“Kau tahu apa yang kau lakukan ini salah?” kata Alexa sengit ketika melihat Han berdiri berlumuran darah dengan parang di tangan kanannya.
“Apa maksudnya kau menyuruhku datang dengan tiba-tiba? Ini yang akan kau perlihatkan padaku? Egomu untuk memperlihatkan pada warga dusunmu bahwa kau mempunyai seorang kekasih yang dapat meliput sekaligus menulis semua yang terjadi untuk dimuat di majalahku?
Han, seandainya alasan itu kau berikan sebelum membelikanku tiket, aku tidak akan datang ke sini dengan tiba-tiba. Ada pekerjaan penting yang tengah kukerjakan dibanding melihat perbuatanmu yang kekanak-kanakkan ini!” Alexa duduk di ruang tamu rumah Han dengan perasaan putus asa.
Perjalanannya masuk ke dusun Dore Bara ternyata tidak semudah yang ia bayangkan. Di perjalanan dari Poto Tano menuju Kabupaten Dompu, Alexa harus melalui dusun Simpasari yang penduduknya tengah bertikai hebat dengan sesama mereka.
Permasalahan yang mencuat awalnya sepele, hanya karena satu tetangga dengan tetangga lainnya saling bertengkar, dendam kesumat muncul dan mengakar dengan kuat. Balas dendam menjadi kisah klasik yang tidak bisa terelakkan. Dan Han ikut berperan di dalamnya. Sialnya itu dilakukan tatkala ia tengah mengambil cuti pulang kekampung halamannya.
“Harusnya kau tak perlu membelikanku tiket untuk datang ke sini. Uang itu bisa kau berikan pada Ayah dan Ibumu.” Bisik Alexa dari balik terali besi, sel tahanan Polsek Dore Bara.
Han menundukkan kepalanya. “Kau tahu Alexa, kakakku yang tinggal di dusun Simpasari, puteranya tewas dengan sia-sia. Aku tak tega melihat keponakanku meninggal akibat tusukan belati dari teman sepermainannya itu. Sebetulnya, semua yang terjadi kulihat hanya rekayasa yang dibentuk sejak lama.
Keadaan ini berbau politis, ada orang yang berada di belakang huru-hara ini, dia ingin muncul sebagai penyelamat, masyarakat dusun akhirnya membela dia dan memuluskan jalannya untuk menjadi anggota utusan daerah dan akhirnya ia dengan mudah dapat melenggang ke Senayan. Konspirasi teori telah ia jalankan, dan ia berhasil. Membangkitkan dendam yang tak berkesudahan.”
“Kau yang menjadi tumbalnya. Ah, Han…jika kantormu tahu kau telah menjadi narapidana, bosmu pasti akan memecatmu. Lihat, namamu telah terpampang di Koran Daerah, sebentar lagi Koran Ibukota akan mengendusnya. Aku…”
“Itulah salah satu sebab mengapa aku memintamu datang ke sini. Tulislah kisah ini dengan bentuk berita features, Alexa. Aku ingin masyarakat tahu bahwa di sebuah dusun, di sebuah kabupaten terpencil dari sebuah pulau yang menjadikan kuda sebagai sarana transportasi dan pacoa jara alias pacuan kuda, masih ada sosok-sosok ambisius untuk memecah belah harmonisasi yang sudah tercipta ratusan tahun lamanya. Ia hanya ingin memperkaya dirinya sendiri, jika ia terpilih maka kepentingan individunya yang ia bawa. Dusun kami tetap terkebelakang dan tidak mampu seperti dusun lain yang penduduknya hidup sejahtera dengan bertani dan beternak. Tulislah itu Alexa, jika kau ingin aku bebas, tulislah…”