KALABAHI — Open Turnamen Sepak Bola Budi Artha Mandiri (BAM) Cup 2026 resmi berakhir. Gaza Moru FC keluar sebagai juara setelah menaklukkan tuan rumah Budi Artha Mandiri FC dengan skor 1-0 pada partai final di Stadion GOR Batunirwala, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (27/8/2026).
Turnamen yang berlangsung hampir sebulan penuh tersebut ditutup secara resmi oleh Wakil Bupati Alor Rocky Winaryo, SH., MH. Penutupan berlangsung di Stadion GOR Batunirwala dan dihadiri sejumlah pejabat daerah, unsur Forkopimda, pengurus KSU Budi Artha Mandiri, panitia, serta masyarakat dan pendukung klub.
Rocky memberikan apresiasi tinggi kepada Koperasi Simpan Usaha (KSU) Budi Artha Mandiri yang dinilai berhasil menghadirkan sebuah kompetisi sepak bola dengan skala besar dan berjalan aman hingga pertandingan terakhir.
“Saya salut dan apresiasi yang tinggi kepada Koperasi Simpan Usaha Budi Artha Mandiri atas penyelenggaraan perhelatan sepak bola bergengsi di Kabupaten Alor,” kata Rocky dalam sambutannya.
Menurut dia, selama turnamen berlangsung tidak terjadi hambatan maupun kekacauan yang mengganggu jalannya kompetisi. Kondisi tersebut, kata Rocky, menjadi salah satu indikator keberhasilan penyelenggaraan BAM Cup 2026.
“Intinya penyelenggaraan perhelatan akbar sepak bola di Bumi Nusa Kenari ini berjalan sukses. Sebuah pencapaian prestasi tertinggi bagi KSP Budi Artha Mandiri dan panitia penyelenggara,” ujarnya.
Partai final mempertemukan Budi Artha Mandiri FC sebagai tuan rumah dengan Gaza Moru FC. Pertandingan berlangsung ketat sebelum Gaza Moru memastikan kemenangan tipis 1-0.
Kemenangan tersebut mengantarkan Gaza Moru sebagai kampiun BAM Cup 2026 sekaligus berhak membawa pulang trofi Garuda berkepala emas serta hadiah uang tunai Rp50 juta. Selain hadiah uang tunai, juara pertama juga mendapatkan emas 24 karat seberat 15 gram dengan nilai sekitar Rp33,15 juta.
Sementara itu, Budi Artha Mandiri FC harus puas sebagai juara kedua dengan hadiah Rp35 juta. ATL United menempati posisi ketiga dan memperoleh Rp25 juta, sedangkan Mola FC berada di peringkat keempat dengan hadiah Rp15 juta.

Panitia juga memberikan penghargaan individual kepada pemain dan suporter
Top skor turnamen diraih Adi Rinkardi Kinanggi alias Adi Peso dari Budi Artha Mandiri FC. Penghargaan pemain terbaik diberikan kepada pemain ATL United bernomor punggung 46, Adi Maitia.
Sementara penghargaan suporter terbaik diberikan kepada pendukung Roda FC yang dinilai konsisten memberikan dukungan sepanjang turnamen.
Dalam sambutannya, Rocky mengatakan BAM Cup 2026 tidak hanya menjadi ajang perebutan gelar juara, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bagi pemain-pemain muda Alor.
Menurutnya, pertandingan sepak bola merupakan gambaran kecil kehidupan yang mengajarkan disiplin, kerja sama, pengendalian ego, strategi dan tanggung jawab.
“Sepak bola tidak pernah hanya tentang 22 orang yang merebutkan satu bola di atas rumput hijau. Tetapi sepak bola adalah sebuah mikrokosmos kehidupan,” kata Rocky.
Ia menilai kehadiran pemain-pemain dari luar Alor memberikan dampak positif terhadap perkembangan talenta lokal. Para pemain lokal, menurut dia, dapat belajar langsung mengenai mentalitas bertanding dan profesionalisme dari pemain yang memiliki pengalaman lebih tinggi.
“Kalian tidak hanya bertanding, kalian sedang mentransfer ilmu, mentalitas bertanding dan profesionalisme kepada adik-adik kita di sini,” ujarnya.
Rocky juga menyampaikan pesan kepada Gaza Moru sebagai juara agar tidak larut dalam kemenangan.
“Juara yang diraih adalah sebuah tanggung jawab moral untuk tetap rendah hati dan terus menjadi teladan di mana saja berada,” katanya.
Di balik kesuksesan penyelenggaraan BAM Cup 2026, Ketua Panitia Rahmad Mansari justru menyampaikan catatan kritis mengenai kondisi pembinaan sepak bola di Kabupaten Alor.
Menurut Rahmad, turnamen yang diikuti 24 tim menjadi momentum penting untuk mengukur sejauh mana kualitas sepak bola lokal dibandingkan daerah lain.
Dari 24 tim yang berkompetisi, hanya satu tim yang berasal dari Kota Kupang. Sementara sebagian besar peserta lainnya diperkuat pemain dari berbagai wilayah di daratan Flores dan Timor. Kondisi tersebut, kata Rahmad, memberikan gambaran nyata mengenai posisi sepak bola Alor saat ini.
“Kita bisa ukur kelas kita ada di mana. Apalagi dalam waktu dekat, sekitar Oktober, kita akan menjalani satu turnamen setingkat wilayah Nusa Tenggara Timur, yaitu El Tari Memorial Cup,” ujar Rahmad.
Ia menyoroti fakta bahwa tim dengan materi pemain lokal Alor tidak mampu melangkah jauh dalam BAM Cup 2026.
“Tim-tim dengan materi pemain lokal hanya habis di 16 besar. Itu artinya ada yang harus kita benahi,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu catatan penting dalam penutupan BAM Cup 2026.
Kesuksesan penyelenggaraan turnamen tidak otomatis berarti persoalan pembinaan sepak bola di daerah telah selesai.
Sebaliknya, kompetisi tersebut justru membuka ruang evaluasi mengenai kualitas pemain lokal, sistem pembinaan, regenerasi, hingga kesiapan Alor menghadapi kompetisi sepak bola tingkat provinsi.
Tidak hanya soal pemain, Rahmad juga menyoroti fasilitas olahraga yang menjadi tempat berlangsungnya pertandingan.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Alor memberikan perhatian serius terhadap kondisi Stadion GOR Batunirwala sebagai salah satu pusat aktivitas sepak bola di daerah tersebut.
“Bagaimana bisa lahir generasi yang baik kalau rumah tempat kita berlatih tidak kita urus dengan baik,” kata Rahmad.
Ia berharap pembenahan stadion dapat menjadi bagian dari perencanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Alor Tahun Anggaran 2027.
“Saya percaya dan apresiasi yang tinggi, di sini ada Bapak Wakil Bupati, ada Bapak Ketua DPRD. Mudah-mudahan dalam perencanaan anggaran APBD tahun 2027 menjadi konsensus kita untuk pembenahan dan persiapan,” ujarnya.
Kegiatan ini tidak boleh berhenti pada seremoni penutupan dan pembagian hadiah.Turnamen tersebut harus menjadi bahan evaluasi bersama bagi pemerintah, klub, pengurus sepak bola, pelatih, pemain dan masyarakat.
Terlebih, Alor akan menghadapi tantangan berikutnya dalam kompetisi sepak bola tingkat NTT. Karena itu, persoalan regenerasi, kualitas pemain lokal dan infrastruktur olahraga menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa ditunda.
BAM Cup 2026 akhirnya ditutup dengan Gaza Moru FC sebagai juara. Namun, di balik trofi dan gemerlap kompetisi, turnamen ini meninggalkan satu pertanyaan penting: sejauh mana sepak bola Alor mampu melahirkan pemain lokal yang kompetitif untuk bersaing di level NTT?.
Pertanyaan tersebut kini menjadi pekerjaan rumah bersama menjelang kompetisi yang lebih besar, tutur Rahmad.

Sementara itu, Manager KSU Budi Artha Mandiri, Muhammad Nasir Plaikari, singkatnya mengatakan penyelenggaraan BAM Cup 2026 merupakan proses panjang yang membutuhkan kerja sama, komitmen dan dukungan berbagai pihak.
Menurut Nasir, penyelenggaraan turnamen juga menjadi bagian dari komitmen Budi Artha Mandiri untuk terus hadir di tengah masyarakat.
Ia menyebut filosofi lembaganya, “lebih dekat, lebih memahami”, sebagai prinsip yang menjadi dasar dalam membangun kedekatan dengan masyarakat.
Sebagai lembaga jasa keuangan, Nasir mengatakan Budi Artha Mandiri merasakan dukungan pemerintah dalam upaya membangun Kabupaten Alor dan generasi masa depan.
“Kita tidak berhenti sampai di sini. Budi Artha Mandiri akan terus hadir. Kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi,” tegas Nasir.+++
j.k
