suluhnusa.com_Buku mengenang Mahatma Gandhi untuk kedua kali diluncurkan, setelah 2 Oktober 2013 lalu di Jakarta. Dan kedua di Bali. Saat peluncuran buku mengenang Mahatma Gandhi itu, terlihat foto Gandhi dengan topi Capil petani Bali. Dan Gubernur Bali, Made Mangku Pastika pun memandang lekat-lekat penuh kagum.
Ada kejadian menarik dalam acara peluncuran itu. Gubernur sempat melihat salah satu foto Gandhi dalam pameran foto yang mengenakan “capil”, topi petani di Bali. Gubernur lantas menjelaskan kepada Duta Besar bahwa dia sering mengenakan topi itu ketika bertugas mengunjungi desa-desa di Bali.
Gubernur lantas memperlihatkan foto-fotonya dan memberikan kenang-kenangan berupa ‘capil’ kepada Dubes India dan pengarang buku, Pascal Alan Nazareth; Dubes India, dan Konjen India di Bali, Amarjeet Singh Takhi. Hadir pula Konjen Jepang di Bali, Kazuo Shibata, para sulinggih, budayawan dan komunitas India di Bali. Saat peluncuran buku Memorial Mahatma Gandhi berjudul “Keagungan Kepemimpinan Gandhi” yang ditulis oleh Pascal Alan Nazareth yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh DR. I Gede Suartana.
Filosofi Mahatma Gandhi sangat relevan diterapkan di Bali dalam mengelola pembangunan. Ajarannya seperti Ahimsa yang artinya jangan membunuh, Satyagraha yaitu berjuang untuk kebenaran dan Swadesi berarti cintai tanah kelahiran kita, sudah banyak diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat di Bali.
Sebagai pribadi, Gubernur Pastika mengaku dari kecil sangat mengidolakan Mahatma Gandhi beserta ajarannya. Sehingga ketika dapat kesempatan meluncurkan buku tentang Mahatma Gandhi, Pastika begitu antusias mengajak masyarakat terutama kawula muda untuk menerapkan ajaran Gandhi dalam segala aspek kehidupan.
Pastika juga memuji keputusan Gandhi yang meninggalkan kehidupan nyamannya di Afrika Selatan, untuk kembali ke India dan membela bangsanya dari penjajahan Inggris.
“Saya yakin tidak semua orang berani mengambil langkah tersebut, hanya Pahlawan sejati yang mampu,” lanjut Gubernur.
Peluncuran buku ini sebenarnya merupakan kali kedua setelah sebelumnya sudah diluncurkan oleh Wakil Presiden Boediono di Jakarta pada 2 Oktober 2012 di Jakarta.
Pastika memaparkan bahwa konsentrasi Pemerintah Provinsi Bali adalah mengurangi angka kemiskinan di Bali yang masih cukup tinggi. Menurutnya, ajaran Gandhi yaitu Swadeshi menjadi pedomannya untuk mesejahterakan masyarakat dan mencintai tanah leluhurnya.
Momen peluncuran ini juga diharapkan bisa memperkuat tali persaudaraan antara Indonesia khususnya Bali dengan India, karena sebagian besar masyarakat Bali menganut agama Hindu. Sementara Gurjit Singh, Duta Besar India untuk Indonesia, sangat mengapresiasi dan berterima kasih kepada Gubernur Bali atas kehadirannya dalam acara tersebut.
Dia mengatakan bahwa Gandhi merupakan simbol kebanggaan masyarakat India. Dia juga sangat yakin bahwa filosofi Gandhi hingga saat ini masih menjadi inspirasi bagi masyarakat di dunia.
Alasan pemilihan Bali sebagai tempat peluncuran buku yang ke dua ini karena mengingat hubungan baik yang terjalin selama ini dan latar belakang masyarakat keduanya ada kemiripan.
Pada tahun 2006 saat peringatan mengenang 137 tahun Mahatma Gandhi yang diselenggarakan The Gandhi Memorial International School juga menyita perhatian negara-negara sahabat.
Tidak kurang delapan duta besar dari berbagai negara seperti Kroasia, Palestina, Mozambik dan beberapa negara yang saat ini sedang menjunjung tinggi demokrasi, sedangkan dari Indonesia hadir mantan Menteri Pendidikan Nasional Wardiman Djojonegoro.
Selama 7 tahun perjuangannya, Gandhi telah banyak memberikan pelajaran, bahwa perjuangan tidak selamanya harus dilakukan dengan kekerasan, tapi dengan prinsip kerja tanpa kekerasan dan pertumpahan darah.
Dalam menjalankan pekerjaan Gandhi selalu mengedepankan disiplin dan tidak bersifat otoriter, sehingga ia berhasil membawa India ke arah kemajuan, tentunya dengan menerapkan cinta produk dalam negeri.
Gandhi memang memagang peranan penting bagi India. Bapak Nasional India ini berjuang demi kemerdekaan tanpa kekerasan. Beliau melakukan protes dalam perjuangannya, yang merupakan salah satu kekuatan pada waktu itu. Dan tanpa menumpahkan darah setetespun, dia berhasil “mengusir” penjajah keluar dari India.
Berkat metodenya tersebut, banyak revolusioner di berbagai dunia yang mengadopsi cara berjuangnya. Kini protes merupakan hal yang biasa dilakukan, untuk mengungkapkan sesuatu ketidakadilan. Dan filosofi kebenaran tanpa kekerasan menjadi acuannya, untuk meyakinkan kekuasan guna menghargai ketidakadilan tersebut.
Mahatma Gandhi memang terlahir di India, tapi perjuangannya patut dicoba di mana pun. Dan tanggal 2 Oktober merupakan hari yang spesial untuk mengenang dan mengingat perjuangannya tersebut. (sandro wangak)
