suluhnusa.com_Kongres Bahasa Indonesia X yang mengambil tema Penguatan Bahasa Indonesia di Dunia Internasional, memberikan masukan beragam bagi para peserta yang terdiri dari dosen, guru, pemerhati sastra, penulis, penyair dll. Kongres yang berlangsung sejak 28-31 Oktober 2013 dan berlangsung di Hotel Sahid, Jakarta itu, diikuti hampir 1.500 peserta dari 33 provinsi di Indonesia.
Pada acara tersebut berhasil disusun beragam makalah yang ditulis oleh para ahli bahasa, doktor, profesor, hingga guru. Misalnya Profesor T.Silvana Sinar, M.A, Ph.D dari universitas Sumatera Utara, melalui makalah yang berjudul Transformasi Pantun Melayu Membawa Sastra Indonesia ke Persada Global Sebagai Upaya Mewujudkan Pembangunan Karakter Bangsa, menjelaskan bahwa gelombang tsunami teknologi informasi dan komunikasi membuat generasi muda hidup dalam dunia teknologi informasi modern, menyebabkan mereka begitu cepat dan lihai dalam mengikuti teknologi tersebut dibanding generasi tua.
Dan sayangnya penguasaan teknologi itu tidak diikuti dengan mendalami apakah fungsi dan manfaatnya. Dengan penguasaan teknologi, generasi muda seakan sudah tercerabut dari yang namanya ‘budi pekerti’, hilangnya karakter ketimuran dan tipisnya rasa kebangsaan. Ada multikrisis yang melanda anak bangsa, antara lain dengan meningkatnya pergaulan bebas, maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja, kejahatan terhadap teman, pornografi, pencurian remaja, kebiasaan menyontek, penyalahgunaan obat-obatan, perusakan dll, semuanya sudah menjadi masalah sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi dengan tuntas.
Makalah lainnya menuliskan tentang manuskrip Indonesia Sebagai Pustaka Dunia, makalah ini ditulis oleh Doktor Mu’jizah dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Ia memaparkan bahwa sebelum Gutenberg menemukan mesin cetak pada abad ke-18, berbagai sumber menjelaskan bahwa sumber informasi dan pengetahuan yang menjadi peradaban suatu bangsa diabadikan dalam naskah tulisan tangan yang disebut manuskrip. Manuskrip sangat penting sebab di dalamnya tersimpan kekayaan informasi dan pengetahuan yang berlimpah, seperti agama, hukum, adat-istiadat, astrologi, pengobatan, sastra, arsitektur hingga sejarah.
Manuskrip dari Indonesia tersebar di sekitar 30 negara, dengan penyebarannya yang begitu luas, dapat dikatakan kalau Indonesia sejak masa lalu telah menarik perhatian dunia dan hasil pemikirannya dalam manuskrip telah menjadi pustaka dunia, pustaka atau kitab yang diapresiasi dunia. Manuskrip yang berasal dari Indonesia menggunakan alat tulis seperti lontar, kulit kayu, bambu, kain dan kertas tradisional yang disebut dluwang oleh orang Jawa dan Sunda. Alat tulis ini bersifat kurang lestari, jika tidak dipelihara dengan baik akan rusak.
Manuskrip merupakan tradisi tulis yang hidup dan berkembang di kraton atau istana, pada masa lalu ditulis oleh para pujangga atau juru tulis kerajaan, sementara masyarakat di luar kerajaan lebih banyak berkreasi dengan sastra lisan.
Pemakalah dari Bali yaitu Ida Bagus Putrayasa dari Universitas Pendidikan Ganesha dalam tulisannya mengungkapkan sastra sebagai media pendidikan nilai/karakter bangsa menyimpulkan bahwa materi sastra yang digunakan dalam pembelajaran apresiasi sastra sudah mengandung pendidikan nilai/karakter bangsa. Bertolak dari kesimpulan tersebut, disarankan kepada guru pengajar bahasa dan sastra Indonesia agar dalam pembelajaran selalu menanamkan pendidikan nilai/karakter bangsa demi mempererat tali persaudaraan, dan dalam lingkup yang lebih luas memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Sedangkan Drs. Indra Jaya Nauman, M.Pd dengan judul makalah Puisi Sebagai Media Pendidikan Berbasis Lingkungan Hidup, dalam kongres ini mengetengahkan bahwa mengapa karya sastra berupa puisi sangat baik digunakan sebagai media pendidikan termasuk pendidikan berbasis lingkungan (green education), alasannya karena puisi merupakan refleksi masyarakat, memiliki pilihan kata khusus, dan berkaitan dengan sentuhan perasaan.
Puisi merupakan sintesis dari realitas objektif dengan realitas imajinatif, realitas objektif adalah kenyataan berupa peristiwa, fenomena dalam kehidupan nyata. Realitas objektif itu menjadi sumber inspirasi bagi seorang penyair untuk mencipta puisi. Realitas objektif itu diolah dengan imajinasi penyair, maka lahirlah puisi sebagai sebuah realitas imajinatif. Puisi juga merupakan produk budaya, sebagai suatu produk budaya, puisi tidak dapat melepaskan diri dari persoalan-persoalan kemanusiaan yang terdapat dalam suatu masyarakat.
Penutur Terbesar dan Lemah di Fiksi
Masih banyak tema lain yang diketengahkan dalam makalah di kongres tersebut, dalam kesempatan yang sama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan H. Muhammad Nuh menjelaskan bahwa tema yang diangkat dalam lomba Kongres Bahasa Indonesia X sekarang ini adalah memperkuat Bahasa Indonesia dalam rangka mempersiapkan percaturan nasional maupun internasional. Ada tiga alasan mengapa kita harus memperkuat Bahasa Indonesia, pertama adanya segitiga antara bangsa, negara dan bahasa yang tidak bisa dipisahkan, itu satu kesatuan. Jika kita ingin memperkuat bangsa secara keseluruhan maka yang tidak boleh dilupakan adalah bahasa, yaitu Bahasa Indonesia.
Ternyata kita tidak sadar bahwa Bahasa Indonesia ini, bahasa yang digunakan oleh penutur terbesar di dunia. Jadi kalau di seluruh dunia itu ada 7,2 milyar paling tidak kita no 4 dari itu semua. Lalu bagaimana caranya untuk memperkuat bahasa Indonesia? Pertama tentu intern Indonesia sendiri harus kuat bahasa Indonesianya, kuat dalam arti kecintaan terhadap Bahasa Indonesia. Kita dorong itu, dan di dalam Ujian Nasional, bahasa Indonesia juga menjadi bagian dari introspeksi pendidikan di Indonesia sebab ternyata dari sisi bahasa, anak-anak kita baik yang IPA maupun yang IPS untuk SMA, SMK, maupun MA, Bahasa Indonesia menjadi nomor dua, yang paling bagus bahasa Inggris, jadi ini ironis, kalah dengan bahasa asing, itu realitasnya. Dan itu sebabnya, Bahasa Indonesia harus kita perkuat, caranya guru-guru bahasa Indonesia yang secara sistemis terus-menerus dekat dengan siswa, harus memompa para siswa untuk mencintai Bahasa Indonesia.
Jika siswa-siswa itu diajari Bahasa Indonesia yang baik dan benar maka nantinya mereka bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar pula. Kita berikan ruang yang leluasa bagi para guru-guru, bagi para pecinta bahasa Indonesia untuk mengekspresikan bagaimana memperkuat bahasa Indonesia itu.
“Ruang tadi bisa berupa penelitian-penelitian yang terkait dengan kebahasaan, ruang-ruang ekspresi seperti menggagas struktur fiksi yang di dalamnya ada puisi, cerpen dsbnya. Itu yang lemah pada diri kita. Sehingga dari situlah nanti diciptakan peluang itu. Direktorat Jenderal Kebudayaan dan Pusat Bahasa harus bersama-sama memperbanyak peluang-peluang ekspresi, mulai dari penampilan puisi, drama, teater dst, itu yang harus kita perkuat.” Ujar menteri.
“Yang juga tidak kalah penting adalah bekerjasama dengan lembaga-lembaga bahasa dunia, contohnya British Council, CCF, Goethe Institut, lembaga-lembaga ini sudah punya pengalaman panjang dan kita dengan mereka saling melengkapi, kalau kita sekarang beramai-ramai belajar bahasa asing, maka kita tidak boleh hanya sekedar itu, tapi kita juga berharap orang-orang itu belajar bahasa Indonesia. Supaya tidak ada defisit, kita belajar bahasa asing sangat banyak tapi orang asing yang belajar bahasa Indonesia sedikit.” Pungkasnya.
Kongres yang berakhir dengan pemberian sertifikat kepada para peserta ini, dimeriahkan oleh pertunjukkan Balipuisi Musik dengan vokalis Tan Lioe Ie, taria-tarian dan musik etnik dengan nuansa magis persembahan Ully Sigar Rusadi dan rekan-rekannya. (Fanny J. Poyk)
