Regulasi Dan Motivasi Guru Menulis Karya Ilmiah

suluhnusa.com_ Jika tidak, pangkat golongan guru tertahan, tidak akan mengalami peningkatan atau perubahan pangkat dan golongan.

Pemberlakuan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 16 tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru, dan Permendiknas nomor 35 tahun 2010, tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru Dan Angka Kreditrnya menuntut guru menghasilkan karya ilmiah untuk dipublikasikan.

Regulasi ini secara ketat mengatur perhitungan angka kredit jabatan fungsional guru utuk urusan kenaikan pangkat dan golongan. Regulasi yang berlaku efektif 1 Januari 2013 ini pada pasal 17 menyatakan bahwa, kenaikan pengkat III/b ke III/c, III/c ke III/d, III/d ke IV/a, IV/a ke IV/b, IV/b ke IV/c, IV/c ke IV/d dan IV/d ke IV/e wajib melaksanakan kegiatan pengembangan diri (pelatihan dan kegiatan kolektif guru) dan publikasi ilmiah/karya inovatif (karya tulis ilmiah, membuat alat peraga, alat pelajaran, karya teknologi/seni) masing – masing akan mendapatkan besaran angka kredit.

Menghasilkan karya ilmiah, bagi kebanyakan guru menjadi momok. Terasa begitu sulit melakukan sebuah penelitian dan menulis. Persoalan terkait macetnya kenaikan pangkat guru akibat dari kurang mampunya guru dalam menghasilkan karya ilmiah, saat ini menjadi persoalan secara nasional.

Dihampir setiap kabupaten kota, ditenemukan hal yang sama. Sulit naik pangkat akibat tidak mampu menulis karya ilmiah. Data resmi Depdiknas sejak tahun 2006 telah menunjukkan bahwa jumlah guru yang terhambat karirnya (macet pada golongan ruang IV/a) sebanyak 334.184 orang. Sementara, sebanyak 347.565 guru yang berstatus golongan ruang III/d sedang antri naik golongan ruang IV/a. Sementara itu, jumlah guru yang bergolongan ruang IV/b hanya 2.318 orang (di bawah 1 %).

Bicara terkait kesulitan guru dalam menulis karya ilmiah, ada beberapa kesulitan yang datang dari pribadi guru itu sendiri, diantaranya (1) budaya membaca. Membaca disini tidak dimaksudkan pada sekedar membaca buku pelajaran melainkan membaca buku buku sumber lain yang berhubungan dengan pendidikan, metode- metode penelitian, teknik penelitian, penilaian, dan lain lain.

Aktivitas membaca menjadi faktor urgen dalam mendukung seorang melakukan penelitian dan menulis sebagai syarat kenaikan pangkat dan golongan. (2) Semangat guru. Rutinitas harian di kelas mestinya memacu guru untuk terus merefleksikan setiap proses pembelajaran di kelas. Motivasi yang kuat dalam diri setiap guru mendukung aktivitas menulis.

Selain persoalan internal, ada beberapa kesulitan eksternal yang dialami guru dalam menulis yakni, sulitnya mendapatkan refrensi atau bahan bacaan sebagai landasan teori dalam menambah pengetahuan serta mengambilnya sebagai sumber dalam menyelesaikan sebuah tulisan ilmiah. Kesulitan lain juga adalah banyak guru yang gagap teknologi.

Gagap teknologi, membuatnya tidak mampu mengakses informasi – informasi penting terkait dengan apa yang hendak ditulisnya. Juga tidak ada tutor atau orang yang bisa dijadikan sebagai sumber informasi dan inspirasi dalam menulis.

Bagaimana guru bisa membuat sebuah penelitian dan kemudian menuliskan secara baik, jika saat ditanya apa itu PTK, guru menjawab PTK itu apa, sepertinya saya baru dengar?

Hal lain, alasan birokrasi yang berbelit – belit dalam mengurus berkas untuk kenaikan pangkat sepertinya masuk juga dalam daftar beberapa faktor eksternal penghambat guru enggan melakukan penelitian dan menulis hasil penelitiannya.

Bagaimana menulis PTK
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah penelitian praktis yang dimaksudkan untuk memperbaiki pembelajaran di kelas.

Penelitian ini merupakan salah satu upaya guru atau praktisi dalam bentuk berbagai kegiatan yang dilakukan untuk memperbaiki dan atau meningkatkan mutu pembelajaran di kelas. Berangkat dari defenisi PTK, harusnya tidak sulit bagi seorang guru untuk melakukan penelitian.

Karena penelitian yang dilakukan seputar bagaimana strategi, model pembelajaran, dan juga metode yang digunakan sehari – hari. Guru melihat efektivitas penerapan sebuah metode pembelajaran pada hasil belajar siswa, guru meneliti sebuah penerapan model pembelajran dalam upaya mendongkrak nilai siswa.

Untuk bisa membuat penelitian dan menghasilkan sebuah tulisan yang mendapat ruang publikasi, ada beberapa hal yang perlu dipersiapakan dan diperhatikan diantaranya.

Pertama Memiliki Motivasi dan kepekaan ada semangat dalam diri, tentu akan mendorong dan melahirkan sebuah kepekaan melihat segala situasi, persoalan yang ditemukan dalam proses pembelajaran pada setiap harinya di kelas.

Seorang guru yang peka, selalu bertanya akan segala hal yang membuatnya kesulitan saat belajar di kelas. Pertanyaan – pertanyaan yang dimunculkan oleh seorang guru sebenarnya sudah menjadi awal sebuah penelitian.

Mengapa anak kurang bersemangat saat guru memberikan materi dengan metode pembelajaran ceramah, dan anak bersemangat saat pembelajaran dilakukan dalam kelompok- kelompok diskusi. Mengapa anak sangat antusias saat materi dan contoh ditampilkan melalui media sementara anak kurang antusias saat materi dibacakan saja oleh guru, ini contoh pertanyaan sebagai pemicu sebuah penelitian akan dilakukan,jika saja guru peka. Pertanyaan pertanyaan yang dimunculkan, menjadi awal menuntun guru untuk melakukan penelitian.

Kedua Mencari refresi dan aktif mengikuti pelatihan menulis. Omong kosong kalau guru bisa melakukan penelitian dan menghasilkan sebuah tulisan kalau guru bersangkutan tidak memiliki sumber – sumber buku pendukung, dan tidak terlibat dalam pelatihan dan workshop yang berhubungan dengan aktivitas menulis.

Buku dan pelibatan diri mengikuti pelatihan akan menjadi sumber bagi guru mendapatkan wawasan dan inspirasi tentang apa yang hendak ia tulis dari apa yang telah ia alami dan rasakan didalam kelas. 

Ketiga Komunikasi dan Konsultasi. Jangan malu – malu membangun komunikasi dan konsultasi kepada sesama guru yang lain dalam membantu mengarahkan, memberikan pikiran dalam upaya bersama untuk melakukan penelitian dan menghasilkan tulisan.

Keempat Tekun dan terus memcoba.Tekun dan terus mencoba adalah karakter yang tidak dimiliki banyak guru. Guru kadang lekas putus asa, saat tulisannya dikritik atau dikatakan kurang bagus. Harusnya kritik itu diterima sembagai pemantik untuk menghasilkan sebuah tulisan yang bermutu.

Kelima Berani mengirim ke media publikasi. Setelah merampungkan sebuah tulisan hasil penelitian, guru harus punya nyali untuk mengirimkan tulisannya kemedia cetak yang berhubungan dengan pendidikan atau jurnal ilmiah terkait untuk mendapat ruang publikasi. Baik di media cetak maupun di jurnal biasanya memiliki format publikasi masing- masing.

Dianjurkan sebelum mengirimkan tulisan, bisa mempelajari terlebih dahulu format media tersebuty dengan tujuan jika tulisan sudah disesuaikan dengan format media yang ada, maka akan mendapat peluang untuk dipublikasikan.Coba dan terus mencoba adalah salah satu prilaku ilmiah, untuk menghasilkan sebuah karya yang bermutu.

Untuk meraih sebuah cita- cita besar, langkah pertama harus diayunkan. Budaya membaca dan aktivitas menulis dari hal – hal yang sederhana harus terus digalahkan.

Yang sederhana, akan menjadi pembuka jalan untuk menghasilkan tulisan – tulisan besar, termasuk dapat menulis hasil penelitian dengan baik.***

Maksimus Masan Kian
Ketua AGUPENA Flotim

2 Comments

  1. mohon ijin…sambil membagikan ke media social saya bermaksud mennyalin lurus..untuk mempublikasikan…sebagai satu bentuk peringatan kepada bapak ibu Guru Pns yang memarkir pangkat golongan di IVA…..makasih sebelum

    • Silahkan kawan. Mohon cantumkan link sumbernya, sebagai penghormatan kepada yang menulis.
      Terima kasih sudah membantu menyebarkan.

      Salam.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *