak Camat, tolong sampaikan supaya celana saya dikirim ke Rumah Sakit karena di saku celana ada cincin kawin dan cincin giok Pak Derek yang saya simpanan”.
Pah: “Baik Bapak Pang”.
Pak Pah pamit dan pergi.

bersambung-pasamboan pangloli

 

One comment

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *