suluhnusa.com_Sejak 2013, jumlah penderita HIV/AIDS di Lembata terdata sampai saat ini sebanyak 79 penderita.
Komisi Penanggulangan HIV/AIDS Kabupaten Lembata yang baru dibentuk pemerintah pada tahun 2013 telah menjalan tugas berat memerangi bahaya penyakit HIV/AIDS di Lembata yang terus meningkat dari waktu-ke waktu.
Jumlah kasus/penderita HIV/AIDS di daerah ini terdata sampai saat ini sebanyak 79 penderita.
Dalam upaya pemberantasan penyakit mematikan ini pihak KPA Lembata terus melakukan kampanye dan sosialisasi kepada masyarakat agar menghindari bahaya penyakit tersebut.
Sekretaris KPA Lembata Rofinus Laba Lazar yang ditemui WEKLINE LYNE.NETdi ruang kerjanya, 3 Juli 2014 menyatakan Pemerintah Lembata bekerja sama dengan KPA Provinsi NTT pada tahun 2013 membuka Sekretariat KPA Lembata.
Pada awal pelaksanaan tugas penanggulangan HIV/AIDS, Sekretariat KPA Lembata mendapat dukungan teknis operasional dari Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang berhubungan langsung dengan kehidupan keluarga dan kesejahteraan masyarakat.
Instansi terkait adalah Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan, Dinas Sosial dan Tenaga Kerja, dan Bagian Kesejahteraan Rakyat Setda Lembata.
Pelaksanaan tugas pokok dan fungsi KPA Lembata sesuai Surat Keputusan Bupati Lembata Nomor 13 Tahun 2013 tentang Penanggulangan HIV/AIDS.
Rofinus mengakui walau lembaga KPA Lembata baru berjalan setahun namun Pemkab Lembata cukup responsif memberikan dukungan anggaran operasioanl yang dikelola langsung oleh Bagian Kesra Setda Lembata.
Pada tahun 2013 Pemkab lembata mengalokasi dana APBD Lembata sebesar Rp140 juta untuk operesional KPA Lembata.
“Pemerintah Kabupaten Lembata diharapkan pada tahun ke depan mengalokasikan dana penanggulangan HIV/AIDS yang dikelola langsung oleh Sekretariat KPA Lembata sebagimana di daerah lain,” pintanya.
Sejak beropereasinya Sekretariat KPA Lembata di tahun 2013 lembaga tersebut telah mendata angka kumulatif kasus HIV/AIDS di daerah ini sebanyak 79 penderita. Data yang diterima KPA Lembata dari Dinas Kesehatan Lembata, pada tahun 2012 ditemukan 42 kasus/penderita HIV/AIDS, tahun 2013 ditemukan 25 kasus, dan selama rentang Januari-Juni 2014 ditemukan 12 kasus baru.
Rekapan sebaran kasus HIV/AIDS di Lembata pada tahun 2013 menurut kecamatan di Kabupaten Lembata sebagai berikut: Kecamatan Nubatukan (Kota Lewoleba) 5 penderita, Ile Ape 3 penderita, Nagawutung 6 penderita, Wulandoni 2 penderita, Omesuri 1 penderita, dan Buyasuri 1 penderita.
Temuan kasus baru HIV/AIDS periode Januari-Juni 2014 sebanyak 12 penderita dengan sebarannya di Kecamatan Nubatukan 5 penderita, Lebatukan 2 penderita, Ile Ape 1 penderita, Wulandoni 1 penderita, Omesuri 1 penderita, Buyasuri 1 penderita, dan 1 penderita asal Pulau Adonara berdomisili di Kota Lewoleba.
Rofinus mengatakan dari jumlah 79 kasus HIV/AIDS di Lembata mayoritas penderita sudah meninggal dunia. Data KPA Lembata temuan kasus baru Januari-Juni 2014 dari jumlah 12 penderita itu sudah meninggal dunia 3 orang sedangkan 9 orang saat ini difasilitasi KPA Lembata dan Dinas Kesehatan Lembata mendapat pelayanan pengobatan anti retroviral (ARV) untuk menghambat perkembanganbiakan virus HIV pada tubuh penderita
Temuan satu penderita asal Kecamatan Wulandoni telah meninggal dunia pada 6 Mei 2014.
Korbannya adalah seorang bocah berusia 3 tahun 3 bulan. Pada April 2014 seorang penderita ibu rumah tangga berusia 42 tahun asal Kota Lewoleba juga meninggal dunia setelah dinyatakan positif mengidap AIDS. Sebelumnya pada 23 Januari 2014 seorang penderita AIDS asal Adonara yang mengasingkan diri ke Lewoleba meninggal dunia pada 23 Januari 2014.
Kondom Menumpuk
Sekretariat KPA Lembata sebagaimana diakui Rofinus terus melakukan gerakan memberantas HIV/AIDS. Kegiatan sosialisasi ke kemasyarakat terus dilakukan.
Pada awal berdirinya, KPA Lembata telah melakukan sosialisasi dengan sasaran para pelajar SLTA dan kelompok Orang Muda Katolik (OMK) di sejumlah stasi di Lembata.
Agenda program sosialisasi dari KPA Lembata tahun ini sudah disampaikan ke Bagian Kesra Setda dan dalam waktu dekat dilakukan sosialisasi dengan sasaran kelompok pramuria di 9 café atau tempat hiburan malam yang ada di Kota Lewoleba.
KPA Lembata dalam menanggulangi bahaya HIV/AIDS di daerah ini menyediakan ribuan kondom gratis yang dibagikan kepada para pramuria/ledis di sejumlah café di Lewoleba. Upaya pendistrian kondom diakui Rofinus menemui kendala karena sulit diterima sasaran.
Ketika petugas KPA turun melakukan penyerahan kondom ke kafe-kafe sering ditolak oleh pramuria café dengan macam-macam alasan. Ada beberapa pekerja café yang bersedia menerima kondom namun beralasan kondom yang dibagikan itu selalu ditolak oleh pria hidung belang ketika terjadi transaksi seksual di kamar.
Kesulitan yang dihadap KPA Lembata dalam pembagian kondom gratis ini sehingga terjadi tumpukan kondom di lemarai Sekretariat KPA Lembata.
“Banyak kondom belum bisa dibagikan karena sulit diterima sasaran. Lihat ini pak, ribuan kondom yang masih dalam kotak kemasan tersimpan rapih dalam lemari. Fungsi kondom adalah sebagai pelindung saat transaksi seks antara pria dan wanita pekerja seks. Jika selalu ditolak pelaku seks bebas bersrisko tertulas penyakit menular seksual,” tegas Rofinus.
Vinsen dan Agus warga Kota Lewoleba mengakui perkembangan sosial di Kota Lewoleba begitu terasa ketika daerah kini tonom 14 tahun silam. Praktik prostisusi di sejumlah tempat hiburan semakin terbuka.
Dampak dari kehadiran tempat hiburan di Kota Lewoleba tidak sedikit oknum warga yang berperilaku seks bebas tertular penyakit menular seksual.
“Pemerintah Lembata melalui Dinas Kesehatan harus melakukan pemeriksaan bagi para pelaku seks bebas di tempat hiburan. Di mana-mana ditemuka kasus HIV/AIDS yang meregang nyawa korban. Kampanye HIV/AIDS harus dilakukan terus menerus oleh KPA Lembata,” pinta Vinsen. (vinsen/sultanaligeroda)
