Hindari Politik Emosional

suluhnusa.com_Pesta demokrasi rakyat dalam pemilihan anggota legislative dan pemilihan presiden diharapkan agar para politisi dan partai politik menghindari politik emosional.

Politik yang emosional adalah politik yang tidak mengedepankan rasional tetapi lebih menempatkan emosi yang konfrontatif. Dan apabila politik partai politik dan kadernya tidak mampu mengedepankan politik yang rasional jelang Pileg dan Pilpres, akan menciptakan situasi yang tidak damai dan tak beretika.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengajak Partai Politik (Parpol) untuk mewujudkan Pemilu Damai.

Selain damai, Pastika juga meminta agar mengedepankan politik yang menjunjung tinggi etika dan berbudaya.

Ajakan tersebut disampaikan pada pembukaan Workshop dan Diklat Jurkamda BKPP Partai Golkar Provinsi Bali di Hotel Inna Grand Bali Beach, Sabtu 15 Februari 2014.

Ajakan itu sejalan dengan upaya menjaga kondisi Bali tetap kondusif selama pelaksanaan Pemilu Legislatif yang dilanjutkan dengan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden yang akan diigelar sepanjang tahun 2014.

Menurut Gubernur, suksesnya pelaksanaan Pemilu 2014 menjadi taruhan besar bagi Bali sebagai daerah tujuan pariwisata utama di Indonesia.

Untuk itu, kedekatan emosional antara elit dengan massa pendukungnya perlu terus dibangun guna menghindari terjadinya konflik horizontal yang diakibatkan mobilisasi massa yang tak terkendali dan gesekan antar pendukung.

Gubernur menambahkan, tahapan kampanye menjadi bagian sensitif dalam perhelatan Pemilu, di mana dalam tahapan ini Jurkam memegang peran yang sangat penting.

Untuk itu dia minta para Jurkam yang diusung oleh berbagai Parpol tetap memperhatikan kode etik serta menjaga suasana tetap kondusif.

“Mari kita berikan pendidikan politik yang rasional persuasif, bukan emosional-konfrontatif,” ujarnya.

Dalam Pemilu 2014 ini Bali harus menjadi contoh bagi daerah lain dalam pelaksanaan kampanye yang damai dan berbudaya.

Dalam kesempatan itu, Gubernur juga mengajak seluruh Parpol peserta pemilu tetap berpegang teguh pada filosofi hidup menyama braya.

“Perbedaan dan keanekaragaman pendapat harus diletakkan dalam tatanan memperkuat persatuan dan kesatuan. Semua pihak saya harapkan mampu bekerja sama dan memberikan dukungan penuh kepada aparat keamanan agar seluruh proses pemilu dapat berjalan dengan lancar, aman, tertib, damai dan sukses,” urainya.

Golkar sebagai Parpol yang sangat berpengalaman diharapkan berperan besar dalam proses terciptanya demokrasi substansial di Indonesia.

Demokrasi substansial yang dimaksud Gubernur Pastika adalah demokrasi yang berproses berdasarkan kaidah demokrasi yang sehat, sekaligus dapat membawa manfaat nyata bagi rakyat. Dia berharap workshop dan diklat yang digelar mampu mendorong kesiapan partai berlambang pohon beringin ini untuk berkompetisi dalam Pemilu mendatang.

Hal senada juga disampaikan Ketua DPD Partai Golkar Bali Ketut Sudikerta. Dia mengajak seluruh kadernya untuk berkampanye secara santun, beretika, berbudaya dan mengikuti ketentuan yang berlaku.

Lebih dari itu, Sudikerta juga mengimbau kadernya untuk tak merusak lingkungan dalam pemasangan alat peraga kampanye.

“Kader Golkar juga saya minta tidak saling sikut dan saling serang,” pungkasnya.(sandrowangak)

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *