Guru Guru Pekerja Keras Itu Ada di SDN I Lamahala

Home » Berita » Catatan » Guru Guru Pekerja Keras Itu Ada di SDN I Lamahala

SULUH NUSA, ADONARA – Akibat sering membawakan materi untuk guru-guru di sekolah lain, utamanya tingkat SMP dan SMA, akhirnya membentuk anggapan di kepala saya, bahwa guru-guru pasti sudah menguasai teknologi dan komunikasi.

 

Paling tidak, mahir mengoperasikan segala fitur yang ada pada HP android dan laptop.

 

Ternyata saya salah. Tidak semua guru memiliki kemampuan demikian. Perihal ini saya temukan di tempat Workshop Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) saya selama 3 hari kemarin di SDN 1 Lamahala.

 

Sebagian guru, utamanya guru tua, belum menguasai teknologi, sedangkan sebagian lainnya, utamanya guru muda, sudah mahir mengoperasikan HP android dan laptop.

 

Perihal ini muncul pertama ketika saya meminta peserta untuk mengoperasikan Platform Merdeka Mengajar (PMM). Ternyata, sebagian besar guru belum memiliki perangkat ini. Lalu, kami bersama-sama mengunduh aplikasi ini. Persoalan belum habis di situ. Mengoperasikan perangkat ini juga belum banyak yang mahir. Sekilas, saya menyampaikan materi penggunaan aplikasi ini.

 

Lanjut, kami mengunduh Capaian Pembelajaran sebagai modal awal untuk membuat seluruh perangkat pembelajaran. Beberapa guru muda saya mintakan sebagai tutor sebaya untuk menuntun beberapa guru tua yang belum mahir dalam mengunduh CP ini. Alhasil, CP semua guru sudah terunduh. Persoalan belum selesai.

 

Saya meminta seluruh peserta untuk membuat tabel turunan CP menjadi kompetensi dan konten pada word. Peserta mulai membuka laptop masing-masing. Di titik inilah kesulitan besar itu mulai menghampiri kami. Sebagian peserta yang mahir, cepat membuat tabel ini. Sedangkan, sebagian yang belum mahir, lamban mengerjakan ini.

 

Saya sempat stres. Karena pekerjaan ini menyita waktu cukup banyak. Saya bahkan pesimis, apakah kegiatan ini dapat berjalan lancar sesuai target 3 hari selesai dan menghasilkan produk berupa perangkat pembelajaran?

 

Saya berusaha untuk menuntun dari meja ke meja. Ternyata saya tercengang. Bagaimana tidak, sebagian mereka memang gagap teknologi, tetapi kemampuan mereka dalam memahami materi dan menjalankan instruksi sesuai materi tersebut luar biasa.

 

Melalui catatan-catatan yang mereka buat sendiri di buku, mereka menuliskan langkah-langkah penurunan CP menjadi kompetensi dan konten. Tidak hanya secara teoritis, tetapi juga secara praktis. Hampir semua yang saya bahasakan secara verbal, ternyata ditulis lengkap dalam buku catatan mereka.

 

Hal yang lebih mencengangkan lagi, karena menyadari tidak mahir laptop, mereka mengambil inisiatif untuk membuat ATP dengan tulisan tangan, lalu meminta rekan sejawatnya yang mampu IT untuk membantu mengetik ke dalam bentuk word seperti biasanya.

 

Sampai di titik ini, diam-diam saya kagum dan bangga luar biasa. Mereka sungguh cerdas dan bertanggung jawab atas tugas yang diberikan narasumber. Solusi dari persoalan yang mereka hadapi secara pribadi itu, mampu diselesaikan secara kolaborasi.

 

Hari kedua, saya mulai menuntun peserta untuk membuat Modul Ajar. Lagi-lagi, saya dibikin takjub. Seperti kemarin, peserta yang belum mahir laptop, menuliskan Modul Ajar dalam bentuk tulisan tangan lalu meminta peserta yang mahir untuk mengetiknya pada laptop. Sungguh, ini luar biasa. Kemarin, saya sempat stres dan pesimis, kalau peserta tidak mahir IT, bagaimana mungkin pekerjaan ini bisa selesai dalam 3 hari? Hari berikutnya, saya dibikin takjub. Alhasil, Modul Ajar pun dapat tersusun dengan baik.

