SULUH NUSA, ADONARA – Namanya Bonaventura Ton Parera atau akrab dipanggil Bapa Ton. Ia lahir di Larantuka pada tanggal 13 Mei 1935 dan merupakan anak kedua dari delapan bersaudara, buah dari pasangan Bapak Fransiskus Theodorus Dedong Parera dan Mama Fransiska Yasinta Riberu.
Meski hidup dalam keluarga yang sederhana, namun semangat juang dari kedua orang tua tak pernah surut untuk memperjuangkan pendidikan anak-anak.
Saat itu Bapak Dedong berkeyakinan bahwa hanya pendidikan yang dapat merubah masa depan kedelapan anak-anak mereka. Cara pandang yang kemudian dipraktikan oleh Bapa Ton dikemudian hari kepada anak-anaknya.
Perjalanan pendidikan Bapa Ton, dimulai dari Sekolah Rakyat 3 Larantuka. Lulus dari sini, beliau melanjutkan studi ke Kota Ende. Di kota Pancasila, beliau menempuh tiga jenjang pendidikan, mulai dari SMP Ndao, SGA Ende dan terakhir Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama [PGSLP] Ende. Usai menamatkan pendidikan di Ende, Bapa Ton kembali ke Larantuka.
Di kota kelahirannya ia diminta untuk mengabdi sebagai pegawai Keuskupan Larantuka sekaligus mengajar di SMPK Pankrasio. Dilingkungan kerja ini, beliau banyak berinteraksi dengan misionaris Eropa. Pengetahuan dan pengalaman dari sini turut berpengaruh terhadap mentalitas dan karakter diri seorang B. Ton Parera. Ia terus tumbuh menjadi pribadi yang matang secara pengetahuan dan emosional. Kecerdasan yang dibingkai dalam kepribadian yang bersahaja tak ayal membawa beribu apresiasi atas setiap karya pelayanannya.
Pada tahun 1964, Bapa Ton diminta untuk menghadap atasannya. Dalam sebuah rapat terbatas, ia diminta membantu Keuskupan Larantuka untuk memimpin sebuah lembaga pendidikan yang baru dibentuk di pulau Adonara. Tugas ini mulanya diberikan kepada beberapa guru senior, namun tak satupun dari mereka yang menyanggupi.
Alasan mereka menolak karena pada masa itu geliat perang tanding masi marak terjadi di pulau Adonara. Tapi ketika tawaran ini disodorkan kepada Bapa Ton, tanpa keraguan sedikitpun, beliau langsung menyanggupinya.
Kabar ini segera disampaikan kepada kedua orang tua. Awalnya orang tua keberatan jika anak mereka harus hijrah ke Adonara, terlebih usianya baru 29 tahun.
Konflik dan perang yang masih sering terjadi dianggap membahayakan keselamatan anak mereka. Namun Bapa Ton menjawab keraguan kedua orang tuanya. Beliau mencoba meyakinkan bahwa selama kita berbuat baik terhadap orang lain, balasannya juga demikian. Ia yakin bahwa meski orang Adonara berwatak keras, tapi mereka adalah saudara serumpun yang pastinya akan bersyukur dengan kehadiran kita yang membawa hal baik demi kemajuan peradaban.
Cepat atau lambat ia pasti diterima di sana. Orang tua memilih mengalah dan mendoakan yang terbaik untuk kelangsungan karya serta keselamatan hidup anaknya.
Akhirnya, Bapa Ton benar-benar berangkat ke Adonara dan menjadi Direktur pertama SMP Katholik Palugodam di Desa Lewokemie (sekarang Sandosi). Kehadiran B. Ton Parera seakan menjadi kepingan puzzle yang melengkapi perjuangan seorang Thomas Sili Mado, penggagas dan pendiri SMP Katholik Palugodam.
Narasi berdirinya SMP K Palugodam tidak semulus kisah berdirinya sekolah-sekolah di era pendidikan modern sekarang. Beragam persoalan dihadapi seiring berdirinya lembaga ini, mulai dari urusan administrasi hingga perkara sarana dan prasarana pendukung. Palogodam hadir sebagai manifestasi dari keberanian Thomas Sili Mado dalam mendobrak situasi masyarkat yang terjebak belenggu kemiskinan dan kebodohan. Spirit dan motivasi ini memantik arus perlawanan dari elit lokal yang ketika itu secara terbuka menolak pendirian lembaga pendidikan, apalagi berlokasi di daerah yang dilabeli “kampung monyet”.
Kondisi ini selanjutnya menjadi tantangan terberat dari kiprah Thomas Sili Mado dan Ton Parera diawal mula perjuangan mereka. Keselamatan Bapa Ton sebagai seorang pendatang, turut terancam saat itu. Namun beliau bukanlah manusia bermental tempe. Sikap tenang dan pribadi yang inklusif, membantunya menghadapi dan menyelesaikan persoalan serta ancaman tersebut tanpa harus menimbulkan riak yang mengkhawatirkan.
Pada masa itu, kedua tokoh ini memainkan peran sebagai Narator handal dalam mempertahankan eksistensi lembaga ini dari intervensi kaum feodal. Palugodam pada akhirnya berdiri kokoh sebagai mercusuar pendidikan yang turut berjasa atas kemajuan pendidikan di Adonara-Lembata. Dari lembaga ini lahirlah beberapa tokoh politik hebat NTT semisal Frans Lebu Raya, Thomas Ola Langodai, Viktor Mado Watun dan Daniel Hurek.
Bapa Ton menutup masa bakti di SMP Palugodam pada tahun 1969.Ia akhirnya kembali ke tanah ketuban, Kota Serani. Disana beliau melanjutkan karir di Delsos Keuskupan Larantuka. Kemudian bersama Bapak Yosep Wain dan Bapak Helun Welan, mendirikan Yaspensel. Beliau akhirnya purna bakti sebagai pegawai Yaspensel pada tahun 1996.
Bapa Ton memang hanya bertugas selama empat tahun di Adonara. Waktu yang terbilang singkat. Meski begitu dedikasi hebatnya patut untuk dikenang. Adonara bukan saja menjadi ruang aktualisasi pengetahuannya, namun juga menjadi rumah asmaranya.
Di tanah inilah seroang B. Ton Parera menemukan belahan jiwanya. Ia jatuh hati pada pesona seroang gadis kampung bernama Ana Bita Ina Lamawuran, putri dari Bapak Wilem Wadan Penana dan Mama Yuliana Herin Buran. Gadis desa ini diboyong ke Larantuka untuk menjadi pasangan hidup-matinya. Dari pernikahan ini lahirlah lima orang puteri dan dua putera. Seturut apa yang diajarkan ayahnya, Bapa Ton juga berhasil menyekolahkan ketujuh anaknya hingga pendidikan tinggi. Kini mereka telah berhasil pada bidang pekerjaan masing-masing.
Senin, 7 Maret 2022, bertempat di RSUD. S. K. Lerik Kota Kupang, Bapa Ton mengembuskan nafas terakhirnya. Ia pergi menyusul kekasihnya, Ana Bita Ina, yang telah meninggalkannya delapan tahun lalu. Kepergiannya bukan saja menjadi duka bagi keluarga, tapi menjadi duka bagi sebagian masyarakat Adonara-Lembata, yang pernah merasakan manis dari buah pengabdiannya di SMP Katolik Palugodam.
Selamat jalan Pahlawan. Membalas jasa mu adalah suatu kemustahilan. Ditengah peradaban yang kian jauh dari arti ketulusan ini, kisah dan kepribadian mu akan menjadi teladan bagi kami anak cucu mu.
Pana meti Senare Ama Guru.
+++yosef dionisius lamawuran
