Nyanyian Perjalanan

suluhnusa.com_Akhirnya aku sampai di Honolulu. Nginap beberapa lama di kota ini, rasanya di kota ini tidak banyak yang istimewa. Honolulu adalah sebuah kota besar yang bukan bercirikan kota-kota besar di Indonesia.

Aku menggelinding ke sana kemari mencari gadis-gadis Hawai yang konon bagaikan putri-putri khayangan yang turun di tengah-tengah lautan teduh itu, tetapi rasanya hampir tak ada gadis-gadis Hawai itu. Di sebuah supermarket aku bertemu dengan seorang gadis berambut hitam agak panjang dan berkulit cokelat.

Kemudian aku pun berseru dalam hati bahwa dialah gadis Hawai asli, tetapi dia ternyata campuran Filipina dan Jepang. Ketika aku melihat seorang gadis yang serupa dengan gadis Papua, aku kira dialah gadis Hawai asli, tetapi ternyata tidak pula. Gadis itu berambut kribo bagus seperti rambut penyair Indonesia Darmanto YT dan kulitnya lebih gelap sedikit dari penyair kita itu, tetapi tidak, tidak. Dia adalah gadis negro yang ibunya keturunan kulit putih.

Lama-lama berjalan mengelilingi kota Honolulu, aku jadi rindu pada kota-kotaku di Indonesia karena begitu aku berkeliling, siang-siang maupun malam-malam, tidak ada satu pun warung serabutan kaki lima di negeri orang ini. Aku rindu duduk di warung kaki lima, di bawah langit malam, disirami oleh hujan, terkurung di bawah tenda darurat, lalu ngobrol dengan gadis-gadis pelayan dari Solo, Bogor, Sukabumi, Indramayu dan Cirebon.

Aku rindu ngobrol ngalor-ngidul sampai pagi seperti kebiasaan lama di tanah airku, kemudian tidur sampai pukul sebelas pagi, kemudian bangun, makan dan minum, lalu bekerja sebentar, kemudian makan siang, kemudian tidur siang dan bangun pukul setengah empat, lalu bangun, mandi.

Dan setelah makan malam aku keluar lagi menggelinding di bawah langit malam, berada di tengah-tengah mahluk Indonesia underdog tercinta mendengarkan ketawa mereka, celoteh mereka, menukik ke dalam gerongga sedu-sedan para pesinden yang cantik-cantik yang diproduksi oleh daratan utara Jawa Barat.

Beberapa hari berada di Honolulu membuat aku menjadi sangat rindu kepada semua yang kusebutkan di atas.Tetapi aku tidak mungkin kembali ke tanah air begitu saja. Dari Honolulu aku harus meneruskan perjalanan ke Los Angeles. Begitulah, maka dengan tasku yang agak kecil, aku keluar dari sebuah hotel mewah, langsung menuju pelabuhan udara.

Ketika aku sedang menunggu, tiba-tiba seorang gadis Philipina duduk di sampingku. Dengan bahasa Tagalog, ia menegurku. Aku tersenyum padanya, lalu menggeleng sebentar, kemudian berkata dalam Bahasa Inggris bahwa aku bukan orang Philipina, melainkan orang Indonesia.

Dengan bahasa Inggris ia bertanya padaku mengenai tujuan perjalananku. Sudah tentu aku mengatakan padanya bahwa aku akan ke Los Angeles. Mendengar itu, ia minta aku menolong dia menemaninya dalam perjalanan. Alangkah bahagianya aku mendapat seorang sahabat perjalanan, seorang gadis Philipina yang cantik.

“Anda baru pertama kali ini ke Amerika?” tanyaku dalam bahasa Inggris.

“Tidak, sudah dua kali,” katanya.

“Kalau begitu Anda harus menolong saya agar tidak sesat dalam perjalanan. Saya baru pertama kali ini ke Amerika Serikat.”

“Tetapi Saudara tidak akan sesat karena bisa berbahasa Inggris,” katanya.

“Siapa tahu,” kataku.“Anda bekerja di Amerika?” tanyaku.

“Tidak, saya lama belajar di Amerika, kemudian pulang ke Philipina mengadakan penelitian sebentar dan kembali lagi untuk mengambil Ph.D.” katanya. “Dan Anda?” tanya gadis Philipina itu. “Apakah Anda seorang sarjana yang akan belajar di Amerika?”

Aku tersenyum. “Saya penyair yang diundang untuk membaca puisi,” kataku.

“Saya suka puisi, saya suka puisi!” katanya.

“Anda sarjana bahasa?” tanyaku terus.

“Tidak, saya seorang antropolog,” katanya.

“Datanglah ke Indonesia sekali waktu. Indonesia adalah surga bagi para peneliti,” kataku.

“Ya, saya punya famili orang Indonesia. Maksud saya ipar saya orang Indonesia. Nanti saya perkenalkan anda kepada mereka kalau Anda mau. Abang saya kawin dengan seorang wanita Indonesia yang sekarang tinggal di Los Angeles. Oh, keluarga besar mereka itu. Ipar saya punya banyak saudara. Orang tuanya meninggal di Amerika dua tahun yang lalu, tetapi anak-anaknya tidak pernah kesepian. Mereka menjalin kekeluargaan internasional melalui perkawinan,” kata gadis Philipina itu.

“Ngomong-ngomong, siapa nama Nona?” tanyaku.

“Estrella,” katanya.

“Nama saya Suharto,” kataku.

“Ah, Anda presiden Indonesia?” tanyanya ketawa.

“Ah,” kataku ketawa pula. “Di Philipina ada juga orang bernama Jesus, tetapi bukan juru selamat manusia!”

Kami makin akrab.

Duduk di pesawat dalam perjalanan, pada mulanya kami agak terpisah, tetapi kami mencari tempat yang kosong lalu duduk berdua dalam perjalanan yang cukup panjang dari Hawai ke Los Angeles.

“Anda punya isteri?” tanya Estrella.

“Tidak,” jawabku. “Dan Anda?” tanyaku.

“Juga tidak,” jawabnya.

“Kalau begitu, kawinlah dengan saya,” kataku.

“Begitu cepat!” kata Estrella hampir berteriak.

“Ya. Saya paling takut pada kesepian,” kataku.

“Saya belum mengenal Anda,” ujar Estrella.

“Begitu turun pesawat, kita ke psikiater,” kataku.

“Hey, untuk apa?” katanya.

“Supaya Anda dapat mengenal kondisi psikisku, apakah aku normal ataukah sinting,” kataku.

Estrella tertawa dan memuatkan dagunya ke bahuku. “Penyair itu dekat dengan dunia yang dianggap gila. Ada seorang sepupu saya yang seperti Anda. Ngomongnya ceplas-ceplos terus terang. Dia menulis sajak dan cerita pendek. Istri dan anaknya sangat menderita, apalagi ketika ia ditahan karena sebuah cerita pendeknya.”

“Kalau begitu, Anda ngeri pada saya. Pasti Anda menolak lamaran saya,” kataku.

“Bukan begitu sayang,” katanya. “Aku sudah bilang kau senang pada puisi, kan?”

“Tetapi bukan pada penyair.Aku tidak punya apa-apa buatmu, kecuali seluruh negri kepulauanku Indonesia yang indah permai yang sudah direkam dan diolah dalam puisiku. Kau harus datang ke Indonesia untuk mengadakan penelitian. Perkara makanan tidak susah khawatir. Berjuta-juta ton ikan dan berjuta-juta sagu akan kusediakan buat seorang antropolog yang jelita seperti Anda,” kataku.

“Aku tidak perlu semua itu,” katanya.

“Apa yang Anda perlukan?” tanyaku.

“Yang aku perlukan, seorang laki-laki sejati,” jawabnya.

“Lelaki sejati banyak di Indonesia,” kataku. “Kau pernah mendengar seorang sarjana wanita Amerika yang kawin dengan kepala suku di Papua yang masih memakai koteka? Dia lelaki sejati!”

“Bukan, bukan itu yang aku maksudkan, hei lelaki Indonesia yang edan!” katanya menarik-narik lenganku.

Makanan diedarkan oleh pramugari dan kami menikmati makanan perjalanan di atas samudera Pasifik. Sehabis makan, Estrella ngantuk. Tetapi, sebelum ia tidur, ia mengeluarkan sebuah majalah kebudayaan Philipina dan menyodorkannya padaku.

