suluhnusa.com_Jangan heran bila suatu saat warga di perbatasan RI-RDTL melakukan pemberontakan dan bergabung dengan saudara-saudarinya di Timor Leste. Sebab, mereka hidup dalam keterbatasan tanpa perhatian serius dari pemerintah Indonesia melalui Pemerintah daerah.
Ironis memang. Ketika mereka memilih bergabung dengan Indonesia, mala sengsara yang yang mereka dapat. Betapa tidak, air bercampur kotoran hewan menjadi konsumsi saban hari warga perbatasan.
Penderitaan masyarakat di Desa Silawan tepatnya di Dusun Halimuti, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, Propinsi Nusa Tenggara Timur.
Desa Silawan dan Dusun Halimuti merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan negara Republik Demokratik Timor Leste, tetapi Pemerintah belum memberikan yang terbaik buat masyarakatnya sendiri.
Kenyataan bahwa masyarakat Dusun Halimuti ingin mempertahankan hidup harus terpaksa meminum air kali yang berada di garis perbatasan yang telah terkontaminasi dengan kotoran hewan. Sungguh suatu peristiwa yang tidak manusia.
Sili dan Sipri Mau warga Dusun Halimuti, Desa Silawan yang ditemui di rumahnya, Rabu 9 April 2014 sehabis mencoblos Pileg mengutarakan kepahitannya sebagai warga perbatasan dengan mimik kesedihan.
“Sudah bertahun-tahun kami meminum air kali yang kotor karena terkontaminasi kotoran hewan. Kami mandi, cuci dan masak pun pakai air kali tersebut. Air bersih tidak ada. Dengan terpaksa kami harus pakai air tersebut. Kami macamnya bukan warga Indonesia saja dan dibiarkan terlantar kayak begini,” sitirnya dengan linangan air mata.
Ditanya, apakah selama ini ada perhatian dari Pemerintah setempat?
Dengan kepolosan dan kejujuran, pasangan suami istri ini mengatakan, “tidak ada perhatian dari Pemerintah setempat,” ucapnya lagi. (felixianusali)
