suluhnusa.com – Minggu pagi itu cuaca cerah. Gunung Agung berdiri anggun berselimut awan tipis. Matahari belum terik benar ketika kami tiba di Dusun Pemuteran, Desa Pempatan, Kecamatan Rendang, Karangasem, Bali.
Jalan yang curam dan berkelak kelok tak terasa meletihkan ketika mendengar suara riang menyambut kami di sebuah rumah milik sahabat kami, Ni Kadek Sujani.
“Selamat datang kakak, selamat datang kakak, slamat datang kami ucapkan..” begitu syair lagu yang dinyanyikan oleh anak anak yang belajar di Rumah Edukasi Satu Padu Dusun Pemuteran. Wajah wajah mereka adalah wajah salah satu sudut pendidikan kita di pelosok Bali Timur.
Mereka terdiri daru 84 orang siswa dimana 1 orang siswa SMA, 19 orang SMP, 61 siswa SD dan 3 orang siswa PAUD. Diantara mereka terdapat 8 orang anak yatim piatu dan 5 orang anak yatim. Anak anak tersebut semuanya berasal dari Desa Pempatan.
Rumah-rumah penduduk di dusun tersebut letaknya berjauhan dan terpencil sehingga beberapa siswa harus berjalan berkilo kilo meter untuk belajar di sekolah dasar terdekat yaitu Sekolah Dasar Negeri 5 Pempatan, tempat Ibu Ni Kadek Sujani bertugas sebagai guru yang mengajar kelas rangkap.
Hal ini disinyalir menjadi salah satu penyebab tingginya angka putus sekolah di wilayah itu, selain tingkat ekonomi masyarakat yang merupakan masyarakat menengah ke bawah.
Melihat kondisi demikian , Bu Kadek (demikian panggilan akrabnya) berinisiatif membuka kelas belajar di rumahnya yang kebetulan dekat dengan sekolah pada tahun 2014 dengan biaya dari kantong pribadinya untuk menyediakan alat alat tulis dan buku bagi anak asuhnya. Dengan harapan anak anak tersebut dapat tetap menjaga semangat untuk bersekolah. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak anak yang tertarik untuk belajar. Hal tersebut menyebabkan membengkaknya pengeluaran.
“Saya hampir putus asa, karena biaya yang dikeluarkan semakin besar untuk memfasilitasi anak anak tersebut belajar” ujar Bu Kadek.
Di tengah kebingungan untuk membiayai kelas belajar tersebut, tahun 2016, Bu Kadek mendapat bantuan dari relawan yang tergabung dalam komunitas Kakak Asuh Bali.. Mereka mendapat informasi tentang kelas belajar pemuteran dari instagram .
Kakak Asuh Bali terdiri dari anak anak muda yang mendedikasikan dirinya untuk membantu anak anak di pelosok Bali terutama membantu pendidikannya dengan mencarikan donatur yang kemudian membiayai proses belajar mengajar atau membiayai pendidikan salah satu anak agar tidak putus sekolah.

Sungguh suatu mujizat luar biasa. Salah satu kordinator pelaksana adalah I Gede Sudiarsa. Tiap hari Minggu datang dari Denpasar ke Dusun Pemuteran untuk membantu anak anak belajar. Kegiatan yang lain adalah melakukan survey siswa yang akan diberikan bantuan oleh kakak asuh dengan uang saku kisaran 150 sampai 200 ribu per bulan, tergantung kebutuhan mereka. Selain di Dusun Pemuteran, komunitas semacam ini juga bergerak di Desa Trunyan dan Kintamani yang diasuh oleh Komunitas Gerakan Bali Baca Buku namun hanya mengasuh dan tidak ikut mengajar.
Sejak Juli 2019, Kelas Belajar Pemuteran ini diganti nama menjadi Rumah Edukasi Satu Padu dengan masuknya Komunitas Satu Padu yang memberikan bantuan ruang belajar di bekas garasi milik Bu Kadek. Sebelumnya mereka belajar di teras rumah milik Bu Kadek . Penggalangan dana untuk renovasi dilakukan melalui website : kitabisa.com
Anak anak belajar tiga kali seminggu yaitu Rabu, Jumat dan Minggu. Pada hari Minggu anak-anak belajar dari pukul 9 pagi sampai pukul 12 siang.
Sedangkan pada hari Rabu dan Jumat sore. Mereka belajar apa saja, seperti menggambar, bermain catur, membuat pekerjaan rumah dari sekolah atau sekedar membaca buku buku yang disediakan. Jika memungkinkan, merekapun diberikan makan siang setiap hari Minggu.
“ Yang kami butuhkan adalah bantuan untuk menjalankan Rumah Edukasi ini secara berkelanjutan. “ Bu Kadek mengakhiri ceritanya.

Pendidikan memang tak menjamin sukses, tapi pendidikan melahirkan harapan baru untuk hidup yang lebih baik. Berbagi tak sebatas materi tapi bisa juga berbagi keceriaan bersama. SDM unggul, Indonesia Maju. Bersama kita bisa.***
luhdias
