Pendahuluan
Filsafat manusia merupakan bagian integral dari sistem filsafat, yang fokus menyoroti hakikat atau esensi manusia. Ditinjau dari sudut pandang ontologis, filsafat manusia memiliki kedudukan yang relatif lebih penting karena semua cabang filsafat, yakni etika, kosmologi, epistemologi, filsafat sosial, dan estetika, bermuara pada persoalan asasi berkenaan dengan esensi manusia. Adapun salah satu pembahasan dalam filsafat manusia yang cukup mendapat perhatian dewasa ini adalah fenomenologi.
Kata fenomenologi berasal dari bahasa Yunani, phenomenon, yaitu sesuatu yang tampak, yang terlihat karena berkecakupan. Dalam bahasa indonesia biasa dipakai istilah gejala.
Secara istilah, fenomenologi adalah ilmu pengetahuan (logos) tentang apa yang tampak. Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa fenomenologi adalah suatu aliran yang membicarakan fenomena atau segala sesuatu yang tampak atau yang menampakkan diri.
Seorang Fenomenolog suka melihat gejala. Dia berbeda dengan seorang ahli ilmu positif yang mengumpulkan data, mencari korelasi dan fungsi, serta membuat hukum-hukum dan teori. Fenomenolog bergerak di bidang yang pasti. Hal yang menampakkan dirinya dilukiskan tanpa meninggalkan bidang evidensi yang langsung. Fenomenologi adalah suatu metode pemikiran, “a way of looking at things”.
Dari keterangan di atas dapat dipahami bahwa fenomenologi ini mengacu kepada analisis kehidupan sehari-hari dari sudut pandang orang yang terlibat di dalamnya. Tradisi ini memberi penekanan yang besar pada persepsi dan interpretasi orang mengenai pengalaman mereka sendiri.
Fenomenologi melihat komunikasi sebagai sebuah proses membagi pengalaman personal melalui dialog atau percakapan. Bagi seorang fenomenolog, kisah seorang individu adalah lebih penting dan bermakna daripada hipotesis ataupun aksioma.
Seorang penganut fenomenologi cenderung menentang segala sesuatu yang tidak dapat diamati. Fenomenologi juga cenderung menentang naturalisme (biasa juga disebut objektivisme atau positivisme). Hal demikian dikarenakan Fenomenolog cenderung yakin bahwa suatu bukti atau fakta dapat diperoleh tidak hanya dari dunia kultur dan natural, tetapi juga ideal, semisal angka, atau bahkan kesadaran hidup.
Jelasnya, fenomenologi mencoba menepis semua asumsi yang mengkontaminasi pengalaman konkret manusia. Ini mengapa fenomenologi disebut sebagai cara berfilsafat yang radikal. Fenomenologi menekankan upaya menggapai “hal itu sendiri” lepas dari segala presuposisi.
Langkah pertamanya adalah menghindari semua konstruksi, asumsi yang dipasang sebelum dan sekaligus mengarahkan pengalaman. Tak peduli apakah konstruksi filsafat, sains, agama, dan kebudayaan, semuanya harus dihindari sebisa mungkin. Semua penjelasan tidak boleh dipaksakan sebelum pengalaman menjelaskannya sendiri dari dan dalam pengalaman itu sendiri.
Fenomenologi menekankan perlunya filsafat melepaskan diri dari ikatan historis apapun—apakah itu tradisi metafisika, epistimologi, atau sains. Program utama fenomenologi adalah mengembalikan filsafat ke penghayatan sehari-hari subjek pengetahuan. Kembali ke kekayaan pengalaman manusia yang konkret, lekat, dan penuh penghayatan. Selain itu, fenomenologi juga menolak klaim representasionalisme epistimologi modern.
Dengan demikian, fenomenologi yang dipromosikan Husserl ini dapat disebut sebagai ilmu tanpa presuposisi. Hal ini jelas bertolak belakang dengan modus filsafat sejak Hegel menafikan kemungkinannya ilmu pengetahuan tanpa presuposisi, dimana presuposisi yang menghantui filsafat selama ini adalah naturalisme dan psikologisme.
Perlu diketahui bahwa di sini penulis hanya membahas beberapa hal dari kehidupan Edmund Husserl. Pertama, riwayat hidupnya. Dalam mendalami pemikirannya, tentu lebih utama kita harus tahu sedikit mengenai identitasnya. Siapa dia, berasal dari mana, bagaimana latar belakang kehidupannya, dan sebagainya. Dua, karya atau pemikiran utamanya.
Untuk mengetahui pemikirannya, perlulah kita mengerti terlebih dahulu tulisan-tulisan terpentingnya. Tiga, pikiran-pikiran pokok. Tulisan ini difokuskan pada “pemikiran fenomenologi menurut Edmund Husserl”. Hal itu karena, ia tokoh pertama selaku pendiri aliran ini. Ia mempengaruhi filsafat abad XX secara mendalam sampai pada penemuan akan analisa struktur intensi dari tindakan-tindakan mental dan sebagaimana struktur ini terarah pada obyek real dan ideal.
Bagi Husserl, Fenomenologi ialah ilmu pengetahuan (logos) tentang apa yang tampak (phenomena). Fenomenologi dengan demikian, merupakan ilmu yang mempelajari, atau apa yang menampakkan diri fenomenon. Karena itu, setiap penelitian atau setiap karya yang membahas cara penampakkan dari apa saja, sudah merupakan fenomenologi.
Secara material penulisan karya ini memiliki tujuan yang mendasar, yaitu sebagai pembuka cakrawala pengetahuan filsafat pada umumnya dan fenomenologi pada khususnya, mengingat pengetahuan filsafat merupakan pengetahuan yang memerlukan energi yang cukup untuk mempelajarinya, hingga mampu masuk ke “relung” terdalam dari ranah filsafat.
Apa Itu Fenomenologis
Fenomenologis adalah aliran filsafat yang digagas oleh Edmund Husserl. Fenomenologis adalah suatu pencarian panjang dari manusia tentang kebenaran. Kebenaran yang dimaksud bukanlah kebenaran yang obyektifnya. Melainkan lebih pada pencarian makna dari suatu peristiwa yang selalu ada dalam setiap irama kehidupan manusia itu sendiri.
Setiap sisi kehidupan manusia adalah bahagian dari fenomenologis itu sendiri. Ia (kesulitan) tidak terlepas pisah dari kehidupan manusia melainkan erat menyatuh dalam kehidupan manusia. Suster Maria Ward (1585-1645) seorang santa dari York. Inggris. Pendiri tarekat Congregatio Jesus. Ia berpendapat tak ada perbedaan antara lelaki dan perempuan sehingga kaum perempuan pun bias melakukan hal-hal besar seperti yang dikerjakan oleh laki-laki. Pandangan semacam ini sangat tidak umum pada waktu itu. Tak heran bila suster Maria mengalami begitu banyak kesulitan(fenomenologis) kerena berpandangan demikian.
Menurutnya Kesulitan (fenomenologis) selalu mendatangi setiap manusia baik pribadi ataupun kelompok manusia yang tergabung dalam suatu komunitas tertentu dalam pelbagai bentuk dan cara. Tak mungkin manusia menolaknya. Aku (kita-manusia) tentang kesulitan-kesulitan (fenomenologis) itu tak mengganggu aku (kita-manusia).
Fenomenologis itu perlu penanganan dari setiap individu maupun komunitas dengan mengikis ketidakadilan yang tengah menggerogoti sendi-sendi kehidupan manusia. Dengan itu maka impian manusia di mana kebutuhan dasar umat manusia dapat dipenuhi. Demikian pula akan halnya pengembangan social-ekonomi terjadi dalam satu pola keseimbangan. Kita hendak berupaya memaknai fenomenologis menujuh kehidupan yang mandiri dalam kesetiakawanan. Kita tidak gampang menyerah kepada kesulitan-kesulitan hidup melainkan kita berupaya untuk membangun semangat baru dengan mengembangkan sifat berbelas kasih berbela rasa kerelaan untuk memberi/membantu tanpa menuntut imbalan.