“Bacalah cerita pendek dalam majalah ini. Pengarangnya adalah saudara sepupuku. Aku suka pada sajak-sajaknya, tetapi tidak suka pada cerita pendeknya itu. Seolah-olah aku melihat rupaku sendiri. Tetapi begitulah wajah-wajah wanita Philipina yang kena musibah nasib sial di dunia yang fana ini. Mudah-mudahan wanita demikian itu tidak ada di Indonesia,” katanya.

“Kalaupun ada wanita-wanita Indonesia yang demikian, barangkali memerlukan seorang pengarang cerita fiksi seperti saudara sepupuku,” kata Estrella, lalu ia mengambil selimut dan membungkus badannya dan menutup mata.

Judul cerita pendek itu, “Pahlawan”. Sari cerpen tersebut sebagai berikut.
Malam itu malam Minggu. Tuan Alfonso, direktur perusahaan patungan itu keluar bersama sopirnya berkeliling kota. Mula-mula mobilnya meluncur di jalan raya yang menyusuri pantai, menikmati angin malam yang bertiup dari laut. Keduanya makan malam. Mereka memilih sebuah restoran pantai yang paling indah dan paling enak.Tuan Alfonso memang seorang dermawan. Di samping itu, ia seorang yang dianggap sangat demokratis sekurang-kurangnya bagi sopirnya yang sangat setia itu. Tuan Alfonso sangat dermawan di mata wanita-wanita cantik yang berada dalam kesukaran. Demikian juga bagi Theresa.

“Sehabis makan, kau jemput Theresa, ya!” kata Tuan Alfonso kepada sopirnya.

“Siap, Pak!” kata sang sopir dengan gaya militer.

“Arnaldo!” panggil tuan Alfonso.

“Siap, Pak!” kata sang sopir.

“Bawa Theresa ke villa Gatella Bragandha di Tanjung The Singha.”

“Siap, Pak!”

“Sementara itu, kau telepon Mercy III untuk jemput saya. Kalau sedang dipakai anak saya, telepon Mercy XI saja,” kata tuan Alfonso.
“Siap, Pak.”

Begitu sopir pergi muncul seorang amoy, lalu ia duduk di meja tuan Alfonso. Sang amoy yang juga cantik itu sudah lama menjadi sahabat tuan Alfonso. Malam itu sang amoy mempunyai indera keenam, indera rahasia yang segera mengerti bahwa orang yang paling kaya di Philipina itu tidak membutuhkannya. Karena itu, ia duduk tenang, melayani tuan Alfonso apa adanya, antara lain membersihkan kuku sang hartawan itu. Dan memang, tuan Alfonso tidak memerlukannya, walaupun sang amoy termasuk wanita paling jelita di Philipina. Ia berdarah campuran. Nenek moyangnya adalah bajak laut dari Laut Cina Selatan. Begitu mendarat di kepulauan Philipina, terjadi perkawinan dengan pribumi Melayu Philipina. Kemudian ketika orang Spanyol datang, darah Spanyol bercampur lagi dalam keturunan sang amoy.

Bayangkan, bagaimana tidak cantik dan pandai? Sang amoy memang sangat cantik dan sangat pandai. Ia memasuki kehidupan tuan Alfonso sudah cukup lama, dan sudah mengetahui liku-liku perusahaan patungan itu. Mula-mula ia seorang sekretaris, tetapi setelah ia mendapat anak yang diduga anak tuan Alfonso, ia pun mendapat harta yang lumayan untuk tujuh turunan. Ia sudah membuka dua ratus restoran di seluruh Philipina. Ia sudah membuka real estate, ia sudah mempunyai kapal pesiar. Tetapi tuan Alfonso tidak memakai kapal itu. Buat apa. Biarlah kapal pesiar itu dipakai oleh sang amoy dengan pacarnya.

Arnaldo, sopirnya itu adalah orang yang tahu membalas budi. Setelah bekerja pada tuan Alfonso selama lima tahun sebagai sopir pribadi, sebenarnya ia bisa juga meninggalkan pekerjaan sopir itu. Tetapi ia tidak bodoh. Dengan menjadi sopir pribadi tuan Alfonso, sekali keluar-apalagi di malam Minggu- ia bisa mendapat duit sambil santai minum-minum tanpa mengeluarkan uang sepeser pun. Arnaldo bukan tidak membuka perusahaan sendiri dari modal yang diberikan tuan Alfonso. Arnaldo, sopir yang paling kaya di Philipina ini sudah membuka lima puluh lima panti pijat tradisional yang paling mewah di beberapa kota besar di Philipina. Ia banyak belajar dari majikannya mengenai bisnis yang paling sedikit resikonya.

Menurut tuan Alfonso, majikan Arnaldo, negeri seperti Philipina memproduksi banyak wanita cantik yang jadi sengsara. Begitulah. Arnaldo memungut wanita pelacur kelas rendah di kolong jembatan dan gerbong kereta api, lalu ‘dicucinya’ bersih-bersih dengan karbol, diberinya pakaian bagus, dilatih menjadi tukang pijat tradisional. Etalase-etalase kaca dibuat dari wanita-wanita itu dipajang di sana menunggu langganan-langganan untuk dipijat. Pendapatan Arnaldo lumayan. Istrinya bahagia. Anak-anaknya bisa bersekolah dengan baik.

Wakil-wakil rakyat yang duduk di DPR memang mengkritik pajangan-pajangan wanita di balik kaca itu, tetapi kalau perusahaan panti pijat itu dihapuskan, mau ke manakah wanita-wanita Philipina yang cantik-cantik itu? Kembali ke kolong-kolong jembatan dan gerbong?

Apalagi tuan Alfonso. Tuan Alfonso menjual kayu-kayu dari hutan Philipina. Ia menghasilkan devisa. Ia juga importir besar mesin-mesin gergaji dan traktor-traktor serta alat berat lainnya dari Jepang dan negara-negara industri lainnya di samping importir mobil terbesar. Dan ia tidak bisa dikritik. Atau, kalaupun ada kritik, dengan mudahnya ia membalas kritik itu melalui argumentasi yang ‘tepat’ dan tekanan-tekanan politik. Dan kedudukannya kuat berhubung ia adalah pejuang yang sangat terkenal ketika penumpas pemberontak bersenjata di Philipina Selatan.

Ketika itu pangkatnya naik terus dari kapten, kemudian mayor, kemudian brigjen, kemudian mayjen, kemudian letjen, kemudian jenderal penuh. Begitu ia pensiun, ia membaktikan dirinya kepada negerinya, Philipina tercinta, sebagai seorang pengusaha besar. Tuan Alfonso memang orang yang pandai, bukan saja di bidang kemiliteran, tetapi juga di bidang perdagangan internasional. Dan jangan lupa, ia seorang industrialis. Kemajuan industri di Philipina justru karena tuan Alfonso.

Maka patutlah tuan Alfonso disebut pengusaha yang tahu seni usaha. Ia adalah seniman di bidangnya, bidang usaha. Konon, kata orang, seniman suka sekali dengan keindahan. Karena itu, ia dekat sekali dengan keindahan-dekat sekali dengan wanita-wanita cantik. Dan istri tuan Alfonso mengerti dan mengetahui semua ini. Nyonya Alfonso adalah seorang wanita terpelajar. Ia dapat mengerti keadaan pengusaha Jepang yang dilingkari geisha-geisha, ia tahu tentang harem-harem Arab dari buku-buku, ia mengenal keluwesan dan kepasrahan wanita Jawa, ia membaca majalah Playboy, ia membaca tulisan pujangga yang mengatakan bahwa wanita Perancis layak dijadikan isteri, wanita Cina layak dijadikan babu masak, dan wanita Jepang layak dijadikan pelayan.

Ia tidak menolak kalau suaminya membaca hal itu. yang penting adalah bahwa usaha seorang pengusaha nasional Philipina terus maju.

Malam itu sang amoy menyajikan makanan Cina yang paling enak. Selesai makan, Mercy XI tiba. Sopirnya meluncurkan sedan mahal itu ke villa di tanjung, milik tuan Alfonso.
Para sopir yang dikoordinir oleh Arnaldo, sopir kepercayaannya, mengirim berita ke markas bahwa ‘Baginda Alfonso’ sedang bersama Theresa di villa. Keberadaan Alfonso di suatu tempat perlu diketahui akhir-akhir ini karena keadaan.

Akhir-akhir ini keluarga besar Alfonso sedang mempersiapkan pernikahan putri tuan Alfonso secara besar-besaran menurut tradisi Philipina demi menggalakkan pariwisata. Menurut obrolan para sopir, hadiah dari sang ayah kepada putrinya adalah sebuah kapal pesiar, hadiah dari nyonya Alfonso adalah sebuah Mercy dan sebuah istana mungil di atas sebuah bukit yang tandus, tetapi air dapat dipompa ke atas dari sungai yang letaknya empat puluh kilometer jauhnya. Hitung-hitung seluruh biaya pernikahan sebanyak lima juta dolar-saja! Semuanya demi cinta seorang ayah kepada putrinya yang menikah dengan putra seorang ahli sihir Philipina. Sungguh, seorang ayah tauladan.

Siapakah Theresa? Theresa adalah seorang gadis pelayan pada biara Santa Ursula. Ia gadis desa yang tak mampu bersekolah karena orang tuanya cuma seorang buruh tani dan pemanjat kelapa. Ketika kaki ayahnya patah jatuh dari pohoh kelapa, Theresa menjadi pelayan tukang cuci di biara itu dengan gaji yang sangat kecil. Pada suatu hari ketika ibunya sakit kena malaria dan gaji kakaknya tidak cukup untuk membiayai pengobatan, Theresa melamar kerja pada perusahaan Panti Pijat Tradisional milik Arnaldo.

Mengetahui bahwa anak gadis itu adalah malaikat yang masih perawan maka Arnaldo buru-buru mengabarkan peristiwa itu kepada tuannya, Tuan Alfonso. Kini anak dara itu terapung-apung jiwanya walaupun bergelimang dalam kemewahan villa dan uang. Apa boleh buat. Begitulah nasib seorang anak desa yang cantik.

Pada dini hari, pukul tiga, seluruh villa Gatella Bragandha panik. Rumah sakit dan dokter-dokter terpandai ditelpon. Ambulans berdesing dengan lampu merah yang berkedip-kedip menuju Tanjung The Singha. Mengapa? Tiba-tiba saja anak yang baru berusia enambelas tahun itu mendengar bahwa jantung seorang lelaki tua bangka berusia 62 tahun berhenti berdenyut. Ia berteriak memanggil para pelayan dan anjing-anjing polisi yang mengitari villa itu….

Di Taman Makam Pahlawan Philipina berlangsung upacara pemakaman seorang pahlawan terbesar negeri itu. Seluruh pembesar dan pengusaha serta industrialis terbesar hadir. Apalagi rakyat terutama para karyawan dan buruh. Tetapi, apa yang terjadi? Di antara regu penembak kehormatan, ada seorang prajurit yang rupanya gila. Ketika tembakan penghormatan diaba-abakan, tiba-tiba peti mayat itu ditembak beruntun oleh anak muda itu.

Siapa yang tidak panik?Dan siapakah penembak gila yang menyelusup ke dalam regu penembak itu? Ternyata, anak muda itu adalah saudara lelaki Theresa!

***

Aku membangunkan Estrella dengan mengecupnya. Ia terbangun dan memandang aku. “Sudah sampai?” tanyanya tersenyum.

“Sudah selesai,” kataku, lalu aku memberikan kembali majalah itu. “Aku juga takut ditembak. Gara-gara begitu cepat aku melamarmu dan bercinta dalam perjalanan yang demikian singkat,” kataku.

Dia tersenyum merapatkan badannya dan memuatkan kepalanya ke bahuku, lalu berbisik, “Aku bukan lagi gadis Philipina, aku Estrella, seorang wanita dewasa yang sangat kesepian.”

“Kawinlah dengan ilmu pengetahuan, dan jangan kawin dengan seorang penyair Indonesia yang miskin keparat ini,” kataku.

“Ya, aku belum kawin dengan seorang penyair. Aku hanya bertemu dengan seorang penyair yang mau memberiku puisi dan aku memberi dia nyanyian perjalanan.Setuju?”

“Setuju!” kataku.

Sepasang merpati coklat terbungkus selimut dalam perut jumbo. Di depan kami duduk dua sepasang suami isteri dari Inggris. Sang lelaki meminta, “Kiss me, kiss me.”
Aku mengulang kata-kata itu untuk Estrella.***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *