suluhnusa.com,Nama aslinya Stanley Emil Tobi Tukan. Stanley memilih jalan hidupnya sebagai pelukis. Dengan melukis, ia mendapatkan kebahagiaan. Melukis pun merupakan ekspresi batin yang terdalam bagi Stanley. Karenanya, tampakan visual dalam lukisan-lukisannya merupakan ekspresi batiniah sekaligus refleksi atas pengalaman hidupnya sendiri.
Bagi Stanley, lukisan seharusnya tidak asal-asalan. Seorang yang melukis harus sungguh-sungguh dan butuh perhatian penuh. Kemampuan teknis tidak cukup bagi seorang pelukis. Karena itu, Stanley terus belajar mengembangkan bakat dan kemampuannya dalam melukis.
Sebenarnya, kemampuan Stanley dalam melukis adalah sebuah bakar alamiah. ia menceritakan bahwa kemampuannya melukis sudah ada ketika sedang bayi. Kata orang tuanya, Stanley hanya bisa tenang kalau diberi ASI (air susu ibu) dan pensil-ketas ketika ia masih bayi. Itu saja. Bakat Stanley pun berkembang sejak saat itu. Pria kelahiran Kinabalu, 21 Juni 1985, ini sebenarnya adalah sosok penyendiri. Ketika teman-teman sekolahnya bermain, ia memilih untuk melukis. Ia melukis apa saja yang menurutnya menarik. Karena itu ia mengatakan, melukis itu bermain.
Sebagai putra Flores Timur, Stanley pernah mengeyam pendidikan SD dari tahun 1992/1993 – 1997/1998 di SDK Lewotala dan 1998/1999 – 2000/2001 di SLTP Katolik St. Gabriel Sarotari Larantuka, lalu tahun 2001/2002 – 2003/2005 di SMA Katolik St. Darius Larantuka. Sejak duduk di bangku SLTP, Stanley sudah mengasah kemampuan seninya dengan eksplorasi hias panggung (dekorasi). Hasil karyanya itu sangat memuaskan dan terima oleh masyarakat setempat. Apresiasi atas karya-karya dekorasi membuat Stanley ingin terus mengembangkan bakatnya itu. Setiap apresiasi adalah motivitas baginya.
Motivasi belajar Stanley sangat tinggi. Ia tidak berhenti melukis hanya dengan otodidak. Bagi Stanley, belajar melukis otodidak memang penting. Tetapi, otodidak tidaklah cukup. Melukis secara otodidak hanya mengasah kemampuan teknis saja. Padahal, melukis tidak hanya berkaitan dengan kemampuan otodidak, tetapi juga konsep. Karena itu, Stanley memilih untuk belajar di Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta. Kini, Stanley sedang belajar di ISI Yogyakarta, sejak tahun 2009.
Bagi Stanley, belajar di ISI Yogyakarta sangat menunjang kamampaun melukis. Dengan belajar melukis di jalur formal terbuka jalan baginya untuk menggeluti dunia seni rupa sebagai seniman akademik. Dengan begitu, bukan hanya kemampuan teknis, tetapi konsep seni pun dengan sendirinya dapat menjadi lebih baik. Sebagai seniman akademik, seniman dapat membuat perubahan dan gerakan-gerakan baru dalam seni, sehingga seni itu tidak monoton.
Saat ini, lukisan-lukisan Stanley adalah ekspresi religius-spiritual. Lukisan dengan tema religius selalu menjiwai setiap karyanya. Tema-tema itu tidak lepas dari akar budaya Stanley. Budaya Flores Timur yang kental dengan nilai-nilai religus Katolik sangat kental berpengaruh pada proses kreatif Stanley. Butir-butir budaya dan religiusitas itu menjadi inspirasi dan kekuatan besar bagi Stanley dalam berkarya di dunia seni rupa. Hal ini juga tidak lepas dari refleksi pribadinya yang juga sangat religus. Baginya, bakat dan kemampuannya adalah talenta besar yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa. Katanya, “saya sangat berdosa kalau saya tidak mengembangkan talenta itu, untuk diri saya sendiri dan juga orang lain”.
Kuas Stanley sudah lama tercelup dalam pop art. Pop art menjadi gaya dalam proses kreatifnya. Hal itu terjadi tanpa ia sadari sebab seni yang ditawarinya adalah seni yang dipengaruhi oleh gejala-gejala budaya populer. Gejolak batin selalu dipengaruhi oleh gejala-gejala budaya populer dalam proses berkaryanya.
Pemilihan latar belakang obyek karya lukis Stanley pun tidak lepas dari warna violer, biru dan ke-hitam-an. Permainan warna ini mendefinisikan gambaran suasana kesunyian, kedamaian, kelembutan, harapan dan suka cita. Karya Stanley berjudul “Pray #1” dan “Pray #2” secara gamblang menunjukan suasana itu; Bunda Maria yang penuh kelembutan dan kedamian, dan seorang yang sedang berdoa dalam harapan, suka cita dan kesunyian”. Semua itu tidak lepas dari refleksi batin pelukis yang religius dan spiritual.
Sebagai seorang seniman yang sedang tumbuh dalam lingkungan akademis, Stanley sudah mengikuti berbagai acara pameran seni lukis dan seni rupa. Di Yogyakarta, ia merupkan seorang seniman NTT yang cukup dikenal. Sambutan atas karyanya sangat memuaskan dan mendapat apresiasi baik dari para kurator. Ada pun pameran yang penah diikuti Stanley, sebagai berikut:
2007 :
- Pameran Seni Lukis “Kampung Komunikasi” Universitas Merdeka Malang
2009 :
- “Drawing Lover” Gallery Katamsi, Institut Seni Indonesia Yogyakarta
- “Pameran Seni Lukis” Gedung Seni Teater, Institut Seni Indonesia Yogyakarta
- “Pameran Lorong Seni Murni” Institut Seni Indonesia Yogyakarta
2010 :
- “Pameran Sketsa” Gedung Interior Institut Seni Indonesia Yogyakarta
- “ Drawing Lovers #2” UPT Gallery Institut Seni Indonesia Yogyakarta
- Pameran Seni Lukis “ JOGJA GUMREGA! JOGJA BANGKIT” di Jogja Nasional Museum (JNM) Yogyakarta
2011 :
- “Pameran lorong seni murni_Lukis” Institut Seni Indonesia Yogyakarta
- ‘’Pameran Lorong Seni Murni_Sketsa’’ ISI Yogyakarta
- Pameran Angkatan 2009 “ The Best Of The Best” Galeri Tujuh Bintang Yogyakarta
2012
- Pameran Seni Rupa “ Penindasan Wong Cilik “ Nol Kilometer Yogyakarta
2013 :
- Pameran Seni Lukis “ Cahaya dari Timur “ Taman Budaya Yogyakarta
- Pameran Seni Lukis “ Muncrat “ HMJ Seni Rupa ISI Yogyakarta
- Pameran Seni Rupa “ Journey To The East “ Taman Budaya Yogyakarta
Dengan mengikuti berbagai acara pemeran seni lukis dan seni rupa di atas, Stanley sudah menjukan kualias dalam seninya. Melalui seni lukis, ia bersuara untuk dunia, untuk dunia yang lebih baik. Melaui seni lukis juga ia sendang membuat sejarahnya sendiri, juga sejarah seni lukis NTT dan Indonesia. Karena melukis itu bermain, maka Stanley sedang bermain dengan dunia yang membesarkan dan menginspirasinya.
Djogja, Desember 2013 Alfred Tuname



