KUPANG, SULUH NUSA – Akibat hujan yang berlangsung beberapa bulan terakhir mengakibatkan dampak negatif dirasakan di beberpa daerah di tanah air.
Seperti yang dialami sebagain besar masyarakat di Kecamatan Nekamese Kabupaten Kupang Nusa Tenggara Timur.
Setidaknya terdapat Enam desa sejak sepekan ini lumpuh total akibat tanah longsor menyapu sebagian badan jalan di Kampung Kiupakas Desa Oemasi.
Enam desa yang lumpuh total akibat kondisi itu diantaranya; Desa oenif, Desa usapisonbai, Desa taloetan, Desa Bone, Desa Tasikona dan Desa Oepaha.
Sebagaimana pantauan media Minggu, (12/02) siang, nampak sejumlah warga yang hendak melakukan kepergian dari Desa Bone dan Usapisonbai terpaksa harus Turun dan tukar kendaraan lain saat riba di lokasi longsor. Akibat mobil maupun ke daran besar lain tidak bisa melintas karena jalan terputus akibat longsor.
Rince Baitanu (38) warga desa Oemasi mengatakan rumahnya hanya berjarak bebeapa meter dari lokasi longsor tetapi ketika akan bepergian ke pusat kecamatan di Oemasi maupun ke Kupang terpaksa harus menyebang dengan berjalann kaki bebeapa meter kemudian baru menumpang kendaraan karena mobil tidak bisa melintas di lokasi longsor.
“Saya rumah dekat sini saja (sambil menunjuk ke arah rumahnya) hanya karena jalan putus jadi kami jalan kaki ke sini bari naik oto (mobil/red) karena longsor”, jelas Baitanu yang biasa di sapa tanta Obe.
Hal yang sama juga di akui Marsel Boki (30) dengan mengatakan, kalau lokasi itu sudah rusak sejak enam tahun terakhir akibat tanah longsor. Tetapi aktifitas lumpuh total baru berlangsung satu pekan terakhir, setelah hujan terus menerus dan longsor menyapu sebagian besar badan jalan sepanjang kurang lebih dua puluh (20) meter lebih.
“Ini su longsor lama pak sekitar enam tahun tetapi baru putus total satu minggu ini”, terang Marsel. Ia juga mengaku, akibat kejadian itu dirinya yang berprofesi sebagai sopir mobil pickup sangat meraskan kurangnya pemasukan dari sebelumnya.
“Sebelum kejadian setiap hari saya bisa dapat penghasilan enam ratus ribu rupiah sampai delapan ratus ribu rupiah tetapi setelah jalan putus ini paling saya dapat dua ratus ribu sampai tiga ratus ribu rupiah,” jelasnya dengan sedikit keluh.
Hal sama juga diungkapkan Eklopas Aluman (46) yabg juga berprofesi sebagai sopir mobil pickup warga Desa Oenif, yang mengatakan, sebelum kejadian tarif angkutan penumpang kosong dari Oenif ke Kupang Pergi dan Pulang Rp. 20.000. sedangkan tarif penumpang dengan muatan barang berkusar Rp.30.000 pergi dan pulang tujuan Kupang Oenif.
Namun setelah kejadian terpaksa kami hanya antar dan turunkan penumpang sampai di lokasi longsor dengan tarif Rp.5000/penumpang. Sehinga penghasilan sangat menurun.
Tak hanya itu hampir sebagian besar kendaran roda empat juga kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM). Selama longsor terpaksa mobil memanfaatkan BBM yang dijual eceran oleh warga dengan harga Rp.15.000/botol.
“Dengan kejadian ini penghasilan saya sangat menurun karena jarak tempuh hanya sampai dilokasi lingsor dan penumpang transit untuk tukar kendaraan lain”, jelas Aluman.
Baik Aluman maupun Boki berharap Pemerintah Kabupaten Kupang bisa segera memperbaiki agar aktifitas bisa kembali normal di waktu mendatang.+++goris.takene



