suluhnusa.com_Petani, Tidak hanya bermain di rantai Produksi. Sejak tahun 2000-an saya mulai menanam kakao pada lahan seluas 1 ha.
Di lahan ini saya kembangkan beberapa jenis tanaman perdagangan, antara lain kelapa, kemiri dan kakao.
Saya Konradus Doni Seda, petani kakao di Desa Pululera, Kecamatan Wulanggitang, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.
Jumlah tanaman kakao yang saya kembangkan sangat terbatas, hanya 750 pohon. Produksi kakao saya pada tahun 2010 sebanyak 322 kg. Total pendapatan saya Rp 4.605.000.
Rata-rata produksi per pohon per tahun 2010 sebanyak 0,644 kg atau 644 gram per pohon per tahun. Rendahnya produksi kakao ini terjadi karena rendahnya pengetahuan saya tentang teknik budi daya kakao.
Tingginya tingkat serangan hama dan penyakit, terutama helopeltis spp dan penggerek buah kakao (Conopomorpha cramerella Snellen), memperparah rusaknya buah kakao.
Beberapa petani kakao merasa banyaknya serangan hama penyakit ini diperparah perubahan iklim beberapa tahun terakhir. Banyak petani kakao kewalahan menghadapi serangan hama helopeltis dan PBK. Meski demikian, saya dan kawan-kawan petani di Kelompok Tani Tana Tukan tidak menyerah pada keadaan.
Pada tahun 2009 program Ayu Tani dan VECO Indonesia memberi kesempatan kami untuk mengikuti kunjungan belajar ke Sulawesi. Kami secara khusus belajar teknik budi daya kakao. Pada tahun yang sama saya mengikuti pelatihan untu pelatih (TOT) budi daya kakao yang diselenggarakan VECO Indonesia, PT Mars dan SwissContact di Maumere.
Pada tahun 2010, saya bersama teman mengikuti Farmer Field School (FFS) Kakao di kelompok Hapeng Wuli, Desa Nawokote, Kecamatan Wulanggitang.
Ilmu yang kami pelajari, kami praktikkan di kebun masing-masing. Pada saat kerja gilir kelompok tani, banyak anggota tertarik dengan apa yang kami buat. Pelan-pelan, ilmu pengetahuan dan keterampilan yang kami miliki, kami tularkan pelan-pelan kepada anggota kelompok.
Selama tahun 2011, kami galakkan kerja gilir kelompok khusus untuk perawatan tanaman kakao. Hasilnya, sampai November 2011, 25 anggota kelompok sudah terampil melakukan pemangkasan, pemupukan, panen sering dan sanitasi (P3S). Kebun anggota kelompok kami sangat berbeda dengan kebun petani kakao lain.
Selain mengembangkan teknologi P3S, saya juga giat melakukan perbaikan genetik pada tanaman kakao. Teknologi yang digunakan adalah sambung samping dan sambung pucuk. Teknologi ini diperkenalkan VECO Indonesia, Ayu Tani dan PT Mars Makasar. Sejak tahun 2009, saya sudah mengenal teknologi sambung pucuk dan sambung samping. Beberapa klon yang saya kembangkan di kebun adalah M01, M06 dan Sulawesi 1.
Selain mengembangkan klon unggul dari Sulawesi, kami juga mencoba mengembangkan klon lokal unggul yang kami seleksi sendiri. Hasilnya lumayan bagus. Penampilan cabang, ukuran buah, serta ukuran biji kakao klon unggul cukup menggembirakan. Tanda-tanda sukses mulai kami rasakan.
Pada tahun 2009 kami mulai pemasaran bersama Jaringan Petani Wulang Gitang (JANTAN). Namun, saat itu JANTAN masih melakukan uji coba. Pada tahun 2010, kami melakukan pemasaran bersama biji kakao basah melalui JANTAN bekerja sama dengan PT Mars. Kami banyak belajar. Ketika kami menjual sendirisendiri maka harganya pun berbeda-beda antara satu petani dengan lainnya. Terkesan pedagang suka-suka menentukan harga.
Pembelajaran paling penting adalah kami akhirnya tahu bagaimana memproduksi biji kakao berkualitas sesuai standar nasional. Saya dipilih menjadi anggota Tim Pasar Desa (TPD) Pululera. Sebagai TPD kami dilatih Tim PT Mars untuk Quality Control dalam FFS. Kami mulai mengorganisir semua petani anggota dan bahkan di luar anggota untuk terlibat dalam pemasaran bersama.
Tugas TPD memberikan informasi tentang jadwal penimbangan, pengaturan jadwal panen dan pembelahan, harga harian, kontrol kualitas, penimbangan, pencatatan dan pembayaran.
Saya punya catatan cukup lengkap tentang usaha tani kakao. Setiap kali menjual, saya catat jumlah kakao yang dijual serta harga jual di pasar. Sampai November 2011, produksi kakao saya meningkat menjadi 367 kg, dengan besarnya pendapatan sebesar Rp 6. 742.5009 atau naik sebesar 31,7 persen dibanding tahun 2010.
Sekali lagi saya tekankan, meningkatnya produksi ini terjadi karena perlakuan P3S yang saya lakukan secara terpadu dan perbaikan genetik dengan sambung samping menggunakan klon unggul.
Saya baru sadar bahwa petani tidak bisa hanya bermain di rantai produksi. Aspek pengolahan hasil akan sangat berpengaruh terhadap harga biji kakao kering di pasar. Saya lalu belajar dan terus belajar.
Pada tahun 2011 saya mengikuti FFS kakao yang fokus untuk pembelajaran panen, sortasi, fermentasi dan pengeringan. Hasilnya bagus. Harga kakao kering saya jual antara Rp 17.000 sampai Rp 21.000 per kilogram. Harga biji kakao kering ini, berbeda dengan petani lain karena karena mutu biji.
Pengolahan yang saya lakukan sangat sederhana. Saya biasa memeram selama 4-5 hari lalu menjemurnya sekitar 5 hari tergantung cuaca. Untuk menghasilkan pengeringan merata, saya selalu membolak-balikan biji setiap satu jam.
Saya sudah buktikan sendiri, menghasilkan biji kakao kering yang berkualitas, sangat membantu memperkuat posisi tawar petani dalam tataniaga komoditi.
Cerita ini ditulis kembali oleh Albert S. Sogen
Konsultan Jantan, dan Meri Makin, Kasir KSU Jantan

Wah.. ternyata senior saya yang nulis… dan sampai sekarg beliau masih giat membimbing petani coklat/kakao….