suluhnusa.com_Di beberapa daerah bahkan geng motor sudah sangat meresahkan karena berbagai tindak kejahatan yang rutin mereka lakukan, seperti perampokan, pencurian, penganiayaan hingga pemerkosaan.
Akhir-akhir ini, ulah geng motor di berbagai daerah makin meresahkan saja. Tidak hanya mengganggu ketertiban umum dengan konvoi urakan dan balap liar, ternyata banyak dari gerombolan geng motor ini yang juga melakukan tindak kriminal.
Lantas, bagaimana negara seharusnya bersikap? Apalagi tindak-tanduk geng motor yang meresahkan ini seperti semakin merajalela. Bahkan dari media massa dapat diketahui, selain menimbulkan kerugian materiil, juga sudah ada nyawa yang melayang sia-sia karena ulah beringas para anggota geng motor.
Geng Motor Jenderal Klewang Asal Pekanbaru
Ternyata hampir setiap kota di negeri ini memiliki geng motor lokalnya sendiri. Mulai dari metropolitan Jakarta, hingga kota kecil di Magelang, juga tak luput dari jejak-jejak para bikers liar ini. Walau terbagi-bagi menjadi ratusan kelompok berbeda dan tersebar di seluruh pelosok Indonesia, tapi ada satu benang merah yang bisa digunakan untuk menghubungkan semua geng motor tersebut, perilaku ugal-ugalan nan meresahkan.
Salah satu geng motor yang pernah dianggap sangat meresahkan dan mendapat banyak sorotan adalah geng motor binaan “jenderal” Klewang di Pekanbaru. Tidak tanggung-tanggung berbagai tindak kejahatan yang meresahkan masyarakat sudah pernah mereka lakukan. Terakhir, mereka merampok dan menghancurkan sebuah warnet di daerah pusat kota Pekanbaru.
Jenderal Klewang sendiri dikenal sebagai pemimpin tertinggi dari beberapa geng motor di kota Pekanbaru. Pria yang mukanya sudah reot dan tidak simetris akibat stroke ini membawahi enam geng motor di Pekanbaru dan sekitarnya. Keenamnya adalah PK (Penjahat Kelamin), Atit Abang, ARC, JRC, Street Demon, dan SINCAN (sebuah geng motor yang anggotanya adalah wanita). Keenam geng motor tersebut berada dalam naungan sebuah geng motor besar bernama XTC.
Sepak terjang geng-geng motor binaan jenderal Klewang tersebut dimulai kurang lebih tiga tahun yang lalu. Hanya dalam waktu singkat, jenderal Klewang mampu membangun sebuah kelompok berandal dengan anggota lebih dari 500 orang. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak remaja yang baru duduk di bangku SMP dan SMA. Tidak hanya lelaki, Klewang ternyata juga mampu merekrut banyak pelajar wanita.
Tidak seperti kebanyakan geng motor lain yang tidak memiliki struktur hierarkis yang rapi, geng motor milik Klewang ini mempunyai susunan organisasi yang tertata dan berjenjang. Pemimpin tertinggi tentu saja dipegang oleh Klewang, yang kemudian menggelari dirinya dengan pangkat jenderal. Selanjutnya, di bawahnya ada beberapa ketua yang membawahi beberapa panglima.
Klewang juga menarik iuran dan pajak bagi anggotanya. Kabarnya, setiap hari anggota dari geng motor binaan Klewang ini harus menyetor 50 ribu rupiah. Tidak peduli bagaimana cara mereka mendapatkannya.
Lantas, apa saja kegiatan dari para anggota geng motor Klewang ini. Ternyata tidak jauh-jauh dari mabuk-mabukan, konsumsi narkoba, balap liar, konvoi, dan pesta seks. Sungguh sangat ironis, mengingat kebanyakan anggotanya masih berusia remaja, bahkan banyak pula yang masih duduk di bangku SMP. Para anggota geng motor ini juga sering meresahkan warga, baik melalui aksi-aksi kejahatan maupun konvoi yang sering mengganggu ketertiban umum.
Satu hal lagi yang pantas dicermati. Ada isu yang beredar, bahwa semua anggota perempuan dari geng motor ini harus mau disetubuhi oleh para petinggi geng motor itu, termasuk oleh Klewang, yang notabene sudah berusia setengah abad lebih.
Mengapa Bisa Eksis?
Mengapa kelompok kriminal yang sungguh meresahkan masyarakat ini bisa eksis? Lebih dari itu, mengapa kelompok yang sangat erat dengan dunia kejahatan ini malah mampu menjadi magnet bagi banyak generasi muda?
Dalam memahami fenomena geng motor di Indonesia saat ini, maka perlu sedikit menengok perkembangan generasi awal geng motor di Amerika Serikat. Memang Amerika Serikat bisa dikatakan sebagai tanah air bagi kelahiran geng motor, yang kemudian tumbuh menjadi sebuah fenomena dan tersebar ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia.
Salah satu geng motor tertua dan paling ditakuti di Amerika Serikat (dan mungkin di dunia) adalah Hell’s Angels. Hell’s Angels didirikan pada 17 Maret 1948 di California. Secara resmi mereka memakai nama HAMC (Hell’s Angels Motorcycle Club).
“Tidak seperti geng motor lokal tanah air yang anggotanya biasanya adalah remaja, memakai motor bebek modifikasi serta paling banter memakai tindik dan tato sebagai identitas untuk menakuti masyarakat, anggota Hell’s Angels jauh lebih menakutkan.”
Rata-rata mereka berusia 30 tahun ke atas, dengan badan gempal dan besar, tato yang menyeramkan di beberapa bagian tubuh, memakai rompi (kebanyakan diketahui rompi anti peluru), kacamata hitam mahal dari brand terkenal, sepatu boots, serta kompak menaiki Harley Davidson.
Keganasan Hell’s Angels sudah menjadi legenda di tengah masyarakat Amerika hingga kini. Mayoritas anggota dari HAMC pernah berurusan dengan hukum, mulai dari pembunuhan, penyalahgunaan obat bius hingga perampokan menggunakan senjata api. Pada awal berdirinya, HAMC dimotori oleh para veteran perang dunia II. Itulah latar belakang yang menjadi alasan kuat mereka tidak takut berhadapan dengan hukum, apalagi hanya menghadapi aparat kepolisian.
HAMC kini telah membuka cabang di puluhan negara. HAMC juga sering terlibat perseteruan dengan beberapa geng motor lain seperti The Outlaws, Mongols, Bandidos dan lainnya. Para anggota HAMC rutin melakukan pertemuan tiap tahunnya, mengadakan touring hampir setiap bulan serta berkecimpung dalam bisnis pengamanan swasta.
Ketika sepeda motor mulai mudah didapatkan di Indonesia (sekitar akhir 1970an), maka mulai bermunculan juga klub-klub motor di tanah air. Bandung dan Jakarta menjadi tempat awal bagi perkembangan klub motor tersebut.
Awalnya mereka hanya berfokus pada kegiatan yang lebih bersifat hobi, seperti touring, tukar-menukar spare parts, hingga berkemah. Lambat laun mulai muncul beberapa kelompok anak motor, yang mulai meresahkan. Mereka menggelar balap liar di tengah jalan, memalak warga hingga terlibat perkelahian dengan sesama kelompok motor. Maka sebutan klub motor pun berubah menjadi geng motor.
Menurut catatan Historia.net, geng motor paling lawas adalah Moonraker. Mereka berdiri pada 27 Oktober 1978 di kota Bandung. Pada perjalanannya, Moonraker mulai melakukan berbagai tindak kejahatan yang meresahkan. Ditengarai pada saat itu, banyak anak dari para petinggi militer yang turut bergabung, sehingga membuat aparat menjadi sungkan untuk mengusik.
