maaf
sudah lama aku tak memalingkan wajah ke arahmu
pelatarannmu sepi
daun kering berserakan tak terjamah
menangiskah engkau ?
saat aku tak bersamamu
bahkan menoleh kearahmupun tidak
maaf
aku begitu sibuk
mencabuti pecahan pecahan kaca yang mehujam kakiku
lalu menghapus air mataku
yang mengalahkan derasnya sungai nil
maaf
aku meninggalkanmu dengan daun daun kering yang berguguran
dengan kemarau dan angin yang sepanas bara api
bahkan pada musim penghujan yang sedingin badai
maaf
kutinggalkan engkau dengan cinta yang tercerai berai
berdarah darah dalam kesunyian
memaki kelana yang singgah tak sengaja
mengumpat musafir yang muncul dengan penuh dahaga
bahkan memalingkan muka pada bidadari surga
maaf
aku pernah meninggalkamu …. dulu