Air Susah, Siswa di Flotim Kritik Lewat Panggung Teater

suluhnusa.com – TERDAPAT BEBERAPA POHON MENYERUPAI BEBUKITAN KECIL DAN BATU SERTA MATA AIR DAN NORA (BAMBU UNTUK AIR DIALIRI AIR). NUANSA TEMPAT SERBA KEKERINGAN. TAMPAK PARA PEREMPUAN DESA ITU MEMELUK “LEKA” SEBAGAI PERWUJUDAN PEREMPUAN LAMAHOLOTMENJAGA WARISAN LELUHURNYA.

AIR MATA AIR adalah sebuah karya pentas sederhana menampilkan ikon air yang berawal dari mata air dan menjadi perihal perbincangan hebat sekarang ini.

Mata Air bisa menjadi Air Mata ketika kita terlena dan berjalan sendiri.

Dalam pentas ini tokoh 3 tungku berperan dalam lewo sebagai tempat tinggal ribu ratu.

Lewo dengan karakternya menawarkan pesan tentang bagaimana merawat alam dan menjaga keluhuran nilai lamaholot.

Air begitu menjadi sosok ibu yang adalah perempuan sehingga kita tidak bisa mempermainkan sebagaimana ia adalah rahim dari lewo – ibu dari dunia.

Bagaimana kisahnya?

Demikian latar dan sepenggal sinopsis dalam pentas teater “ Air Mata Air” ketika Bumi Perkemahan Nusa Dani Solor Barat menjadi saksi. Ketika setiap Gugus Depan (Gudep) semua sekolah yang hadir untuk mengikuti Kemah Kwarcab Flotim, 11-15 Agustus 2019, menampilkan kebolehan dalam mengisi acara Pentas Seni dan Budaya. Di sana ada Tarian Daerah, Dolo – Berbalas Pantun, Lagu daerah dan musik khas daerah, Teater Budaya Lamaholot dan acara hiburan lainya. Disaksikan seluruh Pembina dan peserta pramuka Kemah Kwartir Cabang Flores Timur 2019

Tidak hanya di Bumi Perkemahan Nusa Dani saja namun Kelompok Teater juga turut mengambil bagian untuk mengisi acara pada Hari Kemerdekaan 17 Agustus di Lapangan Waibreno Desa Baya Kecamatan Adonara Tengah dalam tema pentas teater yang sama, disaksikan Camat Adonara Tengah Paulus Petala Kaha, M.Si,para unsur Muspika Kecamatan Adonara Tengah, Para Kepala Sekolah dan Guru TK, SD,SMP dan SMA para siswa, Kepala Desa Sekecamatan Adonara Tengah dan Masyarakat.

SMAN 1 Adonara Tengah lewat kelompok Teater “Naman Tukan “ yang sudah berdiri kurang lebih 5 tahun seumur sekolah ini diresmikan, memilih tema yang begitu unik seturut apa yang menjadi keprihatinan negeri terkhusus masyarakat Flores Timur yakni krisis lingkungan yakni air, serta bagaimana merawat alam secara khusus wilayah sekitar mata air, peran tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh pemerintah dan tokoh agama untuk bertanggung jawab menjaga dan melestarikan alam lingkungan, menjaga keutuhan alam lingkungan sebagai anugerah sang pencipta wajib dijaga dan dirawat selayaknya demi generasi yang akan datang. Semua ini secara mendetail dikupas lewat isi dan irama teatrikal dalam pentas teater” Air Mata Air”.

Begitu sederhana dengan konsep natural cukup memantik dan terasa bahwa alam itu perlu dijaga dan dirawat apalagi omong tentang air. Dalam bahasa sederhana lamaholot “ gong peten menu kepae” (makan tetapi ingat juga masa depan), seperti menabung kita juga sedang menyiapkan dan atau menjaga agar segala sesuatu tidak akan punah seperti air.

Dalam cerita sederhana ini yang dipadukan dalam narasi awal seorang tokoh adat ketika melihat gejala alam yang begitu kurang bersahabat, seperti bencana kekeringan dan sosial lainya seakan membuat masyarakat” ribhu rathu” sudah tak jelas hidupnya, begitu banyak tuntutan dan pola pembangunan beragam aspek hidup di “ lewo tanah” (kampung halaman),peran agama dengan tuntutanya, pemerintah dengan dan Adat Budaya dengan segala delik tuntutannya namun gejala alam kekeringan air bisa menjadi penghambat segalanya karena semua membutuhkan air.

Siapa yang salah ? ini menjadi polemik dan penampilan teater AIR MATA AIR menjadi jawabannya bahwa semua berkolaborasi , butuh kerjasama yang baik yakni gotong-royong mulai menjaga lingkungan alam,merawat lingkungan sekitar mata air, serta menjaga ikon dan warisan nilai leluhur yang menjadi kekuatan seperti PAO BOE (sesajian member makan leluhur) dan menghormati penunggu atau roh halus “ Nitung” atau pemilik tempat atau “ ning” yang mendiami sebuah tempat di mata air seperti batu besar, pohon besar, dan tempat lain yang dianggap sakral. Bagaimana cara memujanya? Hanyalah menghormati dengan sesajian, omong dengan baik “amet wat” dan mencari tempat baru bagi mereka.

Pada penampilan ini para penari yang menjiwai kaum ibu dengan busana betul betul zaman dulu, dalam irama gambus mereka menari sambil memegang “ Leka “yakni tempat mengisi air dari bambu yang disekitar mata air sudah ada “ Nora” yakni pengganti pipa dari bambu tempat mengalirnya air. Para ibu dalam pentas membacakan Puisi TANAH AIR MATA karya Sutardji Calzom Bachri cukup membuat penonton seakan terbawa emosinya, suasana hening terbawa, menangis dan terdiam. Memang pada dasarnya di Adonara Tengah betul-betul krisis air apalagi di Flores Timur dan menjadi persoalan serius yang tengah dihadapi.

Suasana menjadi berubah gembira ketika kehadiran tokoh pemerintah yang menjawabi kebutuhan masyarakatnya. Masyarakat begitu gembira menyambut hadirnya air di kampungnya masing masing. Tak lupa menyukurinya dengan upacara keagamaan masing-masing.

Hal ini ditunjukan dengan seremonial penjemputan air masuk kampung yang diibaratkan Ibu,perempuan, yang melahirkan, dalam bahasa lamaholot bahwa air adalah sosok “kwae” (perempuan) yang hadir dan harus dijaga dan dihormati. Semua terkolaborasi dalam peran,tari dan puisi penampilan karya anak kampung “ Pentas Air Mata Air” dalam guratan naskah guru kampung SMAN Adonara Tengah sebagai penata Naskah,penata music dan penata busana yang mungkin masih dalam keterbatasan.

 

Thomas Arakian

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *