suluhnusa.com_Jangan heran setiap bulan Desember selalu ada tamu istimewa di Pantai Kuta. Tamu itu adalah sampah.
beberapa tahun terakhir, Pantai Kuta berlangganan tamu istimewa, tamu kiriman yang tak tahu asal muasalnya. Tamu itu adalah sampah. Tamu menjadi terkenal sejak tahun 2010 lalu sampai dengan saat ini. Tak pelak, Gubernur Bali, Made Mangku Pastika bersama Wakilnya, Ketut Sudikerta pun turut menyapa tamu itu, sebelum matahari datang menjenguk.
Selamat pagi, sampah.! Pagi itu, 29 Desember 2013, rombongan Wakil Gubernur Bali, Ketut Sudikerta tiba di Pantai Kuta sekira pkl 05.30 wita. Selang beberapa saat, rombongan Gubernur Bali, Made Mangku Pastika, tiba di lokasi.
Kedatangan orang nomor satu dan dua di Bali ini, sungguh istimewa. Bersama jajaran pejabat dan beberapa kepala Dinas, dan juga Karo Humas Provinsi Bali, Ketut Teneng rombongan ini menyapa tamu istimewa itu. Menyapa sampah alias membersihkan sampah kiriman itu.
Terlihat Gubernur dan wakil Gubernur berserta para pejabat itu berbaur bersama warga Kuta menyapu, mengumpulkan sampah dan diangkut oleh armada mobil Dinas Kebersihan Kabupaten Badung yang sudah siap dilokasi.
suluhnusa.com, yang hadir pada saat itu menyaksikan betapa pedulinya Mangku Pastika dan Ketut Sudikerta soal kebersihan. Bukan karena Pantai Kuta sehingga kedua pejabat ini datang membersihkan sampah yang berserakan tetapi ini lebih jauh, karena konsentrasi dan komitmen mereka terhadap program Clean yang disatukan dengan Green itu-atau keren disebut Green and Clean.
Memang sejauh mata memandang, Pantai Kuta sepanjang bulan Desember sampai dengan Februari, ribuan wisatawan berbaur bersama jutaan ton sampah. Dan kedatangan Pastika dan Sudikerta ini menunjukkan kepeduliaannya terhadap tamu yang satu ini. Tamu istimewa di Bulan Desember, Sampah.
Mereka peduli. Kedua pejabat tinggi di Bali tidak serta merta mempersalahkan sampah. Apa mau di kata? Ini memang musim hujan dan kondisi alam mengharuskan kejadian ini. Dan beruntung, kehadiran jutaan ton sampah di Pantai Kuta ini tidak mempengaruhi kunjungan wisatawan. Anehnya, ada beberapa wisatawan yang mengaku datang ke Kuta hanya untuk melihat sampah yang berserakan. Khusus untuk membuktikan soal kebenaran yang diberitakan oleh media. Hal ini dibenarkan Wayan Sukharmana seorang Balawista, yang ditemui suluhnusa.com di Pantai Kuta.
“Ini bukan kejadian luar biasa. Ini kondisi alam yang harus direspin secara bijak. Dan sejauh ini para wisatawan tidak terganggu. Mereka enjoy berjemuran di antara tumpukan sampah. Bahkan ada wisatawan yang datang khusus di Bulan Desember untuk membuktikan bahwa benar Kuta ada sampah kiriman. Dan itu bukan hanya sekali mereka datang,” ungkap Sukharmana.
I Putu Eka Merthawan, Kepala Dinas Kebersihan dan pertamanan (DKP) Kabupaten Badung dibuat pusing dengan sampah kiriman yang menjadi tamu istimewa di Pantai Kuta. Betapa tidak Pantai Kuta yang menjadi kampung turis dicemari dengan sampah. Bukan karena sampah yang dibuang sembarang. Bukan pula karena petugas kebersihan dari DKP yang tak bekerja. Tetapi ini karena sampah kiriman. Sampah musiman yang menjadi tamu istimewa. Sungguh sebuah targedi musiman yang cukup mencoreng nama besar Kuta sebagai Pantainya para Turis asing.
Ibarat sampah itu manusia. Naïf memang. Bahwa, sampah yang dikirim tahun ini meningkat dratsis dari musim hujan tahun lalu. Ini ibarat manusia, seyiap musim hujan mungkin sampah ini saling mengajak untuk mengunjungi Pantai Kuta. buktinya, jumlah sampah kiriman ini semakin meningkat beberapa tahun terakhir.
Data suluhnusa.com, Jumlah sampah kiriman tahun 2012 lebih banyak dibandingkan 2010 lalu. Sampah yang terkumpul 2012 sekitar 50 ton per hari sedangkan periode sama 2011 sebanyak 30 ton.
“Tahun ini, 2013, setiap hari sampah yang diangkut oleh petugas DKP Badung sebanyak 5-10 ton per hari. Berdasarkan data harian, sampah tahun ini menurun dibandingkan dengan tahun lalu atau dua tahun lalu,” ungkap Merthawan.
Luar biasa. 2012 50 ton sampah mengunjungi Kuta tahun lalu. Meningkat dua kali limat dari periode yang sama tahun lalu, yakni 20-30 ton. Tak pelak petugas pembersih pantaipun lelah membersihkan sampah. Tugas yang cukup berat bagi DKP Kabupaten Badung, apalagi kondisi sampah tersebut mengandung air serta pasir sehingga menguras tenaga para pekerja untuk membersihkan.
Memang bukan berita baru soal sampah menumpuk di Pantai Kuta saat musim Hujan. Pihak DKP pun hanya pasrah seraya terus bekerja membersihkan. Sejak awal bulan Desember sampah kiriman terus datang, diangkut oleh petugas hamper setiap lima jam sehari lalu datang lagiu sampah yang baru. Apalagi saat pagi hari, cocok member salam, selamat pagi, sampah. Sebab ibarat tamu yang sedang menikmati deburan ombak di pantai Kuta.
Saat ini sebanyak 21 orang petugas kebersihan disiagakan untuk bertugas membersihkan sampah tersebut supaya kebersihan di Pantai Kuta tetap terjaga. Merthawan mengatakan, selain petugas disiapkan pula lima alat berat dengan sebelas truk pengangkut sampah yang digunakan untuk mengangkut sampah berupa kayu, daun, dan plastik itu.
“Kami juga menyiagakan 100 truk cadangan guna mengangkut sampah kiriman tersebut,” ujarnya. Sampah yang dikumpulkan itu nantinya diangkut ke Tempat Penampungan Sampah Akhir (TPA) Suwung, Denpasar. Apabila tidak bisa maka ditampung di tempat penampungan sampah sementara yang ada.
Terasa lelah, tetapi tetap saja belum mampu menyelesaikan persoalan ini. Bahkan masyarakat dan wisatawanpun dikerahkan untuk membersihkan pantai. Tenaga terkuras. Lelah mencari solusi tetapi demi Bali, Eka Merthawan tak pernah mengeluh, sembari memberi komit, selagi masih ada napas tak pernah lelah mengurus sampah, walau itu sampah kiriman. Pun demikian dengan Pastika dan Sudikerta. Selamat Pagi, Sampah.! (sandro wangak)
