Polairud Lembata Cekal Penumpang di “Jalur Tikus”

SULUH NUSA, LEMBATA – Kepolisian Resor Lembata Sat Polairud Cekal Penyeberangan Liar di pantai Waijarang desa Waijarang Kecamatan Nubatukan Kabupaten Lembata, NTT. Hal ini berdasarkan laporan warga sekitar dengan melihat cuaca buruk yang sedang terjadi secara nasional.

 

Meski demikian, para penumpang masih keras kepala untuk melaju ke desa Waijarang guna mendapatkan pelayanan pelayaran atau jalan tikus dengan tidak melihat keamanan serta keselamatan mereka.

Pantauan media, atas situasi ini Kasat Polairud IPTU Yosef Suyitno bersama anggota melakukan giat patroli menuju pelabuhan Jeti waijarang tepat pukul 09.00 WITA.untuk menindaklanjuti pengaduan masyarakat terkait banyaknya penumpang yang menggunakan bodi jolor untuk melakukan perjalanan penyeberangan ke pulau Adonara.

 

IPTU, Yosef Suyitno, Kasat POLAIRUD pada Sabtu pagi (31/12/22) mengatakan bahwa dalam giat tersebut kami (Kasat Polairud) memberikan beberapa himbauan kepada calon penumpang yang hendak melakukan perjalanan menggunakan bodi jolor, kepada para calon penumpang agar kembali ke rumah masing-masing dan tidak boleh melakukan perjalanan menggunakan bodi jolor, hal ini disampaikan oleh kasat POLAIRUD IPTU Yosef Suyitno berdasarkan surat edaran No: UM. 003/1/19/UPP.Lwb-2022, yang telah di keluarkan oleh pihak Sahbandar untuk melarang penyebrangan lokal karna cuaca Extreem sampai dengan tanggal yang tidak di tentukan, olehnya itu kepada para nelayan yang memiliki bodi jolor agar tidk melayani permintaan dari pada calon penumpang dan apabila himbauan ini tidak di indahkan kami sebagai aparat keamanan dan sebagai POLAIRUD akan menindak tegas sesuai hukum yang berlaku.

 

“Ini situasional,Bagi masyarakat yang ingin menyeberang atapun mudik tahun baru agar di urungkan saja niatnya karena cuaca Extreem,” tutup IPTU, Yosef Suyitno, Kasat POLAIRUD

Himbauan BMKG

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian wilayah Indonesia berpotensi diguyur hujan dengan intensitas yang bervariasi dari ringan hingga lebat di beberapa wilayah pada momen Tahun Baru atau 01 Januari 2023.

 

“Berdasarkan model cuaca numerik BMKG, sebagian wilayah Indonesia dalam beberapa hari kedepan berpotensi mengalami cuaca ekstrem dengan peningkatan curah hujan lebat hingga sangat lebat di beberapa wilayah. Untuk wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali hingga Nusa Tenggara, potensi hujan intensitas lebat hingga sangat lebat dapat terjadi mulai tanggal 30 Desember 2022, dimana potensi tersebut dapat berlanjut hingga 01 Januari 2023 dini hari,” ungkap Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam Konferensi Pers secara daring di Jakarta, Kamis (29/12/2022).

 

“Hujan cenderung terjadi cukup merata dengan peningkatan intensitas pada dini hari dan sore hari,” tambah dia.

 

Dwikorita menyebut, selain Jabodetabek, daerah yang perlu diwaspadai terjadi hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat adalah Banten bagian barat dan selatan, Jawa Barat bagian tengah dan utara, Jawa Tengah bagian utara, Jawa Timur bagian utara, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB) serta Nusa Tenggara Timur (NTT).

 

“Dasar pertimbangan dari masih signifikannya potensi cuaca ekstrem tersebut adalah karena masih teridentifikasi aktifnya beberapa fenomena dinamika atmosfer yang dapat memicu peningkatan curah hujan” ujarnya.

 

Diantaranya, lanjut Dwikorita, adalah aktifnya Monsun Asia di belahan bumi utara masih berkontribusi terhadap peningkatan asupan massa udara basah ke wilayah ekuatorial terutama di sekitar wilayah Indonesia bagian barat.

 

Selain itu, teridentifikasinya MJO (Madden Jullian Oscillation) yang masih cukup aktif di sekitar wilayah Indonesia bagian selatan ekuator, dimana kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan aktifnya fenomena gelombang atmosfer yaitu Kelvin Wave dan Rossby Equatorial dalam sepekan terakhir hingga beberapa hari kedepan yang berkontribusi signifikan meningkatkan pertumbuhan awan hujan dengan potensi curah hujan lebat hingga sangat lebat di beberapa wilayah.

Dinamika lainnya, lanjut Dwikorita, yaitu terpantaunya pusat tekanan rendah di Australia yang dapat membentuk daerah pertemuan angin di sekitar wilayah Indonesia bagian selatan equator yang dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan cukup signifikan di sekitar wilayah yang dilewatinya mulai dari wilayah Jawa hingga Nusa Tenggara.

 

Sementara itu, tambah dia, fenomena seruakan dingin Asia dan arus lintas ekuatorial dalam beberapa hari terakhir masih cukup aktif walaupun intensitasnya mulai berkurang dibanding beberapa hari lalu, meskipun begitu kondisi tersebut masih dapat berkontribusi terhadap peningkatan pertumbuhan awan hujan di wilayah Indonesia bagian barat dan selatan ekuator.

Dalam kesempatan yang sama, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto mengatakan bahwa saat ini sebagian besar wilayah Indonesia sedang menuju puncak musim penghujan yang diprediksi akan berlangsung pada Januari hingga Februari. Prakiraan cuaca yang dikeluarkan BMKG, kata dia, mengacu pada data keluaran model numerik cuaca.

 

“Puncak musim hujan secara umum diprediksikan terjadi pada Januari sampai Februari 2023, sehingga potensi hujan intensitas tinggi masihdapat terjadi hingga Februari 2023” imbuhnya.

 

Guswanto mengimbau agar masyarakat tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang kemungkinan terjadi dalam beberapa hari kedepan yang berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi. Mulai dari banjir, genangan, banjir bandang, tanah longsor, gelombang tinggi. +++kristina

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *