Angin mengulas cerita patah-patah pada malam menjemput puncak
Separuh jiwa menangkap hempasannya dan bertukar tapak terakhir sebelum kembang menutup kepala dan lingkaran kuning keabadian
Walau napak tilas mengering tak berarti punah karena secarik lembaran merah terselip di antara bangku taman dan taburan rasa sempat menggunung ditepian waktu, adalah sejarah
karena ada-mu baginya adalah kekal, seperti nasar terucap
Benamkan saja sampai tak ada lagi rindu menyelinap sebagai bunga malam
Biarkan redup dan menghilang bukti hanya satu bukan lagi dua
Dan bentangkan layar-layar menuju tasik dengan tatap yang sama
Adamu adalah baginya…
Bagimu adalah adanya…
Sejati
(Lewoleba, November 2013)