suluhnusa.com_Orang barat, banyak kasih belajar orang di dunia, sekarang kami orang barat belajar ke timur untuk kasih belajar orang barat, sebuah ungkapan penuh makna diungkapkan oleh Nicolaus Meteral Australia, Wendy Alan, warga Australia, dan Jurek Lubinski warga Poladia Senin 6 April 2015 di Honihama Desa Tuwagoetobi Kecamatan Witihama Kabupaten Flores Timur NTT.
Keberadaan ketiga warga manca negara di Honihama desa Tuwagoetobi, dalam sebuah perjalanan refresing ke pulau Adonara, setelah mengikuti ziarah rohani semana santa di Larantuka selama sepekan.
Di Honihama, mereka bertemu dengan seorang Wirausaha Bapak Kamilus Tupen Jumat, Ketua Kelompok Tani Lewowerang (KTL) yang pernah mendapat penghargaan tingkat Nasional Kusala Swadaya Award tahun 2013, dalam kebehasilannya mengelolah KTL.
Kampung Honihama, terkhusus lagi pada KTL, jagung titi (Makanan dari jagung yang dititih) diproduksi cukup bagus dan banyak serta sudah mampu mendatangkan keuntungan bagi anggota kelompok.
Banyak anggota KTL dapat meyekolahkan anaknya, dari hasil menjual jagung titi. Dalam diskusi, bersama warga Australia dan Polandia, anggota KTL menyuguhi kopi dengan jagung titi. Saat mengkonsumsi jagung titi, ketiganya, mengaku baru pertama kali mengkonsumsi jagung titi. Bagi mereka, jagung titi rasanya enak dan gurih .” Rasanya enak dan gurih yah, baru pertama kali makan jagung titi” ungkap mereka .
Dalam bahasa indonesia yang tertatih- tatih, mereka bertanya banyak tentang kehidupan masyarakat Desa. Kepada mereka Kamilus Tupen menjelaskan bahwa orang – orang desa dalam bekerja tidak berorentasi mengumpulkan kekayaan atau dikenal dengan kaum Kapitalis, orang desa hanya berorentasi pada bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari –hari, tidak ada orang desa yang berlomba siapa yang lebih kaya, saling menolong dan berkorban antara satu warga dengan warga yang lain masih sangat tinggi.
“ Kami orang desa bekerja tidak berorentasi untuk mengumpulkan kekayaan, dan di KTL, kami sangat menentang gaya kapitalis, cukup kebutuhan sehari –hari terpenuhi, kami sudah merasa gembira. Kami bangga makan diatas, tanah kami sendiri”, ungkap Kamilus.
Saat bertanya, tentang bagaimana cara sistem kelolah tanah secara alamih yang saat ini dipakai oleh warga dalam bercocok tanam, Kamilus Tupen mengatakan, saat ini sistem kelolah tanah secara alamih yang dilakukan oleh warga, adalah sistem kadang pindah – pindah artinya, Warga sering membuat kadang kambing berpindah – pindah, karena tanah pada areal bekas kadang kambing subur dan cocok untuk bercocok tanam, selain itu karena lahan semakin sempit.
” Tanaman yang kami tanam di kebun disesuaikan dengan kondisi alam (kondisi tanah) diataranya, jagung, padi, dan ubi kayu. Meteral Australia, Wendy Alan, warga Australia, dan Jurek Lubinski warga Poladia, mengaku sangat senang berada di Adonara.( Maksimus Masan Kian)
