suluhnusa.com-Sebanyak 35 peserta dari 6 kecamatan (Ile Ape, Ile Ape Timur, Lebatukan, Omesuri, Buyasuri, dan Nagawutung) mengikuti kegiatan workshop dan pelatihan sekolah aman di Hotel Palm, Lewoleba (28/10).
Peserta terdiri dari kepala sekolah, guru, komite sekolah dasar, pengawas sekolah TK/SD dan anggota forum Pengurangan risiko bencana (PRB).
“Salah satu kelompok yang rentan menjadi korban bencana adalah anak-anak usia 3-12 tahun yang berada di sekolah TK atau Sekolah Dasar. Bencana bisa saja terjadi saat kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung,” kata Kornelia Penate, Sekretaris Eksekutif Yayasan Bina Sejahtera.
Menurut Kornelia, kondisi ini bisa dikurangi, jika sekolah telah memiliki standar-standar kesiap-siagaan bencana di sekolah.

Kegiatan yang digagas oleh Plan International Indonesia ini bekerjasama dengan Yayasan Bina Sejahtera (YBS) melalui proyek pulau tangguh (Resilient Island).
“Kami ingin menciptakan sekolah sebagai tempat belajar yang aman dan nyaman bagi anak-anak generasi penerus bangsa,” kata Muhammad Thamrin, Program Area Manager Plan International Indonesia Program Area Lembata.
Melalui pelatihan ini, kami ingin memberikan pemahaman dasar kepada kepala sekolah, guru dan komite tentang konsep-konsep dasar sekolah aman bencana, lanjutnya.
Harapannya adalah dengan memiliki pemahaman yang baik tentang sekolah aman bencana, peserta bisa menjadi fasilitator handal dan bisa menularkan ilmu yang didapat di masing-masing sekolah ataupun daerahnya.
Materi yang diberikan selama 3 hari ini yaitu, materi tentang sekolah aman komprehensif, pemetaan ancaman, kerentanan, dan kapasitas, sampai kepada pembuatan peta risiko bencana sekolah dan pembentukan tim siaga bencana sekolah.
Keseluruhan materi ini mencakup standar kesiap-siagaan dengan penerapan 3 pilar sekolah aman bencana, yaitu fasilitas sekolah yang aman, manajemen bencana di sekolah dan pendidikan PRB di sekolah.(sandrowangak)
