Alexa membuka laptopnya. Jemari lentiknya menari-nari di atas laptop itu. Kemudian kisah tentang pemanipulasian fakta bercampur dengan intrik, konspirasi, pengerahan massa, pencucian otak dan beragam instrumen yang menjurus ke pemecahbelahan dengan isu-isu yang lebih menukik ke permusuhan antar tetangga, antar keluarga dan antar kerabat, dihembuskan secara perlahan dan pasti.
Ketika semuanya berhasil, maka ia muncul sebagai juru selamat sekaligus pahlawan yang berhasil membungkam pertikaian itu hingga gaungnya surut perlahan-lahan. Dan Han adalah orang yang paling cocok dijadikan tumbal karena ia pintar, dan publik figure yang dikagumi penduduk dusunnya.
Lalu berita itu naik ke permukaan. Desa Simpasari gempar. Dore Bara tempat tinggal orangtua Han juga merasakan imbas yang sama. Penduduk akhirnya sadar mereka hanya alat yang bertahun-tahun telah difungsikan sebagai kendaraan untuk membawa sang pemimpin ke puncak tahta tanpa mahkota, tahta yang diperoleh dengan air mata, darah dan nyawa orang-orang tak bersalah. Orang-orang yang mudah tersulut emosinya hanya karena masalah sepele.
“Terimakasih Alexa, kau telah mengembalikan jejakku yang hilang di Dore Bara. Begitu juga dengan penduduk dusun Simpasari, kini mereka sadar kalau selama ini mereka telah membuang waktu yang paling berharga yang mereka miliki. Tulisanmu membuka mata semua penduduk di dusun Simpasari dan Dore Bara bahwa persatuan dan kesatuan itu lebih penting dari segalanya.
Alexa…aku telah memutuskan untuk meninggalkan Jakarta dan memulai hidup sebagai petani di sini, di Dore Bara. Jika kau berkenan, datanglah lagi kemari, aku ingin kau selalu di sampingku, aku cinta padamu Alexa…” begitu isi E-mail yang dikirimkan Han atau lengkapnya Burhanuddin pada Alexa.
Alexa menutup laptopnya, dengan senyum penuh kebahagiaan ia mengambil koper dari apartemennya, kali ini ia pergi ke Dore Bara tidak lagi dengan rasa cemas seperti ketika ia melewati dusun Simpasari, Han telah menentramkan dusun itu. Dan Alexa tahu lelaki pujaannya memang punya kemampuan yang di atas rata-rata.
Ah, dari balik jendela pesawat, gadis dengan usia yang sudah pantas untuk menikah itu telah mengangankan untuk menonton pacuan kuda bersama Han di Lapangan Lembah Kara yang dipanoramai gunung-gunung dan persawahan serta hutan yang tertata dengan harmonis.
Para joki cilik yang dipaksa orangtuanya untuk memacu kuda-kuda Sumbawa yang liat dan gesit di arena pacuan kuda, membuatnya tersenyum sekaligus miris.
Mereka baru berusia lima hingga enam tahun, setiap Minggu mereka harus bertengger di atas punggung kuda tanpa pelana, memacu kuda agar menjadi yang nomor satu, bertaruh demi uang yang akan diberikan pada orang-orangtua mereka, memacu kuda dengan tenaga ekstra demi memuaskan para penjudi dewasa yang bertaruh dengan nafsu yang penuh dengan raut rakus akan uang.
Jika kalah, sang orangtua akan memakinya dan bila perlu menampar pipinya yang tirus dan letih. Betapa, dalam dunia kanak-kanak mereka, para orangtua telah mencerabut ruang bermain sekaligus masa-masa sekolah yang sudah selayaknya mereka kecap.
Alexa tersenyum getir dan menarik nafas panjang seraya berkata, aku datang Han, semoga kita bisa berbuat banyak untuk para joki cilik itu. Ya, aku akan datang…
***
Oleh : Fanny J. Poyk