KUALA LUMPUR – Identitas budaya Rote Ndao menjadi salah satu kekuatan utama dalam National Costume (Natcos) yang akan dikenakan Mayana Tysellanata Saleky di ajang Miss Culture Universe 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia.
Kostum bertajuk ‘diversity : the face of Indonesia’ itu menghadirkan simbol-simbol budaya Indonesia Timur dalam sebuah karya yang sarat makna.
Dan Bula Molik menjadi salah satu elemen yang paling mencuri perhatian, karena dikenakan Mayana sebagai mahkota perempuan Rote Ndao berbentuk bulan sabit.
Bahwa, Bula Molik tidak sekedar ornamen atau penghias di kepala wanita Rote Ndao. Tetapi dimaknai sebagai simbol perjalanan, harapan, serta keberanian membawa warisan budaya dari tanah asal menuju panggung dunia.
Sekaligus merepresentasikan sebuah perjalanan yang terus bertumbuh di tanah Rote Ndao, yang dibawa Mayana ke Kuala Lumpur dengan pesan bahwa kekayaan budaya daerah memiliki tempat untuk dikenal dan diapresiasi di panggung internasional.

Dari Rote Ndao Menuju Panggung Dunia, Mayana Tetap Ingat Asal-usulnya
Bagi Mayana, Bula Molik menjadi pengingat bahwa keberagaman Indonesia tidak lahir dari satu identitas budaya. Setiap daerah memiliki simbol, sejarah, dan filosofi yang menjadi bagian dari wajah besar Indonesia.
Melalui National Costume ini, Bula Molik diposisikan berdampingan dengan Sasando, Habas, tenun ikat Rote hingga Songket Manggarai.
Perpaduan tersebut memperlihatkan bagaimana simbol-simbol tradisional dapat diterjemahkan ke dalam karya modern tanpa kehilangan akar budayanya.
Mayana menyebut kehadiran Bula Molik dalam kostumnya merupakan bentuk kecintaan sekaligus tanggung jawab untuk memperkenalkan budaya daerah kepada masyarakat yang lebih luas.
“Bula Molik bagi saya adalah simbol perjalanan dan harapan,” ujar Mayana Tysellanata Saleky, remaja putri Literasi Budaya Indonesia 2025.
“Saya juga tidak pernah melupakan asal-usul saya dari Maluku Barat Daya tepatnya di pulau Luang, yang lahir dan tumbuh di atas tanah Rote Ndao. Sehingga melalui perjalanan ini, saya ingin membawa cerita tentang budaya, dan menunjukkan bahwa dari tanah Indonesia Timur, yaitu Luang di Maluku Barat Daya, kami juga bisa berdiri dan berbicara di atas panggung dunia,” tambah Mayana.
“Dan saya bisa sampai di titik ini karena kemurahan Tuhan melalui dukungan Nihi Rote dan Rote Hospitality Academy, yang terus mendukung dari Literasi Budaya menuju panggung dunia,” samhungnya dengan bangga. +++
goe/m.s
