Mereka Menabuh Blek Menggantikan Tambun

suluhnusa.com_Melihat rutinitas orang tua diikampung Lotanliwo sebagai penjual arak, maka dicoba memanfaatkan peralatan yang digunakan oleh orang tuanya berupa bambu, blek, drigen, dan botol. Dan munculah grup band yang dinamakan SEMARAK (Senandung Marching Arak)

SMPN 2 Tanjung Bunga berada di desa Latonliwo, Kecamatan Tanjung Bunga, Kabupaten Flores Timur.

Sebuah sekolah yang terletak diujung Tanjung Bunga, diapiti bebukitan, yang menghadap langsung dengan laut Flores. Transportasi darat yang kurang mendukung dan menantang bagi siapa saja yang ingin melaluinya.

Pun transportasi laut yang kemudian harus berhadapan dengan ombak ketika memasuki wilayah Kopong Dei, dan sama sekali tidak memiliki akses komunikasi.

Namun jangan dikira, kalau Smpn 2 ini, tidak bisa berbuat apa apa. Ini dibuktikan dengan berbagai kegiatan yang dilaksanakan oleh pelajar ketika mengikuti perayaan kemerdekaan RI ke 71, yang dilaksanakan secara terpusat di desa Latonliwo.

Patut diacungi jempol dan harus ditiru, walaupun dalam kekurangannya, SMPN 2 Tanjung Bunga telah mengeluarkan bentuk kreatifitasnya yang dituangkan dalam sebuah aksi drum band.

Aksi ini mendapat jempol secara spontanitas oleh para pejabat lingkup Kecamatan, Kepala sekolah SD- SMP sekecamatan Tanjung Bunga yang hadir. Mengapa tidak?, peralatan drum band yang dipakai, bukan peralatan yang modern yang dipakai oleh pelajar yang ada di kota, melainkan perlatan yang biasa digunakan oleh orang tuanya ketika menyuling arak.

Elfianus Emanuel Geo, guru Bahasa Inggris yang mengabdi di SMPN 2 Tanjung Bunga, juga sebagai instruktur yang memiliki segudang pengalaman marching band, menuturkan, harus diakui bahwa siswa siswi banyak memiliki bakat dan kemampuan yang belum terekspose dengan baik, ditambah perlatan yang kurang mendukung.

“Ketika saya melihat rutinitas orang tua mereka rata rata sebagai penjual arak, maka saya mencoba memanfaatkan perlatan yang digunakan oleh orang tuanya berupa bambu, blek, drigen, dan botol. Kemudian saya mencoba membandingkan bunyi dengan peralatan drum band. Ternyata semirip. Dimana blek menggantikan tambun, drigen menggantikan tamtam, bambu menggantikan stik, sedangkan botol bir menggantikan simbas. Dan munculah grup band yang dinamakan SEMARAK (Senandung Marching Arak),” kisah Eman Geo.

Menarik memang. karena siswa siswi ini tidak memiliki pakaian marching maka, mereka mencoba mengangakat pakaian adat Lamaholot sebagai penggantinya. Alhasil penampilan SEMARAK band ini sangat sukses.

Lain lagi, Kepala sekolah SMPN 2 Tanjung Bunga, Ignasius Bera Koten, SP.d, dengan bangga menjelaskan, jangan dikira kami berasal dari sekolah terpencil, terkucil, dan bahkan terkebelakang lalu tidak bisa berbuat apa apa.

“Kami buktikan bahwa kami juga mampu bersaing bukan hanya dalam bidang akademik saja, tapi juga non akademik. Ini dibuktikan dengan kreatifitas guru dan siswa kami dapat memainkan alat alat drum band persis dengan drum band yang biasa dimainkan siswa siswi lainnya yang ada dikota. Walaupun alat alat yang digunakan adalah alat alat yang biasa digunakan oleh orang tua mereka untuk menyuling arak. Saya bangga dengan guru guru saya yang rata rata adalah anak muda serta memiliki kratifitas dan inovatif yang tinggi untuk meningkatkan mutu pendidikan. Dan kami siap jika kelak kami dipecayakan untuk tampil di kabupaten,” tandasnya.

Drs. Ramon Mandiri Piran, Camat Tanjung Bunga, didepan marching arak band, menyaksikan atraksi dari anak anak semarak band, menyampaikan apresiasinya kepada siswa siwi SMPN 2 Tanjung Bunga telah ikut memeriahkan pada perayaan HUT RI ke 71.

Sinyoret utama dalam marching arak band Emanuel Koten, siswa kelas VIII SMPN 2 Tanjung Bunga, mengungkapkan rasa bangganya ketika di percayakan sebagai sinyoret. Saya bangga ketika bisa tampil di depan banyak orang, apalagi ketika pada perayaan HUT RI ini.

“Karena Saya bangga bisa memimpin teman teman dengan berbagai macam alat yang kami mainkan, mulai dari blek, drigen, botol, pianika, dan penari. selama ini saya belum pernah melihat dan mengikuti kegiatan marching band. Tetapi dengan kehadiran instruktur kami, dan juga adalah guru kami, maka kami dapat mengenal yang namanya marching band. Kami bisa memukul drum band denga baik, dan lagu yang kami bawakan antara lain, Indonesia Raya, hymne, halo halo Bandung, kasih ibu, nona manis, bolelebo dan lui e. Berharap kedepannya kami dapat memiliki alat drum yang lebih baik lagi,” tutupnya dengan penuh harapan.

Jemmy paun

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *