Tentang Danau Sano Limbung dan Kampung Lada

suluhnusa.com_Memang tempat itu masih perawan, alias belum tersentuh sedikitpun oleh tangan jahil manusia.Tempatnya berada didalam hutan lindung,dengan panorama alam yang sungguh eksotik. Tetapi sampai hari ini, belum ada satupun wisatawan yang berkunjung kesana.

Disekitarnya berdiri tegak pepohonan rindang, tak lupa jua pohon aren yang merupakan sumber mata pencaharian bagi masyaraakat Limbung kala itu.Menuju tempat itu perlu kewaspadaan. Meskipun jarak dengan jalan raya cukup dekat, sekitar 50 meter, namun kita harus waspada karena harus melalui jalan curam dan terjal.Tempat itu memang berada di lembah curam.Namun nuansa alam masih sangat terasa kesejukannya. Itulah Sano Limbung. Sano dalam bahasa setempat diartikan sebagai Danau. Sedangkan Limbung adalah nama salah satu kampung yang terletak sekitar 35 km dari Labuan Bajo, ibu kota Kabupaten Manggarai Barat, tepatnya di desa Compang Tureng,Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat. Disebut Sano Limbung, konon berdasarkan mitos masyarakat setempat bahwa Sano/Danau itu awalnya adalah sebuah kampung kecil.

Nama kampungnya Limbung.Penghuninya merupakan keturunan nenek moyang Kampung Lada. Bagaimana kisah tersebut? Berikut hasil penelusuranWartawan suluhnusa.com, Richard Kandy, dari Labuan Bajo, NTT. Limbung adalah nama kampung kecil, yang terletak di Desa Compang Tureng Kecamatan Boleng.Kampung Limbung,zaman dahulu kala dihuni oleh sekelompok masyarakat yang berketurunan Lada. Dari Pengakuan Kepala Desa Compang Tureng,Theodorus Syukur, dulu orang Lada berprofesi sebagai pedagang.

“Nenek moyang kami berprofesi sebagai pedagang. Kami sering menyebut mereka pedagang antar pulau. Mereka berdagang mulai dari Sape hingga Gowa Sulawesi Selatan.Dari cerita mereka (nenek moyang kami,red), kampung Limbung itu bisa di lihat dari Sape,NTB.Biasanya saat malam hari nyala api masyarakat Limbung kelihatan dari Sape. Api dalam tradisi masyarakat Limbung menjadi simbol bahwa Kampung Limbung itu berpenghuni. Kelihatan dari Sape, karena kampung itu dulu berada didataran tinggi” ungkap Theodorus.

Dalam beberapa kali perjalanan berdagang, nenek moyang kami biasanya jalan sendiri, karena satunya sudah menikah dan menetap di kampung isterinya. Karena dalam satu keluarga itu, mereka terdiri dari tiga bersaudara,dua laki-laki dan satu perempuan. Suatu ketika nenek laki-laki kedua, mengajak adik perempuannya untuk berdagang bersama di Bima dan Makassar. Sesampainya di Makassar, nenek laki-laki kami itu bersetubuh dengan adik kandungnya itu, hingga hamil.

“Saat itulah mereka langsung kembali ke kampung halamannya di Limbung. Sesampainya di Limbung, mereka menginformasikan peristiwa kehamilan itu kepada orang tuanya. Merasa kecewa dengan tindakan kedua anaknya, orang tua mereka langsung mengutuk perbuatan mereka.Saat itu juga orang tua mereka langsung menghilang.Tiba-tiba saja, kampung itu digenangi oleh air. Akibatnya, semua perlengkapan adat mereka, seperti gong, gendang, serta perlengkapan rumah tangga lainnya terbawa air bah tersebut. Karena merasa memiliki dengan perlengkapan adat salah satunya gong yang terapung itu, anak laki tadi mengejarnya, namun tak kunjung dapat. Kemudian, dia menyuruh adik perempuanya untuk melempar tali kedalam air tempat dia berenang. Akibat gong yang dikejarnya belum didapatkannya, terpaksa kakanya semakin kedalam berenangnya. Saat itu adiknya terpaksa mengikuti kakaknya, karena tali yang mengikat pinggang kakaknya semakin pendek, tak terasa adik perempuannya itu, ikut tercebur kedalam danau besar tersebut.Selang beberapa saat dari kejadian itu, keduanya ikut tenggelam.”papar Theodorus.

Sampai adanya keturunan Lada sekarang, karena kakak sulung mereka menikah dengan wanita dari kampung lain, dan tinggal bersama bapa mantunya di kampung itu. Saat kejadian berlangsung, kakak sulung itu memindahkan semua perlengkapan rumah tangga yang tersisa ke kampung Lada. Jaraknya sekitar 1 km dari Sano Limbung tadi. Namun setelah beberapa tahun tinggal di Lada, tiba-tiba seluruh rumah dari keturunan itu dilalap api.Akhirnya mereka pindah di Ngaet hingga sekarang.

Adapun bukti bahwa Sano Limbung bekas perkampungan keturunan Lada menurut Theodorus adalah, masih terdapat tempat sesajian/persembahan(bahasa Manggarai-compang), pohon pinang dan pohon kelapa,juga ditengah Danau masih terdapat tiang rumah merek dulu.

Rombongan Wartawan PWMB menyusuri hutan menuju ke lokasi Danau Sano Limbung (foto : richard kandy)
Rombongan Wartawan PWMB menyusuri hutan menuju ke lokasi Danau Sano Limbung (foto : richard kandy)

Butuh Sentuhan

Jarak Danau Sano Limbung dengan Labuan Bajo berkisar 35 km. Sementara dengan Ruteng Ibu Kota Kabupaten Manggarai berkisar 75 km.Danau Sano Limbung hingga kini belum dimasukan dalam daftar objek wisata Kabupaten Manggarai Barat.

“Kami sudah mengajukan proposal,agar Danau ini masuk dalam daftar objek wisata oleh Pemda Manggarai Barat. Hingga kini belum ada tanngapan dari Pemerintah, meskipun semua persyaratan kami sudah penuhi.Harapan kami agar tempat ini dijadikan objek wisata tahun 2014 mendatang”tegas Theodorus.

Masih Theodorus,akses transportasi menjadi kendala utama objek wisata ini tidak dikunjungi wisatawan.”Sampai hari ini, Danau Sano Limbung belum pernah dikunjungi wisatawan, khususnya wisatawan manca negara. Kami berharap dengan adanya kunjungan dari teman-teman wartawan, keunikan Sano Limbung bisa dipublikasikan, sehingga menjadi daya tarik wisatawan”tuturnya.

Untuk diketahui bahwa Danau Sano Limbung memiliki keunikan tersendiri. Selain sebagai danau vulkanik, didalam danau hidup beberapa spesies ikan.Ikan tersebut sengaja dilepaskan masyarakat 35 tahun silam.Disaksikan para wartawan ikan-ikan tersebut kini sudah bertambah banyak dengan ukuran bervariasi. Selain ikan terdapat beberapa jenis itik, udang dan belut. Hanya nasih terkendala jalan masuk serta penataan kawasan danau tersebut. Masyarakat disekitarnya sangat berharap agar pemda mabar secepatnya menata danay tersebut sehibgga bisa dijadikan objek wisata seperti danau Sanonggiang di Kecamatan Sanonggoang. Luas Dana Sano Limbung berkisar 3 hektar lebih, dengan kesalaman mencapai 100-200 meter.

Disekitar danau itu juga terdapat beberapa pohon aren.Oleh masyarakat setempat pohon aren menjadi berkah tersendiri. Bahkan mereka menjadikan pohon aren sebagai bahan baku produksi gula Merah.Bahan dasarnya adalah nira dari pohon aren tersebut. Diakui Theodorus,beberapa orang tua mereka masih memproduksi gula merah. Kata Dia, dengan gula merah itu,anak-anak dari kampung ngaet bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

“Semuanya itu kami membutuhkan bantuan kasih dari Pemerintah, agar danau Sano Limbung beserta seluruh isinya diperhatikan oleh Pemerintah Manggarai Barat, NTT “harap Theodorus. (***)

 

2 Comments

  1. sya lg penelitian danau sano limbung by hendra, butuh informasihnya dong.

  2. yo kita sama2 memajukan desa lujang…….kita bangkitkan panoramanya yang indah…….

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *