Mengukur Tendangan Politik Yance Sunur (Sebuah catatan ringan pilkada Lembata)

suluhnusa.com-Suksei pemilihan kepala daerah di Kabupaten Lembata semakin menarik saja rasanya. Awalnya para politisi yang ingin bermain di pentas politik Lembata, saling menunggu. Pun demikian dengan partai politik. Malu malu kucing. Saling menunggu. Saling mengintip.

Keadaan berubah drastis. PDIP yang awalnya digadang gadang akan berhasil membangun koalisi bersama Golkar terpental. Injury time, Yance Sunur mampu merebut bola politik dari kaki Ibrahim Agustinus Medah dan Frans Lebu Raya.

Publik Lembata tercengang. Bingung juga heran. Bahkan masyarakat awam dibuat berhenti sejenak untuk menonton kelihaian Yance Sunur menjatuhkan lawan tepat saat bola itu nyaris keluar garis disudut lapangan.

Harus diakui Yance Sunur sungguh piawai memainkan bola liar. Seliar apapun bola politik itu, Sunur mampu menjinakan di bawah kendali telapak kakinya.

Dengan hitungan matang dan mengukur kemampuan, Sunur membuang bola jauh ke sudut tiang gawang. Hasilnya Gol. Gawang partai Golkar dijebol Sunur sekali tendang.

Luar biasa memang. Frans Lebu Raya dan Ibrahim Agustinus Meda yang digadang gadang sebagai bek pertahanan mengawal Gawang Golkar tidak mampu membendung lengkungan bola politik yang disepak Sunur.

Bola itu melengkung indah melewati kepala kedua pemain politik kawakan ini. Medah tercengang. Lebu Raya terperanga. Mungkin terlalu indah lengkungan bola sepakan Sunur itu.

Dan apa yang terjadi selanjutnya. Viktor Mado Watun-Muhamad Nasir yang sudah siaga dibawah mistar gawangpun ternyata tidak mampu menggapai bola itu. Sekalipun mereka menggunakan jurus Kucing Menerkam Mangsa. Sia sia Viktori membuang badan untuk menangkap bola itu. Tak terjangkau. Tangan tak sampai. Badan kotor sia sia, pakaian berdebu percuma saja.

Oh go ama e…
Gol sudah tercipta. Gawang jebol. Medah lemas. Lebu Raya lunglai.Viktori pun jadi loyo. Sementara Sunur ?Dia berpesta dolo dengan syair lagu ciptaannya sendiri eson Dai e-eson dai e ama eson dai e…mala wurin gere ama eson dai e.

Dendang ini secara implisit mengajak semua pendukung SUNDAY untuk duduk dan berdiri lebih rapat lagi. Mengajak simpatisan SUNDAY yang sudah dekat agat lebih rapat lagi, yang masih jauh datang lebih dekat lagu. Sendengkan telinga, dan dengarkan dendang sukacita ini.

Sebab, Sunur baru saja menjebol Gawang Golkar dan mendapatkan piagam penghargaan selembar surat sakti nan suci. Surat Keputusan Dewan Pimpinan Partai Golkar.

Boh go sayang e…
Strategi merebut partai pendukung berkisah Happy Ending SUNDAY. Sementara Viktori berending kejepit. Inilah pentas politik. Gelanggang penuh intrik, salah melangkah disudut sempit, hasilnya pasti kejepit.

Setelah porakporanda pertahanan, apakah Medah akan mendukung Sunur ?jawabannya sederhana. Sudah tentu memberikan dukungan. Klasik saja alasannya, perintah partai. Medah sebagai Kader Golkar tunduk patuh manut nurut laksanakan perintah partai.

Lalu Lebu Raya dan Viktor Mado Watun ?Naif, rasanya kalau Lebu Raya dan Viktor Mado Watun, para politisi kawakan itu rela mati digelanggang politik tanpa daya, tanpa upaya. Itu tidak mungkin.

Sebab, Lebu Raya dan Viktor Mado Watun adalah politisi aktivis. Mereka tau cara membuka jaritan tali yang menjerat lehernya. Tentu mereka tidak ingin mati lemas kehabisan oksigen politik dipanggung politik. Oleh karena politik sudah seperti napas bagi mereka, sudah menjadi darah dan menyatu pada daging dan tulang para kakanda politik itu.

Kalkulasi dukungan partai politik, nyaris PDIP hanya bergantung nasib pada belaskasih PKB. Pasalnya Golkar sudah menutup pintu bagi Viktori. Sementara PAN lebih memilih WINNERS. Posisi tawar PKB menjadi sangat dibutuhkan. Selentingan kabar beredar bahwa dahulu sebelum pilkada ramai dibicarakan PAN PKB bersepakat membangun satu kekuatan baru. Toh kedua partai ini sudah memenuhi kuota syarat usung paket sendiri.

Bila tawaran PAN untuk Viktor agar jaket biru PAN dikenakan, tidak ditolak Viktor maka saat ini PDI, sudah tentu aman aman saja. Buntut PKB menarik dukungan hingga Koalisi PDIP-PAN-PKB gagal deklarasi.

Klaim Viktor Mado Watun bahwa dirinya sudah mendapat dukungan PKB juga ternyata hanyalah isapan jempol belaka. PKB belum memberikan dukungan.

Ah, bola politik PKB semakin liar. Semakin panas, semakin ganas. Semakin liar, semakin seru.

Liar dan seru, panas semakin beringas. Pintu PKB menjadi penentu nasib PDIP. Bila Yance berhasil merebut PKB, PDIP hanya bisa menepuk angin sebelah tangan. Dan nasib Viktori terbunuh lemas di pinggir gelanggang sebelum Piter Payong sang Ketua KPUD Lembata meniup peluit panjang Kick off Pilkada Lembata 2017.

Ini hanya sekedar catatan ringan dari saya. Meminjam istilah TITEN. Catatan ringan ini sebagai bagian dari panggilan kebote. Sekedar usul kata, saran kalimat. Saling mengingatkan bahwa gelanggang politik sungguh tak mengenal fair play. ***

Sandro Balawangak
Pemred suluhnusa.com
Redaktur SUKSESINEWS.COM (jpnn)
Wartawan balinewsnetwork.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *