Cukup Engkau Cium Hidungku

suluhnusa.com_Kolorai Hawu (Pucuk Muda dari Pulau Sabu) Sabu-Hawu, ibarat bunga sedap malam akan tetap mekar, aromanya tak mampu mengusik lamunan ibarat gadis kecil berdendang tak mengerti apa yang terjadi, b’ole jaru Hawu ya ee-jangan berduka,meratap pulau sabu yang kecil), era De’o mone tao-sebab ada Allah yg menciptakan.

Inilah orang Sabu. Dimanapun mereka berada selalu bangga dengan Identitasnya sebagai orang Rai Hawu. Sabu, sebuah pulau kecil dengan luas 460,87 yang saat ini sudah menjadi kabupaten. Kebanggan orang Sabu, juga ditunjukkan oleh orang sabu di Denpasar.

Menyadari akan kondisi pulau yang kecil dengan sumber daya yang tidak memadai, orang Sabu di manapun berada selalu membangkitkan rasa persaudaraan dalam tatanan adat orang sabu lebih dikenal dengan sebutan mari mencium hidung. Kerinduan saling mencium hidung ini, memunculkan rasa untuk saling berkumpul sebagai anak rantau orang Sabu di Pulau Dewata.

Tak pelak, pada tanggal 20 November 1984 di jalan Natuna,Kota Denpasar beberapa sesepuh Rai Hawu duduk melingkar ibarat padoa-Tarian melingkar saling berpegang tangan-berkumpul di kediaman George Imanuel Pilirobo (almarhum), bersama beberap orang Sabu. Misalnya, Y. Djamie, Y. Willa Kore, Y. Riwoe Kore, dan Zakariaz Amwelle SH.

Ada juga, DJ.Bengngu, R.Kiki Soekiman, Drs. Elly Dadja Neru, dan S.A.R Gah membentuk persekutuan suka duka Kolorai Hawu Dikisahkan oleh Daud Wadu Dadi di kediamannya Pulau Moyo, Gang Telkom, kompleks perumahan Telkom nomor 7, Kota Denpasar, bahwa motivasi awal pembentukan Kolorai Hawu karena pada saat itu Ikatan Keluarga Besar NTT tak lagi berjalan. Mandek. Lebih dari itu motivasi sebagai orang sabu yang dikenal kental dengan kesatuan klen yang disebut sebagai Udu (kelompok patrinial) yang mendiami beberapa lokasi tempat tinggal antara lain de Seba, Menia, LiaE, Mesara, Dimu dan Raijua, harus menyatu, dalam satu keluarga besar, tak sekedar bersuka tetapi juga dalam berduka. Saling merasakan suka dalam duka dan duka tak boleh ada.

Dari masing-masing Udu sebagi suatu klen atau sub udu yang disebut Karego inilah menjadikan persekutuan Kolorai Hawu menjadi solid. Sejak tahun itu, 1984 Kolorai Hawu menjewantah menjadi sebuah persekutuan suka duka yang kuat. Bahkan sampai dengan saat ini jumlah Kepala Keluarga Kolorai Hawu berjumlah sekitar 375 kepala keluarga yang tersebar di seluruh Bali.

“Bahkan untuk mengajarkan kemandirian dan juga karena jumlah Kepala Keluarganya sudah banyak maka di Kabupaten Gianyar dan Buleleng dibentuk cabang Kolorai Hawu di bawah naungan pengurus pusat yang beradadi Denpasar,” tutur Opa Daud Wadu Dadi.

Sederhana memang pemikiran para leluhur orang Sabu di Denpasar saat itu, yakni budaya mencium hidung alla orang Sabu tak boleh lekang di hati anak Sabu yang ada di Bali. Dan benar adanya, orang Sabu di Bali masih tetap mempertahankan budaya cium hidung tersebut.

”Apapun itu mencium hidung harus tetap ada sepanjang orang sabu itu masih ada. Termasuk kami yang ada di Bali,” tegas Daud Wadu Dadi, atau bagi orang Sabu di Denpasar biasa dipanggil dengan opa Pulau Moyo tersebut.

Sebagai terjemahan dari keinginan untuk menyatukan diri dalam sebuah wadah atau organisasi modern, persekutuan Suka Duka Kolorai Hawu, mensahkan anggaran dasar dan anggaran rumah tangganya pada Hari Rabu, 23 Januari 1985. Dengan ketua pertama adalah George Imanuel Pilirobo didampingi sekretaris S.A.R Gah.

“Hari dan tanggal inilah dijadikan sebagai hari lahirnya Kolorai Hawu,” ungkap Opa Pulau Moyo. Saat ini, Kolorai Hawu sudah berusia dua puluh tujuh tahun. Pengurus terus berganti, program kerja dilaksanakan.

Bahkan sudah dua kali Kolorai Hawu bersama orang Sabu di seluruh Indonesiia telah melakukan kunjungan ke Pulau Sabu sebagai bentuk dukungan dan cinta akan tanah lelunhur, tanah Hawu, tanah Raijua.

Tak lepas dari itu, sebagai sebuah organisasi atau persekutuan suka duka modern, sudah diatur jelas dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga soal hak dan kewajiban anggota serta hak dan kewajiban pengurus.

Bahkan, ada sebuah keunikan dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga yang mengatur tentang kekayaan organisasi, yakni Bab IV Pasal 7, tentang kekayaan point e menyebutkan kekayaan organisasi didapat juga dari hibah-hibah biasa dan hibah-bhibah wasiat. Soal hibah wasiat ini, ketua Kolorai Hawub periode 1985-1990, George Imanuel Pilirobo menghibahkan sedikit kekayaannya untuk kebesaran organisasi dan juga pembangunan salah sartu gereja di Sabu-Seba.

“Ini wasiat dan kami harus melaksanakan,” tegas Opa Pulau Moyo, mantan Kepala Tata Usaha dan Keuangan Kantor Telkom Cabang Singaraja ini. Disinggung soal keadaan orang Kolorai Hawu, di Bali saat itu Opa Wadu Dadi menuturkan, saat itu, orang sabu yang datang ke Bali karena tugas pekerjaan. Bukan untuk mencari pekerjaan.

Orang Sawu, saat itu banyak yang menjadi pegawai negeri, Anggota ABRI, Polisi dan Hakim. Bahkan salah satu pentolan orang Hawu, yang juga mantan Gubernur NTT, El Tari saat itu menjadi tentara dan menghibahkan tanah tentara untuk membangun gereja Maranatha di Jalan Surapati-Denpasar.

“Gereja itu kita orang timor punya. Baik yang beragama katolik maupun protestan. Karena saat itu gereja hanya satu itu sebelum gereja katolik di Kepundung berdiri. Dan pa El Tari yang memperjuangkan tanah itu untuk kepentingan gereja,” ungkapnya.

Waktu terus berjalan. Roda persekutuan terus bergeliat. Klorai Hawu semakin mantap di jalan cinta persaudaraan. Pengurus berganti, pun demikian anggota, semakin bertambah. Sampai dengan saat ini, pengurus sudah berganti sebanyak empat kali yakni periode pertama dengan ketua G.I. Pilirobo, periode kedua dengan ketua A.B. Radja, SH, periode ketiga dengan ketua Alexander Padji dan saat ini pada periode keempat diketuai oleh Margaretha Pilirobo.

Dalam persekutuan ini juga diajarkan budaya orang Sabu misalnya Tentang pola perkampungan orang Sabu yang tidak bisa terlepas dari pemberian makna pulaunya sendiri atau Rai Hawu. Rai Hawu dibayangkan sebagi suatu makluk hidup yang membujur kepalanya di barat dan ekornya di timur.

Mahara yang letaknya disebelah barat adalah kepala haba dan LiaE di tengah adalah dada dan perut. Sedangkan Dimu di timur merupakan ekor. Sabu juga dibayangkan sebagai perahu, bagian Barat Sawu yaitu Mahara yang berbukit dan berpegunungan, digolongkan sebagai anjungan tanah (duru rai) sedangkan dimu yang lebih datar dan rendah dianggap buritannya ( wui rai).

Bahkan Orang Sabu mengenal hari-hari dalam satu minggu, misalnya hari Senin Lodo Anni), Selasa (Lodo Due), Rabu ( Lodo Talhu), Kamis (Lodo Appa), Jumat (Lodo Lammi), Sabtu (Lodo Anna), Minggu (Lodo Pidu).Konsep hari ini (Lodo ne), hari yang akan datng (Lodo de), besok (Barri rai).

Hari-hari tersebut membentuk satu minggu kemudian 4 atau 5 minggu membentuk satu bulan (waru) dan 12 bulan membentuk satu tahun (tou). Berbahgai adat dan budaya orang Sabu senantiasa diajarkan kepada generasi Koorai Hawu di Bali. tak heran bila, bila Kolorai Hawu Uku rai Hawu, bole bello ri di artinya, pucuk penerus pulau Sabu jangan melupakan adat istiadat leluhur.

Sebelum menutup obrolan dengan suluhnusa.com , Opa Pulau Moyo, menyentil satu kalimat dalam bahasa Sabu. “Mira Kaddi” -mari bersama membangun Sabu.  (Sandro Wangak)

 

Pengurus Kolorai Hawu periode pertama :

Penasehat : J. Here Bessie Dj.Bengngu R.Kiki Soekiman

Ketua Umum : Ibu Margaretha Pilirobo

Ketua 1 : Krisman Riwu Kore

Ketua 2 : Hendrik Rade

Sekertaris 1 : Putu Vebi Yuanty

Sekertaris 2 : Lusy Taga

Bendahara1 : Ibu Emy Galla

Bendahara 2 : Ibu Amos Liu

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *