pagi melayang aku mengenang
cinta yang menetas saban musim
mengajak matahari pulang ke matamu yang teduh dan sayu
mungkin aku satu
serupa perahu di telaga
memetik teratai yang menguapkan mimpi para penjaga
tapi darah membara di nadiku
membakar tiap sudut ego
hingga menjadi abu
akan kemana mereka berlari
sedang senja tak pernah pasti
puing puing kelakar mungkin menjadi jejak yang kemudian menghilang perlahan
sedang jiwa menjadi hangus dengan dendam dan air mata
maka kini kuhibahkan kitab kitab penyeret dahaga yang panjang
dengan sederet sloka yang melelehkan ingatan
maka kini,
kuserukan pada mereka dengan pasti
milikilah..
aku tak kan menggugat lagi