 

Hari ketiga, di awal hari, saya menyampaikan materi asesmen. Dilanjutkan dengan pembuatan bahan ajar video, bahan ajar hand out, bahan ajar poster, LKPD, asesmen diagnostik, asesmen formatif, dan asesmen sumatif yang meliputi asesmen pengetahuan, sikap spiritual dan sikap sosial, serta keterampilan. Kami lalu bersama-sama menggodok seluruh perangkat ini untuk persiapan peer teaching.

 

Kami memilih 3 peserta sebagai praktikan peer teaching. Ada Ibu Hapsa yang cerdas, gigih, cekatan, dan tidak cepat puas dengan hal yang masih dirasakan kurang olehnya. Ada Ibu Rahmi yang kalem, tanggung jawab, dan tepa seliro. Ada juga Pak Burhan yang atraktif, energik, kreatif, dan visioner. Ketiga guru muda ini, terpilih sebagai praktikan. Sementara, guru-guru lainnya terlibat penuh dalam menyiapkan seluruh perangkat pembelajaran yang dibutuhkan oleh praktikannya.

Mereka dibagi ke dalam 3 kelompok. Kelompok 1 Ibu Hapsa beranggotakan Ibu Marwah, Pak Arifin, dan Pak Mahmud. Kelompok 2 Ibu Rahmi beranggotakan Ibu Wahyu, Ibu Ruwaidah, dan Pak Kadri. Sementara Kelompok 3 Pak Burhan beranggotakan Pak Ardi, Pak Bujang, dan Ibu Dede.

 

Saya sempat meninggalkan ruangan ini karena sedang mendampingi Calon Guru Penggerak Angkatan 6 dalam mengikuti Lokakarya Orientasi. Kendatipun saya tinggalkan, sesekali saya kembali untuk mendampingi kelompok demi kelompok. Di sini saya temukan bahwa guru-guru di SDN 1 Lamahala benar-benar merupakan guru yang pekerja keras, tanggung jawab, cerdas, dan kolaboratif. Mereka berkerja secara sungguh-sungguh dalam kelompok masing-masing untuk mempersiapkan bahan peer teaching. Saya kagum luar biasa, sebab semua terlibat aktif.

 

Usai makan siang, para praktikan memulai praktik mengajar. Sungguh luar biasa. Dari cara mengajar dan bahan yang disiapkan, tampak guru-guru di sekolah ini begitu kreatif. Mereka mengajar sesuai dengan arahan saya dengan konsep Merdeka Belajar. Mereka benar-benar mengikuti semua langkah yang kami peroleh selama workshop. Sepanjang peer teaching, saya berdecak kagum atas penampilan 3 praktikan ini. Memang, mereka sudah memiliki kompetensi awal yang mumpuni, dan ketika dituntun dengan baik ke arah pembelajaran yang memerdekakan, mereka tampak antusias dan berhasil sesuai target.

 

Di akhir workshop, kami mengikuti ucara penutupan. Salah satu sesi yang tidak kalah penting yakni penandatanganan dokumen hasil workshop oleh kepala sekolah didampingi oleh Pengawas Pembina dan narasumber. Tampak, Kepala SDN 1 Lamahala, terharu dan bangga atas pencapaian guru-gurunya. Dalam sambutannya, beliau juga sempat menitikkan air mata bangga atas pencapaian ini.

 

Sementara itu, Pengawas Pembina, Bapak Wahid Mansyur, menyampaikan apresiasi atas workshop hari ini. Bahkan target yang dikehendaki yakni bisa menghasilkan produk berupa perangkat pembelajaran plus praktik mengajar sesuai pembelajaran yang memerdekakan, dapat dijalankan dengan baik. Pengawas bahkan menghendaki agar sekolah-sekolah binaannya, mesti menggelar workshop IKM seperti ini agar dapat menerapkan Kurikulum Merdeka secara baik.

 

Di akhir kegiatan, wajah-wajah sumringah, penuh percaya diri, dan bangga terpancar dari para guru peserta Workshop IKM di SDN 1 Lamahala ini. Sebagai narasumber, saya terharu atas pencapaian ini. Stres dan pesimis saya di awal workshop, terbayar tuntas dengan penampilan peer teaching yang apik dan terdokumentasinya perangkat pembelajaran. Semoga, ini menjadi langkah awal dalam mendorong sekolah ini menjadi sekolah model IKM di Kabupaten Flores Timur.

+++pionratuloly

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *