Pria Unik, Tinggal Di Rumah Unik, Dalam Kamar Unik

suluhnusa.com_Di jantung kota jantung Jogja, tepatnya di sebuah gang sempit bernama gang Sembrodo didaerah Wirobrajan, berdirilah sebuah rumah berdinding putih. Sepintas tak ada yang istimewa dari rumah sederhana berlantai dua ini. Tapi didalam rumah inilah tinggal Om Naryo, seorang seniman serba bisa, yang terus berkarya dan berkreasi dengan tetap memegang teguh idealismenya.

Om Naryo, begitu ia biasa dipanggil, telah cukup lama menempati rumah ini. Pemilik nama lengkap Agustinus Sunaryo ini tinggal dirumah ini bersama kedua putranya. Dahulu, ia tinggal berempat, tapi setelah istrinya meninggal sekitar dua tahun yang lalu, Om Naryo kini menempati rumah itu bersama dengan kedua buah hatinya, yang kini telah beranjak dewasa.

Walau terhitung belum terlalu tua untuk menikah lagi, tapi seniman berumur 59 tahun ini menolak untuk menikah lagi. Ia lebih memilih menjalani kehidupan bersama kedua orang anaknya sambil terus berkarya dan berkreasi.

Ketika suluhnusa.com singgah dirumah beliau, rasa kagum langsung muncul. Walau bisa dibilang tidak ada barang mewah yang ada disana, tapi barang-barang yang, menghiasi rumah beliau begitu unik. Siapapun yang bertamu ke rumah beliau, terutama mereka yang baru pertama kali kesana, pasti berdecak kagum tanpa henti.

Sebaris lukisan monokrom hitam-putih layaknya potret, berbaris dengan indahnya di tembok sisi kiri dan kanan di ruang tamu beliau. Sedang belum habis rasa kagum suluhnusa.com akan sederatan lukisan-lukisan bernuansa realis-natural bernuansa hitam-putih ini, lalu disusul dengan rasa terkejut dan nyaris tidak percaya ketika Om Naryo, sang maestro mengatakan bahwa semua lukisan tersebut dibuat dari media langes (sisa pembakaran lampu minyak tanah) dan di lukis diatas karton yang biasa.  

Sejatinya rumah sederhana Om Naryo hanya terdiri dari enam ruangan. Sebuah ruang tamu yang cukup luas yang juga merangkap sebagai ruang kerja bagi om naryo, dua buah kamar, sebuah kamar mandi, sebuah dapur dan sebuah ruangan di lantai dua untuk menjemur dan meletakkan pot-pot bunga.

 

Ada Kepala monyet ditembok

Petualangan suluhnusa.com dimulai di ruang tamu ini. Diruang tamu ini, selain terpajang sederetan lukisan karya beliau, juga ada beberapa barang yang terbilang unik. Pertama adalah sebuah tengkorak kepala sapi yang masih memiliki rambut. Tengkorak kepala sapi ini terlihat masih kokoh. Warna putih tulang serta tanduknya masih kokoh dan kuat. Sedang diatasnya ada sebuah tengkorak kepala kambing dan dua buang “kepala monyet” yang masing-masing ada di sisi kiri dan kanan. 

Keempat benda ini ditata sedemikian rupa sehingga seakan menciptakan harmoni yang selaras dan padu. Semuanya dipajang dengan cara ditempel tepat di bawah tangga dengan menggunakan paku, tali dan selang air.

 Dua buah benda itu, yakni kepala sapi dan kepala kambing memang asli. Sedangkan untuk dua buah kepala monyet yang mengapit keduanya, adalah buah karya dari Om Naryo. Ternyata selain hebat dalam hal melukis, Om Naryo juga piawai dalam hal memahat. Bahan utama kedua kepala monyet itu adalah buah kelapa yang masih ada air kelapa didalamnya. 

Dapat dikatakan Om Naryo hanya memahat bagian luarnya saja tanpa membuka sedikitpun bagian dalam. Teknik pahat seperti ini jelas membutuhkan ketelitian dan kejelian yang luar biasa. Hebatnya, Om Naryo mengaku dapat membuat satu buah kepala monyet seperti itu hanya dalam waktu kuang dari satu jam.

 

Sepeda tua

Diruang tamu itu, selain untuk menerima tamu juga berfungsi untuk tempat Om Naryo bekerja. Ada enam buah mesin jahit buatan Jepang dan Cina disana. Sehari-hari Om Naryo memang berprofesi sebagai seorang penjahit. Hampir setiap hari tidak kurang dari llima orang dating untuk menjahitkan baju ditempat beliau. Ini jugalah yang membuat beliau tidak pernah khawatir akan penghasilan, sehingga tetap setia menolak menjual satupun lukisannya. Menariknya, ia mengakku salah satu lukisannya pernah ia berikan pada seorang kawan dari Jawa Tengah secara cuma-cuma.

Selain mesin jahit dan televisi, tak ada lagi barang elektronik disana. Pada saat-saat tertentu, om Naryo dan atau anak-anaknya memang menyempatkan diri untuk menonton TV, tapi mereka tak pernah merasa harus menghabiskan waktu berlama-lama untuk menonton TV.

Didepan TV berlayar 14 inchi tersebut, ada beberapa sofa dan sebuah meja kecil. Di belakan sofa itu, om Naryo memarkir sebuah skuter pabrikan Piagio berwarna hijau kombinasi putih. Kebetulan ketika suluhnusa.com datang disana, skuter tersebut sedang bermasalah sehingga tidak digunakan.

Sedang dibelakang ruang tamu dan sebelum dapur, beliau gunakan sebagai tempat menaruh empat sepeda tua dan sebuah sepeda balap. Keempat sepeda onthel tua itu adalah buatan Inggris dan Belanda dengan kondisi yang masih asli dan terawat. Kebetulan Om Naryo memang gemar bersepeda.

 

Tidur didalam lemari

Rumah om Naryo memiliki dua buah kamar. Sebuah kamar untuk kedua anaknya terletak dibagian depan, dengan menggunakan sebuah tirai untuk memisahkan kamar tersebut dengan ruang tamu. suluhnusa.com sempat bertanya-tanya diaman kamar tempat Om Naryo tidur. Tetapi kemudian suluhnusa.com sempat terkejut bukan kepalang ketika mengetahui dimana sebenarnya kamar sang seniman ini berada.

Kamar beliau bersebelahan dengan kamar anak-anaknya. Tapi ada satu yang benar-benar tidak bisa dari kamar ini.

Jika orang pada umumnya menggunakan pintu atau tirai sebagai akses masuk sebuah ruangan, tidak begitu halnya dengan Om Naryo.  Ada sebuah lemari dari kayu jati yang berwarna coklat muda yang terletak menempel dengan tembok. Dan ternyata lemari itu adalah akses menuju kamar sang seniman.

Begitu pintu lemari dibuka, maka “muncullah” kamar beliau. Sebuah cara yang benar-benar unik untuk memasuki sebuah kamar. Keterkejutan dan decak kagum akan kreativitas kepada sang seniman tidak berhenti disitu.

 

Galeri seni pribadi dalam kamar

Begitu suluhnusa.com masuk ke kamar beliau, nuansa mistisme jawa yang khas langsung terasa. Di dalam kamar itu, ada sebuah dipan dan kasur tempat Om Naryo tidur. Selain itu, ada sebuah lemari besar berpintu dua dan dua buah lemari kecil, semuanya terlihat “lawas” dan merupakan tempat Om Naryo menyimpan berbagai barang atau koleksinya. Sedang beberapa koleksi lainnya ia pajang didinding atau diatas sebuah papan yang ia ubah sedemikian rupa hingga mirip sebuah meja.

Di dinding kamar tersebut, ada berbagai koleksi keris dari berbagai tempat. Om Naryo ternyata adalah penggemar keris. Menurut Om Naryo, kegemarannya pada keris tidak karna ia seorang penganut sekte atau kepercayaan tertentu. Kegemarannya itu lebih karena ia begitu kagum pada proses pembuatan senjata tradisional khas suku Jawa tersebut. Bagaimana mungkin besi seberat delapan kilogram bisa ditempa dan diubah menjadi hanya beberapa ons saja.

 Koleksi keris Om Naryo yang cukup banyak itu ternayat memiliki cerita dan riwayat masing-masing. Tetapi kesamaan utamanya adalah hampir semua keris tersebut adalah pemberian teman, tetangga atau kolega beliau. Bermula dari kisah seorang kolega beliau yang memiliki sebuah keris dan merasa terus terganggu dengan keberadaan keris tersebut, maka Om Naryo berinisiatif untuk menawarkan diri menyimpan keris tersebut.

Sang pemilik kerispun bersedia, maka berpindahlah keris tersebut kekamar Om Naryo. Seiring berjalannya waktu, makin banyak orang yang menitipkan keris mereka pada belliau. Tetapi sampai saat ini, tak sekalipun beliau merasa terganggu dengan keberadaan keris-keris tersebut. Justru itu semakin membuatnya senang, karena pada dasarnya beliau memang menyukai hal-hal yang unik.

Selain Keris, beliau juga memiliki beberapa koleksi lainnya seperti patung-patung mini, kalung-kalung dan joran. Beliau memiliki cukup banyak joran, yang ia tempelkan juga didinding kamarnya. Joran-joran tersebut memiliki fungsi yang berbeda, tergantung dari jenis ikan yang ingin ditangkap ataupun tempat memancing. Selain bersepeda, ternyata Om Naryo juga hobi memancing.

 

Terus berkarya 

Begitu malam menjelang, Om Naryo pergi untuk melakukan sembayangan atau ibadah dirumah salah seorang tetangganya. Sebagai seorang penganut Khatolik, Om Naryo juga cukup rajin mengikuti ibadah-ibadah kelompok yang dilakukan dilingkungannya. Sebagai seorang seniman beliau ternyata sangat luar biasa.

Tak pernah sekalipun terbersit dalam benak beliau untuk memamerkan karya dan koleksi-koleksinya. Bagi beliau, siapa saja boleh datang dan melihat-lihat itu semua di kediaman beliau. Cukup banyak sebenarnya seniman dan pemerhati seni yang datang. Hampir semuanya kagum dengan karya dan koleksi beliau. Tetapi Om Naryo tetaplah Om Naryo, seorang seniman serba bisa yang tetap rendah hati dan nyaman berkarya dirumahnya, yang juga adalah galeri seni pribadinya. (Guritno Adi Siswoko )

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *