suluhnusa.com – Berbekal visa wisata, Kelly, perempuan muda asal Irlandia itu sudah menghabiskan waktu dua Minggu, menetap di Taman Daun. Sedangkan Esteer, engineer asal Spanyol, bekerja di Denmark, baru dua hari tiba di Taman Daun, menggantikan Stevy asal Amerika yang telah kembali karena masa lawatannya berakhir.
Perempuan cantik itu tidak sekedar mengisi waktunya untuk berlibur. Sebagai Volunteer Taman Daun, mereka telah merencanakan untuk menghabiskan waktu berliburnya di Lembata, hingga berakhir visa lawatannya, setelah berbagi dengan warga di Kabupaten Lembata.
Kepada suluhnusa.com, Minggu (27/10), Kelly bercerita, selain menginap di dua homestay yang dibangun di Taman Daun, setiap sore hari, keduanya berinteraksi dengan anak-anak yang tergabung dalam kelompok belajar Taman Daun. Mereka tidak dibayar untuk mengajar ataupun membayar penginapan. Mereka hadir untuk berbagi. Sebuah esensi timbal balik dari model volunterism yang sedang dikembangkan komunitas wisatawan bersama Taman Daun.
“Saya tidak sekedar bewisata, tetapi menjadi sebuah kebahagiaan, jika saya dapat membagi ilmu baik kemampuan berbahasa Inggris dan ingin memastikan anak-anak di sini dapat menghadapi masa depan mereka dengan optimistis. Saat ini bahasa Inggris menjadi hal penting yang harus dikuasai anak-anak untuk menatap kehidupan mereke lebih baik,” ujar Esteer, volunteer asal Spanyol yang kini bekerja sebagai mekanik pada sebuah perusahaan di Denmark.
Kelly, voulunteer asal Irlandia juga berpendapat senada. Mereka tidak sekedar mengunjungi objek wisata lalu kembali ke hotel kemudian kembali ke negara asal saat visa wisatanya berakhir, tanpa memberikan bekal untuk menambah pengetahuan, bekal hidup bagi anak-anak di Lembata.
Kedua wisatawan itu adalah bagian dari program volunterism yang sedang dijalankan oleh Taman Daun. Sebuah program menarik kunjungan wisatawan ke Lembata, dengan cara murah. Para wisatawan tidak dibebankan biaya akomodasi selama berada di Lembata. Mereka membiayai urusan makan dan minum sendiri, asal dapat berinteraksi dan bertukar kebudayaan dengan warga setempat.
Ester, wisatawan asal Spanyol, adalah mekanik pada sebuah perusahaan di Denmark. Ia memilih menghabiskan waktu berliburnya ke Lembata. Taman Daun adalah tujuan utamanya berangkat dari Denmark.
“Saya tidak mendengar tentang Lembata, tetapi melalui grup Whats Up saya mendapat informasi dari Taman Daun. Menurut saya tidak sekedar berkunjung ke Lembata, menghabiskan waktu liburan, tetapi lebih dari itu saya ingin mengalami keseharan hidup orang Lembata. Memang saat pertamakali datang ada semacam culture shock tetapi kemudian perbedaan itu menjadi unik yang sanagt menarik. Saya betah di Lembata, karena bisa merasakan kehidupan warga dan saya juga merasa dapat berbagi pengetahuan kepada anak-anak. Bekal bagi masa depan mereka,” ujar Ester.
Kedua wisatawan ini pula tertarik untuk mengikuti aktivitas keseharian warga, petani maupun nelayan. Bahkan kedua gadis cantik dari negara Barat itu sangat tertarik mengikuti serangkaian tradisi adat warga Lembata, seperti “antar dulang”, Maso Minta, antar belis gading dan aneka budaya yang sehari hari dijalankan warga Lembata.
“Sudah banyak panorama alam yang disajikan di berbagai belahan dunia. Kami ingin melihat keseharian masyarakat local, berinteraksi dan saling berbagi apa yang kami bisa, terutama berbagi ilmu pengetahuan,” ujar Kelly, voulunterism asal Irlandia.
Kelly dan Esteer mengaku betah tinggal dan merasa bagian dari keluarga orang Lembata. Bersahabat dan menjadi bagian dari kultur yang berbeda, menjadi daya pikat dari model pengembangan volunterism. Keduanya berjanji akan mempromosikan keindahan Lembata serta kenyamanan di taman daun kepada shabat dan kenalan mereka di Luar Negeri.