Kita perlu beralih dari dunia di mana kita saling memandang satu sama lain sebagai saingan lawan malah ancaman menujuh dunia di mana kita saling menghadap sebagai rekan sahabat dan saudara.
Jadi untuk mengentas fenomenologis kita perlu suatu perombakan budaya (mental) dan perombakan pola pembangunan (struktur politik). Sebagai seorang yang memiliki agama dan kepercayaan serta beriman akan Yesus Kristus kita perlu menentukan pola keterlibatan diri dalam perjuangan mengatasi fenomenologis ini.
Fenomenologi sebagai suatu gerakan filsafat hingga memperoleh bentuk seperti sekarang ini, pertama kali diintrodusir oleh filsuf Jerman Edmund Gustav Aibercht Husserl. Sebenarnya istilah “fenomenologi” pertama kali digunakan oleh J. H. Lambert (1728 – 1777). Kemudian istilah itu juga digunakan oleh Immanuel Kant, Hegel serta sejumlah filosof lain.
Namun semuanya mengartikan istilah fenomenologi secara berbeda. Kemudian Edmund Husserl yang memakai istilah fenomenologi secara khusus dengan menunjukkan metode berpikir secara tepat. Contoh misalnya, dalam karya Hegel yang berjudul “Phenomenolgy of Spirit”. Pemaknaan Hegel terhadap teori “fenomena” dalam buku ini berbeda dengan “fenomena” menurut Husserl. Menurut Hegel, “fenomena” yang kita alami dan tampak pada kita merupakan hasil kegiatan yang bermacam-macam dan runtutan konsep kesadaran manusia serta bersifat relatif terhadap budaya dan sejarah.
Husserl menolak pandangan Hegel mengenai relativisme fenomena budaya dan sejarah, namun dia menerima konsep formal fenomenologi Hegel serta menjadikannya prinsip dasar untuk perkembangan semua tipe fenomenologi : fenomenologi pengalaman adalah apa yang dihasilkan oleh kegiatan dan susunan kesadaran kita.
Ia adalah seorang ahli ilmu pasti dan profesor Filsafat dari Universitas Freiburg di Breisgau (Jerman Selatan) kira-kira satu abad yang lalu, lahir di Prestejov (dahulu Prossnitz) di Czechoslovakia 8 April 1859 dari keluarga Yahudi. Di universitas ia belajar ilmu alam, ilmu falak, matematika, dan filsafat; mula-mula di Leipzig kemudian juga di Berlin dan Wina. Di Wina ia tertarik pada filsafat dari Brentano. Dia mengajar di Universitas Halle dari tahun 1886-1901, kemudian di Gottingen sampai tahun 1916 dan akhirnya di Freiburg. Ia juga sebagai dosen tamu di Berlin, London, Paris, dan Amsterdam, dan Prahara.
Husserl terkenal dengan metode yang diciptakan olehnya yakni metode “Fenomenologi” yang oleh murid-muridnya diperkembangkan lebih lanjut. Husserl meninggal tahun 1938 di Freiburg. Untuk menyelamatkan warisan intelektualnya dari kaum Nazi, semua buku dan catatannya dibawa ke Universitas Leuven di Belgia
Pendekatan Fenomenologi Dialogis
Setiap manusia dalam kehidupan social tentu mengadakan interaksi dan komunikasi. interaksi dan komunikasi ini merupakan bentuk dialog hati antara sesame manusia. Dalam kesempatan yang sama pula bias dapat muncul adanya kehendak manusia untuk mencari kebenaran yang sungguh-sungguh obyektif dalam kehidupan kemasyarakatan. Cara kerja semacam ini sering dikatakan sebagai pendekatan dialogis yang obyektif (positivistic). Teori semacam ini adalah bahwa ilmu adalah satu-satunya pengatahuan yang valid dan fakta sajalah yang mungkin dapat menjadi obyek pengatahuan.
Dalam kaitanya dengan studi agama, makna istilah fenomenologi tidak pernah terbekukan secara tegas. Maka perlu kiranya suatu kecermatan dalam upaya menentukan faktor-faktor yang mencakup dalam pendekatan fenomenologis. Pendekatan fenomenologis memiliki karekteristik tersendiri yang berbeda dengan pendekatan lainya dalam memahami agama.
Kali pertama, pendekatan fenomenologi merupakan upaya membangun suatu metodologi yang koheren bagi studi agama. Begitu juga fenomenologi lahir dan diterapkan dalam studi agama sebagai suatu metode penelitian ilmiah yang ditawarkan dengan pendekatan-pendekatan teologis.
Terdapat dua hal penting yang mencirikan pendekatan fenomenologi agama. Pertama, fenomenologi adalah metode untuk memahami agama sesorang yang termasuk di dalamnya usaha sebagian dalam mengkaji pilihan dan komitmen mereka secara netral sebagai persiapan untuk melakukan rekonstruksi pengalaman orang lain. Kedua, konstruksi skema taksonomik untuk mengklasifikasi fenomena dibenturkan dengan batas-batas budaya dan kelompok religius.
Secara umum, pendekatan ini hanya menangkap sisi pengalaman keagamaan dan kesamaan reaksi keberagamaan semua manusia secara sama, tanpa memperhatikan dimensi ruang dan waktu dan perbedaan budaya masyarakat.
Arah dari pendekatan fenomenologi adalah memberikan penjelasan makna secara jelas tentang apa yang yang disebut dengan perilaku keagamaan. Sebagai sebuah ilmu yang relatif kebenarannya, pada pendekatan ini tidak dapat berjalan sendiri. Secara operasional, ia membutuhkan perangkat lain, misalnya sejarah, filologi, arkeologi, studi literatur, psikologi, sosiologi, antropologi, dan sebagainya.
Hal yang terpenting dari pendekatan fenomenologi agama adalah apa yang dialami oleh pemeluk agama, apa yang dirasakan, diakatakan dan dikerjakan serta bagaimana pula pengalaman tersebut bermakna baginya. Kebenaran studi fenomenologi adalah penjelasan tentang makna upacara, ritual, seremonial, doktrin, atau relasi sosial bagi dan dalam keberagamaan pelaku.
Selanjutnya dalam pendekatan fenomenologi juga menggunakan bantuan disiplin lain untuk menggali data, seperti sejarah, filologi, arkeologi, studi sastra, psikologi, sosiologi, antropologi dan sebagainya. Pengumpulan data dan deskripsi tentang fenomena agama harus dilanjutkan dengan interpretasi data dengan melakukan investigasi, dalam pengertian melihat dengan tajam struktur dan hubungan antar data sekaitan dengan kesadaran masyarakat atau individu yang menjadi objek kajian.
Adapun aspek yang Kedua adalah mengkonstruksi rancangan taksonomi untuk mengklasifikasikan fenomena masyarakat beragama, budaya, bahkan epoche. Tugas fenomenologis setelah mengumpulkan data sebanyak mungkin adalah mencari kategori yang akan menampakkan kesamaan bagi kelompok tersebut. Aktivitas ini pada intinya adalah mencari struktur dalam pengalaman beragama untuk prinsip-prinsip yang lebih luas yang nampak dalam membentuk keberagamaan manusia secara menyeluruh.
Hal yang terpenting dari pendekatan fenomenologi agama adalah apa yang dialami oleh pemeluk agama, apa yang dirasakan, diakatakan dan dikerjakan serta bagaimana pula pengalaman tersebut bermakna baginya. Kebenaran studi fenomenologi adalah penjelasan tentang makna upacara, ritual, seremonial, doktrin, atau relasi sosial bagi dan dalam keberagamaan pelaku.
Selanjutnya dalam pendekatan fenomenologi juga menggunakan bantuan disiplin lain untuk menggali data, seperti sejarah, filologi, arkeologi, studi sastra, psikologi, sosiologi, antropologi dan sebagainya. Pengumpulan data dan deskripsi tentang fenomena agama harus dilanjutkan dengan interpretasi data dengan melakukan investigasi, dalam pengertian melihat dengan tajam struktur dan hubungan antar data sekaitan dengan kesadaran masyarakat atau individu yang menjadi objek kajian.
Akar Dan Perkembangan Pemikiran Fenomenologi
Sekitar abad 15 dan 16 M, di Eropa telah terjadi suatu perubahan terbesar dalam perspektif manusia tentang dirinya. Hal ini dikarenankan di abad pertengahan, manusia memandang segala hal dari sudut pandang ‘ketuhanan’; kaitannya dengan Tuhan yang menciptakan, mengarahkan, mempertahankan, serta penyelamat manusia dan seluruh alam raya.
Kehadiran Edmund Husserl, empat kurun setelah muculnya kesadaran Eropa pada abad ke-19, dan disebut-sebut sukses menyatukan kecenderungan idealis dan realis. Husserl berupaya membongkar filsafat Barat, dengan menghancurkan ketertutupan kesadaran. Karena, “kesadaran” sesuai kodratnya mengarah ke realitas. Kemudian Husserl menciptakan pendekatan filsafat yang menganalisa “kesadaran” dan obyek-obyeknya secara sistemik dan berdasarkan pengalaman. Pendekatan ini yang kemudian dinamakan “fenomenologi”. Secara genealogis, fenomenologi juga merupakan sebentuk respon terhadap dominasi ‘rasio’, yang terjadi pada abad 17 dan 18. Dominasi rasio terejawantahkan dalam pertimbangan segala hal, termasuk alam raya, pada sikap matematis. Sehingga pada tahap ini rasio telah menjadi “kesadaran” serta “penggerak kehidupan”.
Selanjutnya, secara harfiah istilah fenomenologi berasal dari bahasa Yunani pahainomenon yang memiliki arti gejala atau apa yang menampakkan diri pada kesadaran kita. Dalam hal ini fenomenologi merupakan sebuah pendekatan filsafat yang berpusat pada analisis terhadap gejala yang membanjiri kesadaran manusia.
Metode ini dirintis oleh Edmund Husserl (1859-1938). Dengan demikian secara operasional, fenomenologi agama menerapkan metodologi ‘ilmiah’ dalam meneliti fakta religius yang bersifat subyektif seperti pikiran, perasaan, ide, emosi, maksud, pengalaman, dan apa saja dari seseorang yang diungkapkan dalam tindakan luar (fenomena). Oleh sebab itu, perlu kiranya dalam operasionalnya pendekatan fenomenologi membutuhkan perangkat lain, seperti sejarah, filologi, arkeologi, psikologi, sosiologi, antropologi, dan sebagainya.
Dimyati, dengan mengutip dari beberapa gagasan Husserl, menyatakan bahwa fenomenologi merupakan analisis deskriptif dan introspektif tentang kedalaman dari semua bentuk kesadaran dan pengalaman langsung yang meliputi inderawi, konseptual, moral, estetis dan religius. Fenomenologi adalah suatu metode yang secara sistematis berpangkal pada pengalaman dan melakukan pengolahan-pengolahan pengertian.
Karenanya, manusia sebagai makhluk yang selalu melakukan komunikasi, interaksi, partisipasi dan penyebab yang bertujuan. Kekhususan manusia terletak pada intensionalitas psikisnya yang ia sadari, yang dikaitkan dengan dunia arti dan makna. Maka, dunia makna manusia dapat diteliti dengan metode fenomenologi.