Di Indonesia, geng motor mengincar anak-anak remaja untuk dijadikan calon anggota. Ini karena pada masa remaja, emosi seseorang masih labil dan mudah dipengaruhi.
Menurut pengakuan salah seorang anggota perempuan dari geng Klewang, ia masuk geng motor tersebut karena ingin merasa ditakuti oleh kawan-kawannya. Ada juga yang masuk geng Klewang karena ingin mencicipi seks bebas dengan sesama anggota, atau ingin memperkosa calon korban. Sedang alasan lain, karena para anggota geng motor tersebut tidak mendapat tempat nyaman di rumah, mengalami tekanan di sekolah serta salah pergaulan. Mereka akhirnya terjerumus dalam dunia kelam di geng motor.
Tiga Doktrin Utama
Sejak 1980, sepeda motor semakin mudah didapatkan masyarakat. Klub motor pun berkembang di Indonesia. Ada yang resmi dan murni ingin mengembangkan wawasan serta hobi di bidang motor, ada pula yang muncul karena ingin merampok tetapi bersembunyi di balik nama klub motor.
Sepanjang tahun 2010-2013, ada ratusan kasus kejahatan yang melibatkan geng motor. Pada tahun 2012, muncul kasus yang sangat menggegerkan publik. Seorang anggota TNI AL yang berusaha menyelamatkan sebuah truk yang akan dibajak kelompok geng motor, malah harus meregang nyawa.
Kematian sang prajurit tersebut ternyata berbuntut panjang. Diduga kecewa dengan tidak becusnya polisi menangkap para pelaku, muncul sekelompok pria berbadan tegap yang menggunakan pita kuning yang melakukan sweeping untuk mencari pelaku pembunuhan sang prajurit.
Dalam aksi sweeping yang bermula dari daerah Kemayoran hingga Salemba itu, dua orang remaja anggota geng motor tewas, sedang puluhan lainnya menderita luka serius, termasuk luka bacok dan tikam. Baru setelah kejadian ini, polisi mulai bergerak untuk menangkap pelaku pembunuhan sang prajurit.
Kasus di Bandung lain lagi. Di kota kembang tersebut, polisi menemukan dokumen milik sebuah geng motor yang cukup kawakan. Dalam dokumen itu, tercantum tiga doktrin utama; lawan polisi, bencilah orang tua dan lakukan kejahatan dengan berani. Polisi juga menemukan adanya sebuah ritual biadab yang diharuskan kepada calon anggota, yakni membayar uang pangkal, berkelahi sampai babak belur, naik motor tanpa memakai helm dan rem, serta meminum darah anjing untuk meningkatkan keberanian.
Ternyata tiga doktrin geng motor Bandung itu, juga menjadi doktrin bagi geng motor lainnya di Indonesia, termasuk geng motor binaan jenderal Klewang alias Marsudi, seorang mantan gali (gabungan anak liar) yang sudah tiga kali masuk bui. Khusus untuk geng Klewang, mereka juga mewajibkan anggotanya untuk melakukan perampokan secara rutin dan berhubungan intim ketika nongkrong.
Kini Klewang, sang jenderal geng motor pengacau masyarakat sudah tertangkap. Tetapi hal ini tidak boleh menjadi akhir bagi upaya pemberantasan geng motor, yang selain meresahkan masyarakat, juga berpotensi menghancurkan generasi muda.
Jangan sampai kejadian yang terjadi pada 2012, ketika sekelompok orang yang menganggap polisi sudah mandul dalam menghadapi geng motor, lalu melakukan aksi main hakim sendiri.
Polisi harus bertindak tegas, dan menunjukkan bahwa gaji yang mereka terima dari negara sepadan dengan kinerja mereka di lapangan, yakni sebagai pengayom masyarakat. Jika tidak, maka jangan salahkan rakyat yang kemudian mencari keadilan dengan caranya sendiri.(Guritno Adi Siswoko)
