LEWOLEBA – BUPATI Lembata menegaskan bahwa berakhirnya Project Pengelolaan Adaptasi untuk Tata Kelola Integratif (PANTAI) tidak boleh menjadi akhir dari berbagai praktik baik yang telah dibangun selama pelaksanaan program.
Sebaliknya, hasil project harus diterjemahkan ke dalam kebijakan dan program pembangunan daerah agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Bupati Lembata melalui sambutan tertulis yang dibacakan Asisten III Setda Lembata, Yohanes Berchmans Daniel Dai, S.IP, dalam Lokakarya Diseminasi Capaian dan Penutupan Project PANTAI “MURO” Konservasi Pesisir Berbasis Budaya, di Ballroom Resto Olympic Lewoleba, Rabu, 9 September 2026.
Bupati menilai pembangunan ke depan harus semakin adaptif, kolaboratif, dan terintegrasi. Karena itu, adaptasi tidak boleh ditempatkan hanya sebagai agenda sektoral, tetapi harus menjadi bagian dari keseluruhan proses pembangunan. Mulai dari perencanaan pembangunan, pengelolaan sumber daya alam, perlindungan lingkungan, pengurangan risiko bencana, penguatan ekonomi masyarakat, hingga peningkatan kualitas pelayanan publik.
Menurut Bupati, pelaksanaan Project PANTAI telah memberikan ruang bagi berbagai pihak untuk belajar bersama, meningkatkan pengetahuan, memperkuat kapasitas, sekaligus mengembangkan praktik-praktik yang dapat menjadi dasar bagi tata kelola pembangunan yang lebih responsif terhadap perubahan dan risiko yang dihadapi masyarakat.
ADVETORIAL
Bukan Sekadar Seremonial Penutupan
Bupati menekankan, lokakarya diseminasi hasil tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial untuk menyampaikan apa yang telah dilakukan dan dicapai selama project berlangsung.
Forum tersebut harus menjadi ruang untuk merefleksikan pembelajaran, mengidentifikasi praktik baik, memperkuat komitmen, serta memastikan hasil project tetap dimanfaatkan dan dikembangkan setelah program resmi berakhir.
“Setelah Project ini ditutup, tanggung jawab kita menjadi semakin besar untuk memastikan keberlanjutan hasilnya,” demikian pesan Bupati dalam sambutan tertulisnya.
Ia meminta seluruh pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama pelaksanaan project diterjemahkan ke dalam kebijakan dan program pembangunan daerah.
Praktik-praktik baik yang telah tumbuh di tengah masyarakat juga perlu terus diperkuat sehingga tidak berhenti setelah dukungan project berakhir.
Kolaborasi Jadi Kunci
Bupati juga menekankan pentingnya menjaga kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, lembaga pendidikan, organisasi sosial, yayasan, NGO, dan seluruh mitra pembangunan.

Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk memastikan berbagai hasil dan pembelajaran dari Project PANTAI dapat terus dikembangkan sesuai kebutuhan masyarakat dan tantangan pembangunan di Lembata.
“Mari kita jadikan hasil Project ini sebagai salah satu referensi dalam memperkuat perencanaan pembangunan yang berbasis risiko, berbasis data, memperhatikan daya dukung lingkungan, serta berorientasi pada kebutuhan masyarakat.”, ungkap Bupati Lembata.
Bupati mengingatkan bahwa adaptasi merupakan proses yang tidak pernah berhenti.
Tantangan pembangunan akan terus berubah, sementara risiko yang dihadapi masyarakat juga dapat berkembang. Karena itu, pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dituntut untuk terus belajar, menyesuaikan diri, dan mengambil keputusan secara bersama-sama.
“Semangat inilah yang harus kita bawa setelah Project ini selesai. Mari kita jaga hasil yang telah dicapai. Mari kita lanjutkan kolaborasi yang telah dibangun. Dan mari kita pastikan bahwa pembelajaran dari Project ini memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Lembata,” tegasnya.
Ditutup dengan Spirit Leu Auq-Lewotana
Mengakhiri sambutannya, Bupati Lembata mengajak seluruh pihak untuk menjaga hasil yang telah dicapai sekaligus melanjutkan kerja sama yang sudah terbangun.
Dengan memohon penyertaan Tuhan Yang Maha Kuasa dan leluhur leu auq-lewotana, Bupati Lembata menyatakan Workshop Diseminasi Hasil dan Penutupan Project Pengelolaan Adaptasi untuk Tata Kelola Integratif (PANTAI) resmi dibuka pada Rabu, 9 September 2026.
Project PANTAI diharapkan tidak sekadar meninggalkan laporan dan dokumentasi kegiatan, tetapi juga meninggalkan pengetahuan, kapasitas, praktik baik, serta model kolaborasi yang dapat terus digunakan untuk memperkuat tata kelola pembangunan dan konservasi pesisir di Kabupaten Lembata.+++
sandro.wangak
