suluhnusa.com_Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri Satu Atap Riangpuho di Desa Waibao Kecamatan Tanjung Bunga Kabupaten Flores Timur, pada sabtu (7/2/15) mengelar sosialisasi dampak negatif bolos dan kebiasaan berbahasa daerah di sekolah.
Kegiatan ini melibatkan guru, dan seluruh siswa pada sekolah tersebut yang berjumlah seratus lima puluh delapan (170) orang. Kegiatan yang terjadi di aula sekolah ini, dibuka oleh Wilem Kopong, Wakil kepala sekolah SMP Negeri satu Atap Riangpuho.
Wilem Kopong mengatakan bahwa, kegiatan ini sangat bermanfaat. “Kami memberikan apresiasi yang setinggi – tingginya kepada Pembina OSIS bersama dengan pengurus OSIS yang telah merencanakan dan melaksanakan kegiatan ini. Kegiatan ini sangat penting dalam upaya merubah prilaku siswa yang menyimpang di sekolah. Kita berharap, kegiatan ini dapat memberikan dampak positif jangka panjang,” ungkapnya.
Keua OSIS SMP Negeri Satu Atap Riangpuho, Yuliana Bua Kiabeni mengatakan bahwa, pelaksanaan kegiatan sosialisasi dampak negatif bolos dan kebiasaan berbahasa daerah di sekolah berangkat dari kebiasaan siswa di sekolah yang kadang bolos pada hari tertentu yakni pada hari kamis, yang merupakan hari pasar di desa Waibao.

Dimana sekolah berdekatan dengan pasar Waibao ini. Siswa juga lebih suka menggunakan bahasa daerah dalam komunikasi mereka sehari – hari di sekolah. Sekolah kita memang jauh dari pusat kota kabupaten dimana pola pikir anak – anak yang belum merasa penting untuk berbahasa Indonesia di sekolah, tetapi kami tetap berupaya untuk menekan kebiasaan ini.
“Kami berharap, semoga dengan kegiatan yang sederhana ini, mampu membawa makna yang positif dalam perkembangan mental dan karakter anak baik saat di sekolah ini, maupun pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi nanti,” ungkapnya.
Pemateri dalam kegiatan ini adalah Thobias Ruro S.Pd yang adalah guru Bimbingan Konseling (BK) pada sekolah tersebut, dan Guru bahasa Benediktus Bereng Lanan, S.Pd. Thobias dalam materinya mengatakan, Bolos itu negatif, karena dengan kebiasaan membolos dari sekolah, siswa sangat dirugikan. Siswa akan ketinggalan materi pada jam pelajaran saat siswa bersangkutan bolos.
Selain itu, hal buruk lain dari bolos adalah berpotensi terjadinya tawuran antar pelajar, merokok, mencuri dan lain – lain. Lanjutnya, di inggris jika siswa bolos dari sekolah, bukan hanya siswanya saja yang diberikan sangsi, tetapi orang tuannya juga dikenai sangsi. Demikian mereka saat ini sebagai sebuah negara yang sangat maju, katanya.
Sementara itu Benediktus mengatakan bahwa, dampak buruk berbahasa daerah di sekolah adalah, siswa mengalami kesulitan pada saat mengerjakan soal ulangan, soal ujian, dan mengerjakan soal- soal dalam buku pelajaran. Bahasa Indonesia penting karena, merupakan bahasa nasional yang memudahkan orang berkomunikasi dimanapun ia berada dalam wilayah indonesia, Jadi perbiasakanlah bahasa indonesia di sekolah ungkapnya.
Siswa nampak antusias mengikuti kegiatan sosialisasi ini. Diakhir kegiatan siswa dan guru bersama – sama menyusun sangsi yang akan diberikan kepada siswa jika bolos dan berbahasa daerah di sekolah yang akan diberlakukan pada pekan depan.(maksimus masan kian)