Volunterism Ala Taman Daun
Taman Daun adalah sebuah rumah tinggal yang sangat sederhana yang ditata apik menampilkan sejumlah koleksi buku serta pajangan pajangan lukisan abstrak karya anak pemilik Taman Daun. Perpaduan tempat bermain dan belajar untuk pelajar dan kini menjadi kampung bagi wisatawan itu berlokasi di Kampung Beluwa, Kelurahan Lewoleba Barat, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur.
Aneka kreasi berbahan sampah plastic, perhiasan aneka siput laut, serta ukiran lain, tak lupa menjadi pajangan. Tidak untuk diperjual belikan, tetapi untuk dinikmati pengujung. Koleksi aneka hiasaan, lukisan dan buku-buku dikumpulkan dengan membeli sendiri, maupun dari tangan yang menyumbang seiklasnya. Kini 2000 lebih judul buku sudah berhasil dikoleksi Taman Daun.
Sesuai Namanya, Taman Daun sangat identik dengan keaslian. Tempat beristirahat, belajar dan bermain yang alami. Rumah itu sudah 20 tahun lebih dibangun. Awalnya, Gorif Batafor bertekat memberi sumbangan ilmu pengetahuan kepada generasi muda Lembata dengan menggeratiskan anak-anak dan pelajar membanca buku koleksinya sambil bermain.
Halaman yang luas itu ditata menampilkan keasrian. Aneka tanaman, bunga, kolam kecil, rerinbunan pepohonan, serta tata letak pondok kecil yang sederhana. Buku-buku bacaan diletakan di rak-rak yang dipajang di sejumlah pondok bermain menjadi daya tariknya.
Kesejukan akan menghapus panas dan terik yang menyengat. Goris Batafor, sang pendiri Taman Daun tidak menyangka jika dari hobi yang ditekuninya selama 20 tahun lebih, tanpa kenal lelah, serta mengharapkan imbalan materi berlebih, kini telah mengubah wajah taman daun sebagai salah satu daya Tarik bagi wisatawan asing.
Jika kakak Sepupunya itu membangun Taman Daun secara alamiah, memanfaatkan segala sumber daya yang dimiliki apa adanya, John Batafor, sang adik, memiliki konsep pengembangan yang cerdas.
“Saya pelajari banyak wisatawan datang ke Lembata, tetapi ujuan utamanya adalah pergi ke Lamalera. Setlah itu langsung kembali. Orang tidak mampu membuat para wisatawan itu betah tinggal di Lembata. Jumlah kunjungan terakhir menurut data pemerintah adalah 8 orang dalam setahun. Dengan lama tinggal tiga sampai 5 hari. Tidak ada wiatawan yang dapat bertahan lama hingga dua minggu bahkan satu bulan di Lembata,” ujar John Batafor.
Ia menjelaskan, volunterism adalah pola baru menarik minat wisatawan asing berkunjung ke Lembata. Batafor mengaku berkorban dengan memberikan akomodasi gratis bagi wisatawan. Para wisatawan itu adalah volunteer dari Taman Daun.
“Kadang-kadang mama mengeluh tidak ada biaya untuk masak untuk tamu yang menginap. Tetapi saya berusaha agar keluhan itu bisa diatasi dengan Ojek dan jualan apa saja. Yang penting mereka bisa datang dan bisa bertahan lama di Lembata. Itu dulu. Saya hanya minta mereka untuk datang berbagi ilmu pengetahuan kepada anak-anak yang berada di sekitar Taman Daun. Ilmu yang dibagikan adalah pengetahuan Bahasa Innggris, serta ilmu terapan lain seperti memasak, pengetahuan praktis lainnya,” ujar John Batafor.
Menurutnya, hubungan tibal balik yang saling menguntungkan itu menjadikan sesama manusia di dunia ini saling terikat. Emosional kekeluargaanpun dapat dibangun.
Pada bulan Oktober ini, lebih dari 20 orang wisatawan asing mampir ke taman daun, berkeliling Lembata, menikmati alam, bertukar budaya serta berbagi pengalaman dan ilmu pengetahuan dengan anak-anak komunitas Taman Daun. Sekali lagi tanpa bayar.
Di sisi lain, Bupati Lembata, Eliazer Yentji Sunur bersama Kepala Dinas Kebudayaan dan pariwisata kabupaten Lembata, Apol Mayang, menggelontorkan sejumlah anggaran Daerah guna melakukan Pameran budaya di Australia. Pameran di luar Negeri itu diharapkan dapat mendorong minat wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke Lembata. ***
hosea/Sandro wangak
