SULUH NUSA, ADONARA – Kakek saya pernah mengatakan bahwa mereka lebih percaya pada tanda alam, dari pada kalender dengan jejeran angka ditiap bulannya.
Untuk memutuskan mulai atau belumnya waktu menanam, setiap pagi mereka selalu bangun lebih awal sebelum matahari terbit, lalu melihat ke arah timur menunggu matahari. Tujuan mereka hanya satu yaitu, melihat dimana tepatnya matahari muncul.
Apakah di sisi kiri, tengah, kanan gunung, atau bahkan telah bergeser jauh ke kanan dari gunung ile lewotolok, yang ada di Kabupaten Lembata, NTT.
Begitulah cara para petani di Honihama membaca tanda alam. Pernah, kakek dan nenek berdebat soal kapan mereka harus menanam jagung sebab, kemarin hujan sangat lebat. Seingat saya saat itu diawal bulan November tahun 1997.
Saat itu saya masih kelas III Sekolah Dasar. Kakek saya terlihat tenang-tenang saja, sementara nenek telah sibuk menyiapkan benih. Ia mengupas jagung, memisahkan bulir dari tongkolnya, dan menyimpannya pada sebuah wadah dari anyaman daun lontar.
“Hari ini, kita ke kebun untuk mulai menanam jagung. Saya telah menyiapkan benihnya semalam sebelum tidur.” Kata nenek sembari menghidangkan bubur singkong panas, serta segelas kopi Lite. Matahari belum terlalu jauh ke sisi kanan gunung. Tunggu dulu barang satu minggu lagi.” Sahut kakek sambil mengikat gulungan kecil daun pucuk lontar yang diisi tembakau di tangannya, dengan bagian lain dari daun lontar yang telah disobek tipis.
Nenek belum beranjak pergi ke dapur. Ia masih duduk disekitar meja makan, tempat kakek hendak sarapan.
“Saya memperhatikan bahwa seminggu belakangan ini, kamu bangun saat matahari sudah naik tinggi. Karena itu, saya selalu menyempatkan diri untuk keluar, dan memperhatikan dimana matahari itu muncul.” Kakek diam-diam saja, lalu segera sarapan. Akhirnya, hari itu juga kami pergi ke kebun ramai-ramai, untuk menanam jagung.
Dan benar saja bahwa hari itu merupakan waktu yang tepat untuk menanam jagung, karena selang beberapa menit setelah selesai menanam, hujan lebat kembali mengguyur bumi. Gunung ile Lewotolok dan terbitnya matahari, memang menjadi tanda alam bagi petani di kampung saya Honihama terutama dusun Lewo Belolon, untuk menentukan waktu menanam.

Saat matahari bergeser lebih jauh ke sisi kanan gunung dan hujan, itu adalah waktu yang tepat untuk menanam. sebab, hujan akan turun baik setelah benih ditanam. Kalaupun hujan tidak turun, itu bisa pertanda lain bahwa, ritual memanggil hujan di Honihama harus segera dilakukan.
Sebaliknya jika matahari baru bergeser sedikit ke arah kanan gunung lalu hujan turun dan petani menanam, bisa dipastikan bahwa setelah tumbuh, sebagian jagung akan mati sebab, hujan baru akan turun lagi setelah matahari benar-benar bergeser jauh ke arah kanan gunung.

Artinya, petani harus menanam lagi yang ke dua kalinya untuk mengganti jagung yang mati saat tanam pertama tadi. Syukur jika masih ada bibit. Jika tidak maka ia akan menuai lebih sedikit dari biasanya.
Musim tanam kali ini sedikit lebih sulit diprediksi sebab, kabut letusan gunung Ile Ape pada Minggu 29 November 2020, selalu menghalangi letak matahari terbit saat pagi. Namun, alam tahu yang terbaik untuk penghuninya. Tidak tiap pagi kabut itu berada disana dan menghalangi matahari. Sesekali ia membiarkan rona merah itu bersinar menerpa dedaunan yang sempat diguyur abu vulkanik.

Honihama adalah sebuah kampung di kaki gunung Ile Boleng Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, NTT. Letaknya yang berada di ketinggian dan berhadapan langsung dengan ile lewo tolok, membuat warga Honihama ikut merasakan betapa menakutkannya suara gemuruh dari erupsi gunung Ile Lewotolok diseberang pulau. Di kampung ini, kalian bisa melihat indahnya matahari terbit dan pesona bulan purnama. Selain karena di ketinggian, gunung dan hamparan laut yang memisahkan pulau Adonara dan Lembata membuat semuanya jadi lebih indah.

Musim tanam kali ini sedikit lebih sulit diprediksi sebab, kabut letusan gunung Ile Ape pada Minggu 29 November 2020, selalu menghalangi letak matahari terbit saat pagi. Namun, alam tahu yang terbaik untuk penghuninya. Tidak tiap pagi kabut itu berada disana dan menghalangi matahari. Sesekali ia membiarkan rona merah itu bersinar menerpa dedaunan yang sempat diguyur abu vulkanik.***
(o.bali.adonara/SN/weeklyline media group)