Pada prakteknya, Husserl hanya meninggalkan dua kaidah penting dalam fenomenologi, yakni: reduksi fenomenologis dan konstitusi. Reduksi fenomenologis merupakan upaya peralihan pandangan dari alam real menuju “kesadaran”. Dalam arti, jika sikap natural terhadap fenomena alam “menerima apa adanya”, maka reduksi fenomenologis berarti penangguhan “kepercayaan” terhadap dunia riil. Namun sikap tersebut tidak berarti menafikan realitas, sebab reduksi fenomenologis hanya semacam upaya “netralisasi”—Husserl mengistilahkan hal ini dengan diberi tanda kurung (bracketing).
Di sini Husserl membedakan antara reduksi fenomenologis dan reduksi eidetik. Perbedaannya adalah, reduksi fenomenologis mengindahkan alam riil untuk sementara, guna menyibak ‘esensi’. Sedang reduksi eidetik mementingkan esensi (eidos) tetapi dalam bentuknya yang paripurna. Reduksi fenomenologis ini yang kemudian dinamakan “sikap fenomenologis”.
Selanjutnya, reduksi eiditis merupakan tahapan reduksi kedua dalam penelitian berperspektif fenomenologi. Reduksi ini bertujuan memperoleh intisari dari hakikat yang telah ada. Biasanya dalam reduksi ini, peneliti menempuh langkah pengabstraksian (menggambarkan secara imajinatif) tentang peristiwa sosial yang hidup. Selain itu, peneliti melakukan identifikasi dan klasifikasi terhadap data-data yang bersifat tetap atau tidak menunjukkan perubahan dalam berbagai variasi situasi dan kondisi. Melalui cara interpretative understanding ini diharapkan dapat mempermudah bagi peneliti secara langsung membuat klasifikasi dan identifikasi perolehan data di lapangan. Dalam kegiatan ini pencatatan data dan informasi dengan menggunakan field notes, dilakukan sesegera mungkin setelah wawancara naturalistic (naturalistic interview) berlangsung, misalnya di rumah. Selanjutnya dari hasil observasi, perilaku tindakan masyarakat dipilah-pilah untuk dilakukan pendalaman lebih lanjut melalui wawancara mendalam sehingga diperoleh makna dan pemahaman.
Sementara itu, konstitusi merupakan proses tampaknya fenomena terhadap “kesadaran”. Konstitusi merupakan fase kedua setelah reduksi fenomenologi; tampaknya fenomena dalam “kesadaran”, selanjutnya akan bersatu dengan “kesadaran”, dan subyeknya kemudian disebut “pelaku kesadaran”. Dengan demikian, fenomenologi berarti mengurai relasi antara subyek dan kesadaran.
Martin Heidegger dalam bukunya menyinggung fenomenologi Husserl, bahwa manusia tak mungkin memiliki “kesadaran” jika tidak ada “lahan kesadaran”, suatu tempat, panorama, dunia, agar “kesadaran” dapat terjadi di dalamnya; sehingga suatu eksistensi bersifat duniawi. Atau “ada” dan dunia tak dapat dipisahkan. Eksesnya, suatu eksistensi bersifat temporal karena ia selalu terkungkung dimensi waktu. Dan “kesadaran” sendiri tak pernah berinteraksi langsung dengan realitas jika eksistensi tidak menyeruak menembus “kesadaran”.
Titik akhirnya, ke-ada-an mempunyai struktur tiga lapis yang berhubungan dengan masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Disini terlihat jelas bahwa Heidegger hendak menyatukan antara fenomenologi dan ontologi (makna “ada”); mempertanyakan fenomena “ada”. Dalam arti, bagaimana “ada” menjadi “ada”, dan kenapa tidak menjadi “tidak ada”? Satu poin penting, pendekatan Heidegger berbeda dengan Husserl. Di sini Heidegger “meluaskan sekup” konsep Husserl terkait “keterarahan kesadaran”.
Tampaknya Husserl dalam perjalanannya sepakat dengan Descartes, bahwa eksistensi yang selalu hidup dalam diri manusia adalah “kesadarannya” sendiri. Sehingga, pemahaman yang kokoh atas suatu realitas adalah pemahaman yang didasarkan pada “kesadaran”.
Menurut hemat penulis, dari uraian di atas dapat dikatahui bahwa pendekatan fenomenologi memiliki ciri dan karakter tersendiri. Fenomenologi berangkat dari pola pikir sub-subyektivisme, yang tidak hanya memandang dari suatu gejala yang tampak, akan tetapi berusaha menggali makna dibalik gejala itu. Selain itu, intensional obyektifikasi berarti mengarahkan data (yang merupakan bagian integral dari aliran kesadaran), kepada obyek-obyek intensional. Fungsi intensionalitas adalah menghubungkan data yang sudah terdapat dalam aliran kesadaran. Husserl melihat, dalam pengarahan intensional ada struktur yang kompleks dan dalam struktur tersebut data digunakan sebagai bahan mentah dan diintegrasikan dalam obyek yang membentuk kutub obyektifnya.
Kemudian, intensionalitas sebagai identifikasi, yakni suatu intensi yang mengarahkan berbagai data dan peristiwa kemudian pada obyek hasil obyektivikasi. Identifikasi banyak dipengaruhi oleh berbagai aspek dari dalam, seperti motivasi, minat, keterlibatan emosional maupun intelektual.
Yang menjadi ciri selanjutnya adalah intensionalitas korelasi, menghubung-hubungkan setiap aspek dari obyek yang identik menunjuk pada aspek-aspek lain yang menjadi horizonnya. Bagian depan sebuah obyek menunjuk pada bagian samping, muka, bawah, dan belakang. Aspek yang menjadi horizon dari obyek memberi pengharapan pada subyek untuk mengalaminya kembali di kemudian hari. Aspek atau bagian-bagian tersebut selalu dibayangi oleh obyek identik yang sudah tampak lebih awal.
Intensionalitas konstitusi melihat bahwa aktivitas-aktivitas intensional berfungsi mengkonstitusikan obyek-obyek intensional. Obyek intensional tidak dipandang sebagai sesuatu yang sudah ada, melainkan diciptakan oleh aktivitas-aktivitas intensional itu sendiri. Obyek intensional sebenarnya berasal dari endapan-endapan aktivitas intensional.
Selanjutnya, selain memiliki ciri dan karakter tersendiri, tentu saja pendekatan fenomenologi memiliki kekuatan dan kelemahan. Diantara kekuatan dari pendekatan fenomenologi yang dapat penulis ungkapkan adalah;
Pertama, sebagai suatu metode keilmuan, fenomenologi dapat mendeskripsikan fenomena sebagaimana adanya dengan tidak memanipulasi data. Aneka macam teori dan pandangan yang pernah kita terima sebelumnya dalam kehidupan sehari-hari, baik dari adat, agama, ataupun ilmu pengetahuan dikesampingkan untuk mengungkap pengetahuan atau kebenaran yang benar-benar objektif.
Kedua, fenomenologi memandang objek kajiannya sebagai kebulatan yang utuh, tidak terpisah dari objek lainnya. Dengan demikian fenomenologi menuntut pendekatan yang holistik, bukan pendekatan partial, sehingga diperoleh pemahaman yang utuh mengenai objek yang diamati. Hal ini menjadi suatu kelebihan pendekatan fenomenologi, sehingga banyak dipakai oleh ilmuwan-ilmuwan dewasa ini, terutama ilmuwan sosial, dalam berbagai kajian keilmuan mereka termasuk bidang kajian agama.
Penutup
Untuk lebih jelas dan singkatnya, akan diringkas beberapa karakteristik fenomenologi filosofis yang memiliki relevansi dengan fenomenologi agama.
Pertama, Watak deskriptif, yakni Fenomenologi berupaya untuk menggambarkan watak fenomena, cara tentang tampilan mewujudkan dirinya, dan struktur-struktur esensial pada dasar pengalaman manusia.
Kedua Antireduksionisme, yaitu pembebasan dari prakonsepsi-prakonsepsi tidak kritis yang menghalangi mereka dari menyadari kekhususan dan perbedaan fenomena, lalu memberikan ruang untuk memperluas dan memperdalam pengalaman dan menyediakan deskripsi-deskripsi yang lebih akurat tentang pengalaman ini.
Ketiga, Intensionalitas, yaitu cara menggambarkan bagaimana kesadaran membentuk fenomena. Untuk menggambarkan, mengidentifikasi, dan menafsirkan makna sebuah fenomena, seorang fenomenolog perlu memperhatikan struktur-struktur intensional dari datanya, dan struktur-struktur intensional dari kesadaran dengan rujukan dan maknanya yang diinginkan.
Keempat, Pengurungan (epoché), diartikan sebagai penundaan penilaian. Hanya dengan mengurung keyakinan-keyakinan dan penilaian-penilaian yang didasari pada pandangan alami yang tidak teruji, seorang fenomenolog dapat mengetahui fenomena pengalaman dan memperoleh wawasan tentang struktur-struktur dasarnya.
Kelima, Eidetic vision, adalah pemahaman kognitif (intuisi) tentang esensi, seringkali dideskripsikan juga sebagai eidetic reduction, yang mengandung pengertian “esensi-esensi universal”. Esensi-esensi ini mengekspresikan “esensi” (whatness) dari sesuatu, ciri-ciri yang penting dan tidak berubah dari suatu fenomena yang memungkinkan kita mengenali fenomena sebagai fenomena jenis tertentu.***
Elias Bengaman
Guru agama Katolik
Tinggal di Lembata
DAFTAR PUSTAKA
Gahral Adian, Donny. Percik Pemikiran Kontemporer (sebuah Pengantar Komprehensif).
Yogyakarta: Jalasutra, 2005.
Bagus, Lorens. Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia. 2005.
Delfgaauw, Bernard. Filsafat Abad XX. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya. 1988.
Hamersma, Herry. Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern. Jakarta: Gramedia. 1983.
Hamersma, Herry. Pintu Masuk ke Dunia Filsafat. Yogyakarta: Kanisius. 1980.
Team Pustaka Phoenix. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Baru). Jakarta: Pustaka
Phoenix. 2007.
Bryan Magee, The Story of Philosophy, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2008
Douglas Allen, “Phenomenology of Religion” dalam The Routledge Companion to the Study of Religion, London and New York: Routledge, 2005.
- Budi Hardiman, Heidegger dan Mistik Keseharian: Suatu Pengantar Menuju Sein und Zeit, peny. Christina M. Udiani, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2003. Cet. I.
Fazlur Rahman, “Approaches to Islam in Religious Studies, Review Essay”, dalam Richard Martin (ed.), Approaches to Islam in Religious Studies.
Franz Magnis Suseno, 12 Tokoh Etika Abad 20, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2006.
——–, Menalar Tuhan, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2006.
Hassan Hanafi, Dirâsât Islâmiyyah, Kairo: Maktabah al-Anglo al-Mishriyyah, tt, didownload dari google e-book, tanggal 14 November 2010.
Ian Craib, Teori-teori Sosial Modern dari Parson sampai Habermas, Jakarta: Rajawali Press, 198
Joseph M. Kitagawa, “Sejarah Agama-agama di Amerika”, dalam Ahmad Norma Permata, Metodologi Studi Agama.
Lorens Bagus, Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia, cet. IV, 2005.
Mochammad Dimyati, Penelitian Kualitatif: Paradigma Epistemologi, Pendekatan, Metode dan Terapan, Malang: PPS Universitas Negeri Malang, 2000.
Peter Connolly (ed), Approaches to the Study of Religion, New York: Cassel, 1999.
